Podium

Literasi Puasa dan Pertumbuhan Ekonomi yang Semu

IMAN itu diibaratkan dengan pohonnya, puasa itu diibaratkan dengan pupuknya, dan takwa itu diibaratkan dengan buahnya.

Literasi Puasa dan Pertumbuhan Ekonomi yang Semu
ist
Hamli Syaifullah

BULAN Suci Ramadan merupakan bulan pemupukan keimanan bagi ummat muslim. Di bulan ini, semua ummat Islam diwajibakan berpusa. Karena puasa (as-shiyam) berkorelasi dengan peningkatan keimanan (al-iman) seseorang.

Sehingga dengan berpuasa, tingkat keimanan seseorang akan bertambah. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Allah SWT di dalam Alquran: "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" (QS. al-Baqarah: 183).

Apabila diteliti secara seksama, ayat di atas mengandung tiga inti yang dapat diambil hikmah oleh ummat muslim. Pertama adalah keimanan, kedua adalah puasa, dan ketiga adalah takwa (at-taqwa).

Ketiga unsur tersebut, memiliki korelasi signifikan untuk membentuk insan al-kamil (manusia sempurna), yang pada akhirnya akan memperoleh falah-kesejahteraan di dunia dan di akhirat kelak.

Iman itu diibaratkan dengan pohonnya, puasa itu diibaratkan dengan pupuknya, dan takwa itu diibaratkan dengan buahnya. Puasa yang dikerjakan di Bulan Suci Ramadan, akan menggemburkan proses pemupukan keimanan seseorang.

Sehingga orang-orang yang berpuasa dengan baik dan benar, akan mendapatkan buah keimanan di akhir pusanya. Dengan buah keimanan tersebut, maka seseorang telah memperoleh derajat yang terpuji di sisi Allah Swt-yaitu ketakwaan yang merupakan pangkat tertinggi dalam keimanan seseorang.

Lantas, bagaimana kriteria puasa yang baik itu? Imam al-Ghazali menerangkan beberapa macam tingkatan puasa seseorang. Beliau membagi puasa menjadi tiga tingkatan. Pertama adalah shaumul awam (puasanya orang-orang awam), kedua shaumul khowas (pusanya orang-orang khusus), ketiga shaumul khawasyul khawas (puasanya orang-orang yang sangat khusus).

Untuk lebih jelasnya, marilah kita kaji satu persatu kriteria yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali. Shaumul awam merupakan puasa yang hanya memperoleh lapar dan haus saja. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Nabi dalam sebuah Hadisnya: "Berapa banyak orang yang berpuasa akan tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus saja."

Kedua, shaumul khowas, yaitu puasanya orang-orang yang khusus. Mengapa dikatakan puasanya orang-orang yang khusus? Karena puasa yang dikerjakan tidak hanya menahan lapar dan haus saja, akan tetapi dirinya juga berusaha memaknai puasanya dengan nilai-nilai baik dalam kehidupan sehari-hari.

Di mana bukan hanya perutnya saja yang berpuasa, akan tetapi hatinya juga ikut berpusa. Akan tetapi, puasa seperti ini tidak termasuk kreteria yang diinginkan oleh Allah SWT. Mengapa? karena puasanya orang-orang seperti ini masih memiliki celah untuk bermaksiat kepada Allah SWT sehingga celah-celah inilah yang menodai puasanya.

Halaman
123
Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved