Plagiarisme dan Penguatan Etika Akademik

Dunia pendidikan tinggi Kota Bandung kembali tercemar. Rektor salah satu universitas ternama di kota ini diduga telah melakukan plagiarisme.

DJOKO SUBINARTO
Kolumnis

SELAIN sanksi akademik dan administratif, pelaku plagiarisme harus juga mendapat sanksi hukum.

Dunia pendidikan tinggi Kota Bandung kembali tercemar. Rektor salah satu universitas ternama di kota ini diduga telah melakukan plagiarisme. Seperti dilaporkan Harian Pagi Tribun Jabar, Selasa (4/2/2014), sang rektor disebut mengutip karya ilmiah salah seorang mahasiswanya. Akibat aksi plagiarisme itu, para dosen dan jajaran staf universitas bersangkutan diberi sanksi berupa penundaan kenaikan pangkat mulai Agustus 2013 hingga Agustus 2014 oleh Kopertis IV wilayah Jabar Banten.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), plagiarisme adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri.

Tidak sedikit kalangan menilai praktik plagiarisme, seperti juga praktik pembajakan (piracy), sebagai sebuah kejahatan (crime) lantaran terkait dengan aktivitas pencurian hak cipta pihak lain. Oleh sebab itu, di institusi-institusi pendidikan di luar negeri di mana kejujuran akademik menjadi hal yang diutamakan, para pelaku plagiarisme mendapat ancaman hukuman yang sangat berat, semisal dikeluarkan atau dipecat secara tidak terhormat.

Masih tebalnya pragmatisme akademik dalam jagat pendidikan kita tampaknya telah menjadikan kepentingan-kepentingan jangka pendek dan sesaat di atas segala-galanya. Buntutnya, sebagian akademisi kita melupakan etika. Tujuan-tujuan akademik jangka pendek serta sesaat seperti meraih gelar, ijazah, maupun promosi jabatan akademik akhirnya kerap mereduksi prinsipprinsip etika.

Tujuan menghalalkan cara, agaknya inilah prinsip yang kemudian cenderung dipraktikkan oleh sebagian akademisi kita. Demi pragmatisme akademik, plagiarisme dan praktik-praktik tidak elok lainnya dijalankan. Etika akhirnya terpinggirkan. Padahal, salah satu kewajiban seorang akademisi adalah selalu menjunjung etika.

Ditilik dari asal-usul katanya, etika berasal dari kata dalam bahasa Yunani: ethikos. Bahasa Prancis menyerap kata ini menjadi ethique. Lantas, bahasa Inggris menyerap kembali kata ethique itu menjadi ethic.

Situs freedictionary.com memberikan batasan ethic sebagai (1) "a set of principles of right conduct" dan (2) "a theory or a system of moral values." Sedangkan kamus The Advanced Learner's Dictionary Of Current English memberikan batasan ethic antara lain sebagai "system of moral principles, rules of conduct."

Dari batasan-batasan tersebut, secara singkat bisa disimpulkan bahwa etika, pada intinya, terkait dengan dua hal. Pertama, prinsip-prinsip berperilaku secara benar dan kedua, sistem nilai-nilai moral.

Halaman
12
Editor: Darajat Arianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved