Podium

Marema Konsumerisme Jelang Lebaran

BELANJA menjadi citra pesona diri. Tak jarang para pemuja belanja ingin menyamakan dirinya dengan artis di televisi.

Marema Konsumerisme Jelang Lebaran
DOKUMENTASI TRIBUNNEWS
illustrasi 

SETAN dalam wujud godaan belanja  itu kerap menggoda. Pada saat menuju minggu terakhir Ramadan -- menjelang lebaran -- nafsu manusia seolah kembali diubek-ubek. Tingkatannya cukup tinggi. Bisa berwujud sihir potongan harga, gebyar iklan, serta tawaran produk yang menggiurkan.

Daya pikat dunia perbelanjaan, tak jarang membobolkan manajemen dapur keuangan rumah tangga. Kaum perempuan, khususnya para ibu, sebagian mulai terguncang imannya.  Pusat perbelanjaan sesak padat. Ajaran spiritual Ramadan mesti berhemat, banyak infak dan bersedekah, tampaknya agak tergoyahkan.

Di tengah keramaian pasar tradisional mau pun modern, supermarket, mal,  para pemuja belanja terkuras tenaganya. Penjual makanan dan minuman bertabir selimut. Di dalamnya bersembunyi pemuja belanja tak kuasa menahan haus dan lapar. Akibatnya batal puasa, tak jarang kalah oleh godaan duniawi.

Kesibukan menjelang lebaran rupanya bukan sekadar tradisi. Kini berganti wujud tren sosial.  Daftar belanja berganti insting. Mana yang dianggap pas, indah, lucu, menarik hati, itu langsung dibeli. Para ibu berlapis tentengan tas.

Seolah tak kenal lagi, mana kebutuhan (need) dan apa yang diinginkan (want).  Jika  need” adalah kehendak kebutuhan dasar. Maka  want” berisi keinginan berlandaskan nafsu. Keduanya bercampur aduk. Mata pun terus berbinar tatkala bersirobok dengan produk yang sering hanya kebutuhan sekunder.

Menjelang lebaran, banyak orang menguras tabungan.  Akumulasi setahun, dikuras dalam sebentar. Bahkan, tak jarang menggadaikan barang, meminjam uang atau kasbon pada majikan. Begitu pula tunjangan hari raya (THR), hampir seluruhnya dihamburkan untuk belanja.

Belanja menjadi citra pesona diri.  Tak jarang para pemuja belanja ingin menyamakan dirinya dengan artis di televisi. Ada mukena Ashanty, hijab Manohara,  gamis kaftan ala Syahrini, dan sebagainya. Seolah identifikasi diri bergaya super star. Enggan kehilangan modernisasi, bahkan takut dibilang kampungan.

Hedonisme, kosumerisme dan popularisme menjadi magnit maha hebat. Dalam sendi berbusana, barang import cenderung menawarkan fashionable  budaya kits, hilang dalam semusim.  Untuk jenis makanan,  kecap’ lidah barat lebih terasa ketimbang makanan tradisional.

Lihat saja, aneka kue lebaran, terbungkus rapi. Orang lebih mengenal parsel, ketimbang saling tukar- menukar rantang. Makanan tradisonal  kue bawang, sagon, rangginang, dan sebagainya kini tergantikan keju, tart, rainbow-cake dan sejenisnya.  Apa boleh buat,  wayahna’  desa kampung halaman kini sudah dihias meng-kota, termasuk pernak-pernik lebarannya.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengatakan, terjadi kenaikan peningkatan penjualan mobil sekitar 50 persen menjelang lebaran. Begitu pula alat elektronik,  telepon genggam dan gadget terbaru, melonjak 70 persen. Banyak masyarakat membeli mobil baru pada minggu pertama dan kedua Ramadan.

Halaman
12
Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved