Podium

Mudik dalam Kosmologi Sunda

MUDIK sekedar prosesi penuh gemuruh, capek di perjalanan, kecelakaan yang makin tenar, dan pamer harta dengan sanak famili.

Mudik dalam Kosmologi Sunda
istimewa
Siti Muyassarotul Hafidzoh, Periset tradisi, lahir di Cirebon

SETIAP menjelang Hari Raya Idulfitri, manusia Indonesia menjalankan ritual kolosal untuk kembali ke kampung halaman, yakni mudik. Hiruk-pikuk manusia dalam tradisi menyembulkan jejak kearifan hidup ihwal asal-muasal kejadian yang melekat dalam dimensi eskatologis kemanusiaan.

Kampung halaman merupakan sepetak tanah awal mula manusia hadir di ruang nyata. Tidak bisa dimungkiri, sepetak tanah yang dihinggapi manusia untuk pertama kalinya merupakan jejak sejarah paling agung dalam mengawali perjalanan hidupnya.

Disitulah manusia mengawali sejarah yang dilalui; sejarah kekalahan atau kemenangan. Kalau manusia selalu teguh dengan keagungan Yang Esa sebagaimana suara azan yang didengarnya waktu hadir di dunia, maka kemenangan akan selalu teriring dalam sejarah perjalanan hidupnya.  

Dalam kosmologi Sunda, petuah yang kerap diajarkan para guru bijak mengabarkan bahwa kampung halaman merupakan saripati kehidupan yang termaktub dalam sejarah hidupnya. Saripati yang melekat dalam nurani manusia harus selalu dibasahi dengan lelaku hidup yang jujur, waskito, dan penuh darma.

Kampung halaman menjadi kampung kehidupan yang menyimpan segudang warisan luhur yang tak ternilai; warisan ihwal kearifan, kesederhanaan, keharmonisan, dan kemuliaan. Warisan agung tak gampang didapatkan di perantauan, karena dunia perantauan kerap membuat manusia begitu bergemuruh dalam kejaran duniawi.   

Ajaran guru bijak dalam kosmologi Sunda membuka mata batin kemanusiaan kita bahwa warisan agung bukan terletak pada kemewahan materi dan keagungan jabatan. Kemewahan materi hanyalah bersifat sangat sementara, dinikmati sesaat saja, dan kerap membuka pintu tengkar dengan sesama saudara.

Demi materi, manusia lalai dengan saudara sendiri, sehingga tega dengan derita yang didera saudara dan tetangga. Demikian juga keagungan jabatan yang membuat manusia lupa daratan. Jabatan hanya sekedar pusaran kuasa yang dinikmati di atas kesengsaraan rakyat jelata, karena meraih jabatan kerap dilakukan dengan politik asal enak saja, tak peduli dengan keadilan dan kejujuran.

Maka dari itu, petuah Sunda menitahkan "balik deui ka samula," bahwa mudik ke kampung halaman merupakan media efektif untuk memetik hikmah di balik asal-muasal kejadian manusia. Tuhan sejatinya memberikan segudang berkah tatkala manusia terlahir di dunia.

Berkah tersebut adalah putihnya jiwa-raga manusia, laiknya kertas putih tak berdebu setitikpun. Kalau kertas putih ini diisi dengan lelaku hidup yang penuh kebajikan, maka manusia akan menebarkan cahaya keagungan yang menerangi saudara sekitar. Pancaran cahaya dalam diri manusia bisa semakin terang-benderang tatkala debu yang mampir terus dibersihkan dengan setulus hatinya.

Sayang sekali, petuah agung yang dikarsakan para leluhur Sunda ini kerap mampir saja dalam kesadaran manusia Sunda. Mudik justru hanya sebatas persinggahan tanpa makna, tanpa sebongkah kesadaran ruhani, tanpa ingatan ihwal kampung kehidupan, dan tanpa keinginan menjemput warisan agung para leluhur.

Halaman
12
Tags
podium
Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved