Bandung Pertama Kali Menyala Berkat PLTA Bengkok

Kenapa Bandung pada tahun 1920-an disebut sebagai Paris Van Java, simak alasannya berikut.

Bandung Pertama Kali Menyala Berkat PLTA Bengkok
Salah satu pipa besar di PLTA Bengkok
TRIBUN - Seperti apakah wajah daerah-daerah di Jawa Barat pada tahun 1920-an? Sebagian besar mungkin masih berupa hutan belantara, kebun dan daerah persawahan. Pada masa itu, desa-desa hanya bergeliat pada siang hari. Sebab, pada malam hari rumah-rumah warga gelap gulita karena belum ada listrik yang menerangi seperti saat ini. 

Menurut cerita para orangtua atau kakek nenek kita semasa kecil, konon pada masa itu satu-satunya alat penerangan yang digunakan hanyalah lampu tempel atau cempor yang biasa digunakan sebagai alat penerangan di dalam rumah. Sedangkan untuk di luar rumah, warga biasanya memanfaatkan obor bambu sebagai alat penerangan. Obor itu biasanya diletakkan di halaman rumah atau dekat pintu keluar.

Namun siapa sangka, ketika sebagian besar rumah-rumah warga pribumi gelap gulita, sebagian wilayah di Kota Bandung justru sudah mampu menikmati terangnya aliran listrik. Sebagai bangsa penjajah, ketika itu Belanda memang selangkah lebih maju.

Kawasan Braga di pusat Kota Bandung menjadi salah satu kawasan yang sudah teraliri listrik pada 1920-an. Makanya tidak heran, kawasan Braga yang pada abad 18 hanya berfungsi sebagai jalur pedati, mulai bertransformasi menjadi deretan pertokoan elit ala Eropa. Kawasan tersebut pun menjelma sebagai tempat pelesiran dan berbelanja kaum bangsawan kala itu.

Selain kawasan Braga, beberapa wilayah di Kota Bandung yang juga telah menikmati listrik adalah kawasan ITB, Dago, Jalan Asia Afrika, Merdeka, Ledeng, Setiabudhi, Lembang serta beberapa kawasan lainnya di Kota Bandung. Kawasan-kawasan tersebut memang merupakan simpul-simpul kepentingan Belanda. Memang, kala itu, aliran listrik baru dapat dinikmati oleh meneer-meneer Belanda, para demang, pengusaha, bangsawan serta sebagian petinggi Indonesia.

Tidak banyak yang tahu, dari manakah sumber listrik yang menerangi kawasan Belanda di Bandung saat itu? Pada tahun 1923, Pemerintah Belanda membangun Dienst Voor Waterkracht en Electriteit atau Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di kawasan Dago Bengkok tak jauh dari THR Juanda Dago. Oleh Belanda, PLTA itu disebut dengan Centrale Bengkok.

Untuk menghasilkan aliran listrik, PLTA yang kini sebagian daerahnya masuk kawasan Kota Bandung dan sebagian lagi masuk ke kawasan Kabupaten Bandung Barat (KBB) tersebut, memanfaatkan aliran air dari mata air Sungai Cikapundung yang mengalir dari kawasan Lembang, KBB.

PLTA Bengkok itulah yang ketika itu menjadi penyuplai listrik satu-satunya bagi kawasan Bandung dan sekitarnya. Dari PLTA inilah cerita Bandung dengan julukan Parisj Van Java berawal. Sebab, kala itu selain dikenal berhawa sejuk dengan hamparan hijau perkebunan teh, Bandung pun sudah memiliki kota yang terang berderang seperti halnya di Paris.

"Dulu setelah diolah di sini (PLTA Bengkok), listrik langsung dialirkan ke Kota Bandung. Tapi masih terbatas untuk keperluan orang-orang Belanda sendiri dan kaum bangsawan," kata petugas operator turbin generator (OTG) PLTA Bengkok, Taufik Hidayat, saat ditemui Tribun di sela-sela Media Gathering bersama PT PLN di PLTA Bengkok Dago, Bandung, Jumat (28/2).

Meski telah berusia hampir satu abad, PLTA tertua di Indonesia itu hingga kini masih tetap beroperasi. Karena merupakan peninggalan Belanda, bangunan PLTA Bengkok pun tampak kuno namun elegan dengan konsep bangunan khas Eropa. Jendela dan pintu berukuran raksasa serta lorong-lorong berbentuk setengah lingkaran panjang menjadi kekhasan tersendiri bagi bangunan setinggi 20 meter yang berdiri kokoh di areal lahan seluas 5 hektar. 

Sejak awal didirikan hingga saat ini, gedung bercat putih itu digunakan sebagai gedung penyimpanan turbin dan generator penghasil listrik. Seluruh mesin pembangkit listrik berupa turbin dan generator pun masih terjaga keasliannya. Saking aslinya, turbin dan genetor pun masih bertuliskan tulisan Belanda.

"Bangunan dan mesin, semuanya masih asli peninggalan Belanda. Belum ada yang diganti, paling hanya rekondisi atau diperbaiki," ujar Taufik.

Sebelum diolah menjadi listrik oleh turbin dan generator yang masing-masing hanya tiga buah, aliran mata air Sungai Cikapundung itu dibendung terlebih dahulu di kawasan Bantar Awi, Lembang. Air kemudian dialirkan melalui THR Juanda yang berjarak sekitar 4 kilometer dari PLTA Centrale Bengkok. 

Di THR Juanda, Belanda membuat semacam kolam yang disebut kolam tando pengendap (KTP) yang berfungsi untuk mengendapkan lumpur dan kotoran-kotoran dalam air sebelum air didistribusikan ke PLTA Bengkok melalui pipa berdiameter 1,3 meter. Kolam tando tersebut memiliki kedalaman 3 meter dengan kapasitas volume air mencapai 30 ribu meter kubik air.

Dari sini air yang dialirkan melalui pipa-pipa raksasa itu digunakan untuk memutar turbin dan menggerakkan generator. Produksi listrik pun berlangsung. sementara air sisa kegiatan produksi digunakan oleh PDAM.

Bagi mesin turbin dan generator buatan Belanda tersebut, sampah memang menjadi musuh terbesar. Selain dapat menyebabkan suara bising pada turbin, sampah juga dapat menurunkan produktifitas produksi listrik yang dihasilkan PLTA Bengkok tersebut.

Serangan sampah memang kadang tidak bisa dihindarkan terutama pada musim penghujan. Meski sudah disediakan kolam pengendap, sampah tetap masih bisa terbawa oleh aliran air yang dialirkan ke turbin melalui pipa-pipa raksasa berwarna kuning. Jika sudah begitu, operator terpaksa menghentikan sementara putaran turbin dan generator untuk mengeluarkan sampah dari turbin.

"Kalau turbin mau dibongkar untuk membuang sampah yang menempel, turbin harus dihentikan atau direm pakai balok kayu. Maklum memang secara teknologi sudah ketinggalan jaman," ujar Taufik sambil tersenyum.

Meski demikian, tiga turbin yang masing-masing mampu menghasilkan listrik sebesar 1.05 Mega Watt (MW) tersebut diakui pihak PLTA masih tetap layak digunakan untuk menghasilkan listrik. Belum diperlukan adanya penggantian unit turbin dengan teknologi yang lebih modern.

"Selain memang masih bagus, mungkin pertimbangannya sekarang PLTA Bengkok terbilang PLTA kecil, jadi tidak perlu ada penggantian. Hanya perbaikan-perbaikan kecil saja," tambahnya.

Selain menghadapi ancaman sampah yang dapat merusak kinerja turbin dan generator buatan Belanda itu, PLTA Bengkok juga dihadapkan pada persoalan lainnya yakni terus menyusutnya debit air untuk memasok turbin di PLTA Bengkok tersebut.

Bahkan, pernah pada musim kemarau beberapa tahun lalu, karena debit air menyusut drastis, PLTA yang berada di bawah PT Indonesia Power PLTA UBP Saguling itu terpaksa mengistirahatkan dua turbinnya. Sebab, debit air hanya cukup untuk menggerakkan satu turbin.

Penyusutan debit air itu disebabkan karena berbagai faktor. Namun yang paling besar, berkurangnya debit air tersebut disebabkan karena air dari mat air Sungai Cikapundung yang menjadi sumber air PLTA, juga dipergunakan oleh PDAM dan masyarakat setempat untuk pengairan lahan pertanian.

"Dulu tiga unit turbin dapat menghasilkan (listrik) 1,8 MW. Tapi sekarang karena airnya dibagi sama PDAM, hanya menghasilkan 0,8 MW," ujar petugas PT Indonesia Power UBP Saguling lainnya, Gatot Setiawan kepada Tribun.

Menurut Gatot, pendistribusian listrik yang dihasilkan PLTA Bengkok pada masa penjajahan Belanda dengan saat ini sudah berbeda. Sistem pengaliran listrik yang digunakan adalah interkoneksi, dimana aliran listrik yang dihasilkan oleh PLTA Bengkok dan PLTA-PLTA lainnya dikumpulkan terlebih dahulu di gardu induk sebelum kemudian didistribusikan oleh PLN.

"Kalau zaman Belanda dulu, listrik yang diproduksi di sini (PLTA Bengkok) didistribusikan langsung ke konsumen," ungkap Gatot.

Selain PLTA Bengkok, PT Indonesia Power UBP Saguling juga membawahi beberapa sub-unit PLTA seperti PLTA Karacak Bogor, Cikalong, Parakankondang, Lamajang, Sumedang, Sukabumi, dan beberapa PLTA lainnya. Namun PLTA-PLTA tersebut memiliki kapasitas listrik lebih kecil dibanding PLTA Saguling sebagai induknya. 

PLTA Saguling bersama PLTA Cirata merupakan PLTA terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. PLTA ini berada di tiga wilayah yakni Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kabupaten Cianjur dan kabupaten Purwakarta dengan total kapasitas lebih dari 1.000 MW.(zam)
Penulis: M Zezen Zainal Muttaqin
Editor: Oktora Veriawan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved