Kamis, 2 Juli 2015

Dapat Gelar S1 dan S2 dari Beternak Puyuh

Jumat, 27 September 2013 11:22

Dapat Gelar S1 dan S2 dari Beternak Puyuh
TRIBUN JABAR/TARSISIUS SUTOMONAIO
Pemilik CV Slamet Quail Farm , Slamet Wuryadi, menunjukkan kemasan olahan puyuh yang ditawarkan kepadanya Korea Selatan ketika mengikuti Pesta Patok (pesta peternak) di Gasibu, Bandung, Rabu (25/9/2013). 

Oleh Tarsisius Sutomonaio

"SAYA ingin jadi profesor puyuh," ujar pemilik CV Slamet Quail Farm sekaligus Ketua Asosiasi Puyuh Indonesia, Slamet Wuryadi, saat mengikuti Pesta Patok (pesta peternak) di Gasibu, Bandung, Rabu (25/9).

Menurut dia, sangat membanggakan menjadi orang pertama di Indonesia yang meraih gelar profesor soal puyuh. Ia mengaku jalan mencapai cita-cita itu terbuka lantaran ada tawaran dari sebuah universitas di Belanda dengan dibiayai pemerintah Belanda.

Namun, ia mengaku sedang mempertimbangkan tawaran itu. "Kalau ke Belanda, berarti saya harus meninggalkan usaha ternak puyuh," ujar dia. Karena itu, Slamet berencana mengajukan diri ke Institut Pertanian Bogor (IPB).

Wajar bila Slamet tak mau berjauhan dengan ternak puyuhnya. Pria itu meraih gelar S1 dan S2 di IPB dari hasil beternak puyuh. "Saya hanya bermodal baju empat, celana empat, serta uang Rp 175 ribu," ujar pria yang memulai usaha ternak puyuh pada 1992 itu.

Slamet menyatakan, sejak beternak puyuh 21 tahun lalu, ia tak pernah menjual puyuh dan telur puyuh di bawah modal. "Itu berarti, saya untung terus," katanya. Ia menyatakan ada empat alasan beternak puyuh selalu meraih untung.

Pertama, penawaran dan permintaan tak seimbang. Puyuh yang tersedia di Indonesia baru memenuhi 15 persen kebutuhan nasional sehingga harga relatif terjaga. Kedua, meskipun stok dalam negeri kurang, tak ada impor. "Korporasi belum masuk (ke peternakan puyuh)," ujarnya.

Halaman123
Penulis: tom
Editor: dar
Sumber: Tribun Jabar
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas