Taman Loji

ITB Cari Lonceng Pengganti hingga ke Belanda

MENARA Loji merupakan salah satu saksi bisu sejarah yang berada di Jatinangor, Sumedang. Menara ini dibangun sekitar tahun 1800 oleh Baron

Oleh Pamela Fricylia

MENARA Loji merupakan salah satu saksi bisu sejarah yang berada di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Menara ini dibangun sekitar tahun 1800 oleh Baron Braud, tuan tanah yang memiliki perkebunan karet seluas kurang lebih 962 hektare. Pada masanya, menara loji ini memiliki dua fungsi, yaitu sebagai tempat untuk mengawasi para penyadap karet yang sedang bekerja dan juga sebagai penanda waktu bagi para penyadap karet tersebut.

Lonceng yang ada di menara tersebut selalu dibunyikan setiap pukul 05.00 sebagai tanda bagi pekerja untuk memulai pekerjaannya. Kemudian dibunyikan kembali pukul 10.00 sebagai penanda bagi pekerja untuk mengambil mangkuk yang telah terisi oleh getah karet. Terakhir, lonceng tersebut akan dibunyikan kembali pada pukul 14.00 sebagai tanda bagi pekerja untuk pulang.

Sejak kawasan perkebunan karet berubah menjadi kawasan perguruan tinggi, menara loji ini dirawat oleh Universitas Winaya Mukti (Unwim). Ketika itu, menara loji dan di kawasan sekitarnya seperti diabaikan. Setiap hari Minggu, kawasan di sekitar menara loji dijadikan kawasan pasar kaget.

Setelah kepemilikan tanah beralih, menara loji tersebut berada di bawah tanggung jawab Institut Teknologi Bandung (ITB). Kawasan menara tua itu pun kini disulap sedemikian rupa oleh pihak ITB. Di kawasan itu, dibangun taman loji. Menara loji pun jadi terlihat lebih terawat dari sebelumnya. Tujuan didirikan taman ini yaitu agar Jatinangor memiliki ruang terbuka publik sekaligus bisa mengenang peninggalan sejarah pada zaman dahulu.

"Kami melihat di Jatinangor belum ada ruang terbuka publik. Karena itu dibangun ruang terbuka publik untuk masyarakat," ujar Direktur Perencanaan dan Pengembangan ITB Jatinangor, Dr Ir Woerjantari Kartidjo,MT, Selasa (21/1).

Walaupun taman loji belum terbuka untuk umum, taman tersebut sudah boleh dikunjungi oleh siapa saja. Bahkan pada Sabtu dan Minggu sudah banyak pengunjung yang datang ke taman loji.  

Kalau taman loji sudah beroperasi secara resmi, pihak ITB akan melibatkan warga setempat untuk membantu mengamankan kawasan taman loji beserta menara loji yang ada.

"Kami juga harus antisipasi, bahwa taman itu tidak boleh disalahgunakan. Jadi mungkin nanti kita bikin tutup pagar. Kalau malam tidak bisa sembarang orang masuk", ujar Humas ITB Jatinangor, Dewi Rupiani.

Dengan adanya taman loji, Kabupaten Sumedang akan memiliki ruang publik sendiri. Selain itu, peninggalan bersejarahnya pun menjadi lebih terawat. Namun dengan hal tersebut akan timbul masalah baru yaitu ada kemungkinan rusaknya menara loji yang disebabkan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Walau baru mengetahui adanya pembangunan taman loji, pihak Kecamatan Jatinangor mendukung pembangunan itu. "Untuk pembangunan taman loji sendiri saya dukung selama ada sisi positifnya", ujar Sekretaris Kecamatan Jatinangor, Juni Sujatnika yang juga merupakan warga asli Jatinangor.

Tidak jauh dari lokasi menara loji, terdapat makam Baron Braud. Lebih parah dari menara loji sebelumnya, kondisi makam ini sangat tidak terawat. Tidak ada pagar yang mengelilingi untuk melindungi makam tersebut. Bahkan bentuk makam terlihat seperti bongkahan tempat duduk karena tidak ada batu nisan. Diakui oleh salah satu petugas keamanan ITB, makam tersebut malah sering dipakai sebagai tempat duduk. (*)

Editor: Darajat Arianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved