Cendekiawan Indonesia Kehilangan Orientasi

SULIT untuk mengecilkan, apalagi menghapus, peran kaum cendekiawan dalam proses terbentuknya sebuah nasion bernama Indonesia. Perlawanan terhadap

Oleh ABDULLAH MUSTAPPA
Budayawan

SULIT untuk mengecilkan, apalagi menghapus, peran kaum cendekiawan dalam proses terbentuknya sebuah nasion bernama Indonesia. Perlawanan terhadap kolonial Belanda memang sudah beberapa kali terjadi jauh sebelumnya. Sultan Hasanuddin dari Kesultanan Gowa di Makassar melakukan perlawanan bersenjata, demikian juga Sultan Agung di Mataram (Islam) Jawa. Tapi motivasinya baru berskala lokal.

Kebutuhan bersama bernama Indonesia baru muncul belakangan, atas kesadaran merasa sama-sama terjajah, ditindas serta diperlakukan secara tidak adil. Kesadaran seperti itulah yang kemudian mengerucut menjadi sebuah tuntutan, sebuah gugatan.

Indonesia berangkat dari sebuah gagasan yang perlu dirumuskan. Pada kondisi seperti itulah kaum cendekiawan memiliki kesempatan untuk melakukan perannya. Berbagai gagasan pun kemudian berproses. Sekelompok studen yang umumnya dibesarkan dalam paduan tradisi Jawa dan pendidikan modern, mencoba merumuskannya. Tidak heran kalau azas perkumpulan Boedi Oetomo sangat kental tradisi Jawanya. Meskipun demikian benih-benih kesadaran tentang keindonesiaan sudah mengemuka.

Sejak saat itu bola salju yang akan mengarah pada proses pengindonesiaan terus menggelinding, makin lama makin besar dan gemanya makin keras. Adalah Soekarno yang kemudian melontarkan tantangan ke arah sasaran yang tepat. Dengan dibekali bacaan yang banyak serta kecerdasan dalam merumuskan dialektika serta retorika, insinyur lulusan THS Bandung ini menggugat pemerintahan kolonial Belanda yang saat itu sedang sangat kokoh kekuasaannya. Indonesia Menggugat, naskah pembelaan Soekarno dalam sidang pengadilan di Bandung, menjadi dokumen sejarah yang mestinya menjadi bahan kajian terus menerus agar nasion yang bernama Indonesia relatif tetap melaju ke arah yang dicita-citakan sejak awal.

Berbagai persoalan tentang makna serta tujuan keindonesiaan sempat diperbincangkan secara intensif tak lama setelah kemerdekaan diproklamasikan di Jakarta. Kalangan cendekiawan menyadari betul bahwa sebuah negara yang dicita-citakan sejak lama tidak langsung terbentuk secara utuh hanya sebatas diakui oleh dunia. Dialog pun dikembangkan mesti dalam ruang-ruang terbatas. Di ruang yang lebih luas terjadi pergulatan yang lebih keras gaungnya. Perlawanan bersenjata, yang oleh Soekarno dengan bangga disebut sebagai revolusi, pada ujungnya menenggelamkan gairah kaum cendekiawan. Revolusi memang memiliki kamungkinan serta karakter seperti itu, meski sebenarnya masih mungkin dieliminir. Revolusi Amerika Serikat sejak awal dibentengi oleh intensifnya dialog antara George  Washington, Thomas Jefferson, John Adams dan Benjamin Franklin. Washington, meski memegang komando terhadap tentara yang jumlahnya cukup besar, menyadari betul bahwa sebuah bangsa yang beradaulat dan bermartabat mestilah berorientasi ke arah cakrawala yang nun di ufuk sana. Tidak bisa hanya ditegakkan dengan landasan kekuatan militer semata. Hal yang  berbeda terjadi di Russia pada saat-saat awal terjadinya revolusi Bolsewik, di mana aspirasi kaum cendekiawan tidak memperoleh ruang sama sekali. Dominasi pemegang kendali perubahan berada di satu tangan, yakni otoritas proletariat.

Soekarno, Mohammad Hatta, Tan Malaka serta Sutan Syahrir adalah pemikir-pemikir ulung yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Mereka, beserta yang lain, berdebat habis-habisan untuk merumuskan landasan berbangsa dan bernegara secara terbuka dan tanpa prasangka. Suasana perdebatan yang ideal seperti itu masih menularkan aroma sampai bertahun-tahun kemudian, sehingga Kasimo yang Katolik, Natsir yang Masyumi dan Soekarno yang sekuler tetap menjadi sahabat karib. Perbedaan ideologi tidak dibiarkan merusak hubungan pribadi.

Perubahan terjadi setelah Soekarno terpeleset akibat sanjungan-sanjungan yang berlebihan disandangkan kepada dirinya. Soekarno merasa lebih nyaman berada dalam ayunan yang di ujung yang satu diputar oleh pihak tentara, sementara di ujung yang lain penggeraknya adalah pihak komunis. Hatta dan Syahrir yang sebelumnya berada di sisi kiri dan sisi kanan Soekarno, ditoker ke belakang. Peran kaum cendekiawan pun menjadi sayup-sayup dan derunya terus menjauh.

Studi Keith Foulcher tentang majalah Konfrontasi perlu disinggung pada kesempatan ini. Konfrontasi adalah majalah kebudayaan, terbit di Jakarta antara tahun 1954-1960. Isinya banyak memuat tulisan tentang masalah-masalah kebudayaan dalam arti luas, cukup banyak juga terjemahan atau yang dimuat dalam bahasa aslinya. Menurut Foulcher isi Konfrontasi yang awalnya lebih terkonsentrasi pada persoalan kebudayaan umum kemudian menukik, dan akhirnya terperangkap pada silang sengketa humanisme universal dengan realisme sosialis.

Menjelang akhir dasawarsa 1950 hingga awal 1960-an arena perdebatan kebudayaan di Indonesia boleh dikatakan dimonopoli oleh kedua isu tersebut. Seiring meningkatnya pengaruh komunis, realisme sosialis lebih mengemuka.

Halaman
12
Editor: Darajat Arianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved