Podium

Bola liar Kampanye Hitam

TIM kampanye hitam seperti paham apa yang harus dilakukan di laga pilpres. Ia seakan sudah galib hadir di institusi politik Indonesia.

Bola liar Kampanye Hitam
ist
Septiawan Santana K, Doktor Ilmu Komunikasi (Pengajar di Fikom Unisba)

MENGAPA kampanye hitam kini bagai bola liar, disepak kesana-sini, mencari gawang di sekitar kita. Mungkin, karena kampanye hitam ialah bola komunikasi, yang disepak oleh sekian skuad di laga sudden death sepak bola pilpres 2014. Ia jadi bola komunikasi politik. Ia bukan kampanye.

Maka itu, para pemainnya disebut tim kuda hitam. Semula tidak diperhitungkan, dan diremehkan. Tapi, yang tak dinyana, mereka jadi tim yang ngeleyed, terus melaju tak putus dirundung malang. Dan, ngajeunghok, tak disangka-sangka, bisa masuk laga.
Dan, ia bermain di luar sistem. Ia agak waswas jika bermain di halaman cetak media massa. Ia agak jerih tanding di siaran media massa. Berbagai aturan menolak kehadirannya. Ia melipir dari media mainstream.

Dari sanalah, tampaknya, kini tim kampanye hitam memilih lapak tanding sendiri. Stadion pertandingannya banyak memakai lapangan media sosial. Larangan di media sosial belum seketat pertandingan pilpres, di masa kampanye --yang dikemas undang-undang, dan insitusi politik.

Tim asuhan koalisi politik ini memang banyak mencomot pemain dari lapangan media sosial. Para pemainnya telah piawai memainkan bola komunikasi. Bukan hanya untuk tendangan penalti, atau tendangan penjuru. Tembakan jarak jauh, apalagi pendek, dan dalam keadaan terjengkang pun sudah mahir diarahkan ke gawang lawan. Dan, bukan hanya itu. Para pemainnya bukan hanya dilatih memelintir bola politis. Bukan hanya dilatih fisik beradu tubuh, dan kaki pesan. Mereka juga digenjot untuk punya tenaga politis yang mahir membuat jerih lawan sampai ke tulang sumsum.

Sejak awal musim tanding pilpres menggocoh aturan, tim kampanye hitam sudah pasang kuda-kuda. Di stadion media sosial, tim kampanye hitam tak peduli dengan aturan main. Tim ini juga tak acuh pada komentator yang berteriak-teriak. Apalagi peluit wasit yang menyemprit-nyemprit, mengacung-acungkan kartu kuning dan merah.

Bola komunikasinya memang cuma ingin bertemu khalayak. Ia hanya hendak membuat penonton dan pendukung pilpres 2014 tertawa-tawa, tersedu-sedu, memaki-maki, memuja- muji, atau terpaku tak mengerti. Gaya sepak bolanya sebatas mencari dan menolak dukungan.
Tim kampanye hitam mengisi gagap dan terbata-batanya komunikasi kampanye. Bola liarnya bergerak di antara aspek-aspek komunikasi dari institusi politik. Bola komunikasinya berkelindan dalam aspek-aspek politik dari institusi media. Bola liarnya mencari orientasi rakyat dalam berkomunikasi politik. Bola komunikasinya bergulir di tengah kultur politik Indonesia kini.

Alhasil, sepak atau tidak, dalam sistem komunikasi politik, kampanye hitam seakan menjadi salah satu komponen. Ia memiliki keterkaitan dengan komponen lainnya. Ia memiliki fung siter sendiri. Kampanye hitam menjadi variasi sistem.

Ia larut ke dalam produksi komunikasi politik. Ia ikut memproses komunikasi politik. Ia menjadi pesan komunikasi politik itu sendiri.

Akan tetapi, ketika kampanye hitam dinilai sebagai anak institusi politik, ia dicoret dari daftar. Kartu keluarga "politik" tak mengabsahkannya. Ia tak masuk trah. Ia disebut anak haram, hasil hubungan "gelap dan terang" antara insitusi, komponen media, orientasi khalayak, dan kultur politik. Maka itulah, bola komunikasi politiknya menjadi liar.

Para investor politik telah merancangnya. Para raksasa politik sudah mengendusnya. Para pelatihnya telah men-training, di semenjak pemilihan legislatif (pileg) atau kepala daerah (pilkada). Mereka diikutkan, dalam uji coba, di laga pilkada, dan pileg.

Permainan bola politiknya mulai dicatat di lobi rundingan politis lokal. Mereka diurus para punggawa raksasa politik, yang bertugas jaga di daerah. Kematangan mainnya dinilai, dalam laga politik "daerah". Termasuk penyeleksian pemain, yang akan masuk ke laga pilpres.

Maka itulah, kini tim kampanye hitam seperti paham apa yang harus dilakukan di laga pilpres. Ia seakan sudah galib hadir di institusi politik Indonesia. Kampanye hitam dinilai telah jadi institusi politik yang independen: tanpa orang, tanpa seragam, tanpa baju, tanpa celana, di sepak bola politik pilpres 2014. Tapi, bola politiknya bergulir kesana kemari.  ***

Naskah ini bisa dibaca di Harian Pagi Tribun Jabar, Jumat (27/6/2014).

Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved