Budaya Lokal, dari Simbol ke Substansi

BEBERAPA tahun lalu, saat melihat orang menggunakan iket kepala, tidak sedikit yang berpendapat bahwa ia adalah orang pedalaman.

Oleh YATUN ROMDONAH AWALIAH
Mahasiswa S2 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Budaya Sunda,  Sekolah Pascasarjana UPI

BEBERAPA tahun lalu, saat melihat orang menggunakan iket kepala, tidak sedikit yang berpendapat bahwa ia adalah orang pedalaman. Karena hanya orang pedalaman atau orang yang memegang adatlah yang masih menjaga adat leluhur dengan menggunakan iket di kepalanya. Saking jarangnya yang menggunakan iket, maka tidak aneh lagi bila kemunculannya menjadi sebuah tontonan, dan sering dipandang aneh.

Tapi beda halnya dengan kondisi saat ini. Penggunaan iket kepala atau iket Sunda semakin banyak. Tidak hanya kalangan sepuh, anak muda pun tidak kalah meriahnya menggunakan iket. Bahkan bagi mereka iket dijadikan sebuah fashion. Walau pun dalam penggunaanya selain dipakai di kepala, kadang kala mereka suka membelitkannya di tangan atau menyelempangkannya di leher.

Begitu juga di mal-mal, melihat orang yang berjalan menggunakan iket sudah dianggap tidak asing. Malah di komplek pertokoan yang dianggap berkelas itu  kini sudah tersedia toko khusus yang menjual iket.

Iket Sunda kini bukan hanya dianggap sebagai penutup kepala, tapi juga sebagai penunjuk identitas. Para penggunanya cenderung memiliki kebanggaan bahwa mereka datang bukan saja datang dari etnis Sunda, tapi juga dari kebudayaan Sunda. Iket bukan sekadar lambang etnis, tapi sekaligus simbol kebudayaan. Jadi tidak aneh kebanggaan seseorang terhadap budayanya bisa dibilang bertambah dan percaya diri ketika mereka menggunakan iket. Walau pun sebenaranya etnis mana pun bisa menggunakan iket ini. Namun yang jelas, menggunakan benda yang berunsur tradisional seperti iket, bisa membuat penggunanya semakin percaya diri kepada budayanya.

Lihat misalnya foto Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Bupati Purwakarta Dedo Mulyadi yang mengenakan iket saat selesai menebarkan benih di situ Buleud, Purwakarta. Kemudian Wakil Gubernur Jabar Dedy Mizwar bersama Dirjen Pemberdayaan  Masyarakat Desa Kementerian Dalam Negeri, Tarmizi A Karim serta Bupati Bandung Dadang Naser saat memainkan "kokoleceran" di lapangan Upakarti, Soreang. Padahal pada jaman Orde Baru para pejabat sangat takut memperlihatkan jati diri etnisnya karena takut disebut sukuisme. Di awal reformasi pun masih riak-riaknya saja di kalangan terbatas.

Bupati Purwakarta dan mantan Bupati Subang Eep Hidayat terbilang getol memasyarakatkan penggunaan iket di lingkungan pemerintahannya. Jejak ini kemudian diikuti Bupati Bandung dan Wali Kota Bandung. Mungkin saja ada yang mengkritik bahwa mereka lebih menonjolkan simbol atau atribut.  Padahal inti dari kebudayaan bukan terletak pada simbol, tapi pada karakter. Kritik tersebut sah-sah saja.

Namun perlu diingat pula, bahwa kesadaran manusia terhadap budaya seringkali bersifat gradual, seperti halnya kalau kita belajar, dimulai dari yang terlihat (atributif) untuk menuju ke yang lebih abstrak. Hal itu bisa dilihat. Bupati Purwakarta yang paling tegas memperlihatkan diri dengan simbol Sunda-nya, masuk ke wilayah kebudayaan yang lebih substantif,  yaitu memberi dukungan  kepada sejarawan Nina Lubis untuk menerbitkan buku sejarah Jawa Barat.  Dukungan ini jelas merupakan sikap keberpihakan pada budaya yang lebih substantif.

Selain iket yang semakin gencar penggunannya, alat musik karinding pun kini mulai muncul dan ramai dimainkan.  Padahal tahun 1980-an dan 1990-an alat musik yang terbuat dari bilahan bambu ini sempat menghilang dan tidak pernah diperbincangkan. Tetapi saat ini kembali lagi dimainkan, bahkan anak-anak sekolah sepertinya suka, sehingga tidak jarang alat musik tersebut dimainkan di sekolah di sela-sela mereka istriahat.

Budaya Sunda adalah salah satu budaya lokal yang sering disebut-sebut dalam keadaan menghawatirkan. Namun bila faktanya seperti hal yang digambarkan di atas, maka tidaklah demikian. Sebab budaya tersebut kembali tumbuh kembang, sirungan deui, bahkan akan muncul jadi kekuatan mengimbangi kebudayaan barat. Fenomena ini sebenarnya pernah diprediksi oleh seorang wartawan dan komentator CNN, Fareed Zakaria yang dilontarkan dalam acara World Culture Forum (WCF) (25/11) di Bali, dan kemudian dikutip oleh kolumnis Abdullah Mustappa dalam tulisannya "Budaya Lokal vs Global" .

Sebagai contoh lainnya, kebudayaan timur yang kembali tumbuh adalah budaya Korea, yang melesat begitu cepat, bahkan pengaruhnya bisa dibilang mempengaruhi negara lain. Budaya Sunda pun kalau dikelola dan disalurkan dengan benar maka akan terus tumbuh dan menguat. Karena disadari atau tidak, semangat cinta terhadap budaya lokal jangankan dibunuh, dibendung pun sulit. Kecintaan terhadap kebudayaan sendiri itu seperti air yang selalu mencari jalan untuk mengalir. 

Malah dalam perang perebutan politik 2014 para politikus tak akan melewatkan fenomena ini. Mereka akan menjadikan budaya dan etnis sebagai tameng untuk menarik hati para pemilih. Sebab sekarang pun mulai terlihat adanya kedok budaya yang dijadikan produk jualan. Seperti dalam pemilihan para kepala daerah, mereka muncul dengan panggilan Akang dan Ambu di depan nama mereka. Malah sepertinya sekarang menjadi sebuah tren pada baligo-baligo kampanye, mereka menyertakan potonya dengan menggunakan iket, pangsi ciri has pakean adat Sunda dan atribut lainnya. Namun menunggangi budaya demi kepentingan politik tampaknya tidak perlu dikhawatirkan, karena masyarakat sudah cukup cerdas. Mereka melihat mana yang tulen (genuine) dan mana yang akon-akon (artificial).

Bangkitnya kembali budaya lokal merupakan sesuatu yang sangat luar biasa dan bisa menjadi sebuah kekuatan dalam berbagai aspek, dengan dintandainya oleh rasa bangga akan budaya Sendiri. Sekarang pemerintah tinggal bisa mengelola rasa bangga tersebut. Begitu juga dalam membuat peraturan-peraturan, setidaknya pemerintah harus bisa mempertimbangkan dan menyelaraskan sebuah peraturan yang akan dikeluarkan dengan budaya lokal, supaya kebanggaan terhadap kebudayaan tidak berhenti pada simbol semata, tapi meresap ke substansi. (*)

Editor: cep
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved