Opini

Ramadan Untuk Pencerahan Politik Bangsa

DATANGNYA kembali Ramadan semestinya bisa membawa semangat dan pencerahan tersendiri bagi kian tegaknya etika dalam jagat politik kita.

Ramadan Untuk Pencerahan Politik Bangsa
ist
Djoko Subinarto, Kolumnis

RAMADAN, dengan ibadah puasa di dalamnya, seharusnya dapat menjadi momentum bagi kian tegaknya etika dalam khazanah politik kita.

Banyak kalangan percaya, Ramadan bukan sekedar bulan untuk melatih kesabaran menahan lapar dan dahaga, di samping juga berempati kepada mereka yang tidak berpunya. Tapi, lebih dari itu, Ramadan sesungguhnya dapat menjadi wahana untuk pengekangan diri dari keserakahan dan keegoisan diri.
Sebagaimana kita saksikan selama ini, keserakahan dan keegoisan diri begitu mendominasi jagat politik kita, baik di level lokal maupun level nasional.

Buntutnya, aktivitas politik bangsa ini baru sebatas menghasilkan sebuah demokrasi berkualitas rendah yang gegap-gembita dengan merajalelanya berbagai perilaku tidak elok yang berseberangan dengan prinsip-prinsip etika.

Tujuan akhirnya menghalalkan cara.  Agaknya inilah prinsip yang tampaknya semakin kental menghiasi jagat politik kita. Ujungnya, etika pun terpinggirkan. Contohnya seperti yang kita semua saksikan hari-hari belakangan ini, di saat menjelang hajat akbar pemilu presiden 2014 dilangsungkan, di mana bualan, caci-maki, hujatan serta fitnah demikian entengnya dilakukan oleh banyak pelaku politik kita.

Pertanyaannya kemudian adalah: dapatkah Ramadan, bulan di mana kitab suci al-Qur'an diturunkan, menjadi momentum bagi makin tegaknya etika dalam jagat politik kita sehingga segala kebaikan akhirnya bisa kita raih?

Berperilaku secara benar
Menilik asal-usulnya, kata `etika' berasal dari kata bahasa Yunani  `ethikos'. Kata ini kemudian diserap ke dalam bahasa Prancis menjadi `ethique' dan ke dalam bahasa Inggris, `ethics'.

Laman freedictionary.com memberikan batasan `ethics' sebagai (1) "a set of principles of right conduct" dan (2) "a theory or a system of moral values." Sedangkan kamus The Advanced Learner's Dictionary of Current English memberikan batasan `ethics', antara lain sebagai "system of moral principles, rules of conduct."

Dari batasan-batasan tersebut, secara singkat bisa disimpulkan bahwa etika, pada intinya, terkait dengan dua hal. Pertama, prinsip-prinsip berperilaku secara benar dan kedua, sistem nilai-nilai moral.
Jagat politik yang meminggirkan etika bermakna bahwa ia telah meninggalkan prinsip-prinsip berperilaku secara benar dan menanggalkan nilai-nilai moral, sehingga yang tersisa hanyalah praktik laku kotor yang melahirkan berbagai keburukan.   

Menurut Velasquez et al (2010), etika merujuk kepada standar baik dan buruk yang memberi pedoman ihwal apa yang sebaiknya umat manusia lakukan. Dalam konteks ini, etika biasanya terkait dengan hak, kewajiban, manfaat terhadap masyarakat, kejujuran, dan kebaikan-kebaikan khusus.

Misalnya, etika merujuk kepada prinsip yang mewajibkan untuk tidak menipu, mencuri, mencemooh, menyerang, menyakiti, memalsukan, memfitnah. Selain itu, etika juga mencangkup hal-hal yang terkait dengan kejujuran, kasih sayang dan kesetiaan, di samping yang terkait dengan penghormatan atas hak untuk hidup dan hak untuk memeroleh kebebasan dan kemerdekaan.

Selain itu, etika, tambah Velasquez et al, merujuk pula kepada pengkajian dan pengembangan standar-standar moral di dalam masyarakat. Secara demikian, etika merupakan sebuah upaya terus menerus untuk memelajari keyakinan moral dan perilaku moral sekaligus berusaha menjamin terciptanya kebaikan-kebaikan dalam berbagai institusi di dalam masyarakat.

Tentu saja, betapa sangat indahnya jika smua aktivistas politik di negeri ini senantiasa dilandasi oleh prinsip-prinsip etika seperti apa yang dikemukan oleh Velasquez et al sehingga aktivitas politik yang dijalankan senantiasa pula membuahkan berbagai kebaikan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Inilah sesungguhnya salah satu tantangan besar bagi para pelaku politik kita -- dari level yang paling rendah hingga level yang paling tinggi.  

Datangnya kembali Ramadan semestinya bisa membawa semangat dan pencerahan tersendiri bagi kian tegaknya etika dalam jagat politik kita yang selama ini justru semakin terpinggirkan akibat keserakahan dan keegoisan diri dari sebagian besar para pelaku politik di negeri ini.***

Naskah ini bisa dibaca di Harian Pagi Tribun Jabar, Rabu (2/7/2014).

Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved