Isola Hilang Komara

Jalan-jalan di kawasan Isola atau kampus UPI berubah meggunakan namm-nama rektor dan mantan rektor. Hilangnya sejarah dan karakter UPI.

OLEH YATUN ROMDONAH AWALIAH
Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa dan Budaya Sunda.

Isola bumi siliwangi
Liliwatan bandung lembang
Suku tangkuban parahu
Ngabadega endah agreng sigrong

----
BEBERAPA minggu lalu salah seorang teman yang aktif di organisasi PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Belanda membuat status tersebut, yang merupakan penggalan lirik lagu Isola. Entah kenapa pikiran jadi teringat masa-masa SD, ketika guru mengajarkan lagu itu. Pada tahun 90-an, lagu ini memang sempat diajarkan di sekolah-sekolah di Jawa Barat. Bahkan sering dijadikan lagu wajib dalam kompetisi menyanyi antarsekolah, baik di tingkat kabupaten maupun di tingkat provinsi.
Lirik lagu Isola diciptakan Karna Yudibrata dan disanggi menjadi lagu oleh almaruhm Nano S. Bercerita tentang villa Isola, yang pada awal kemerdekaan namanya diganti menjadi Bumi Siliwangi sebagai bentuk penghargaan kepada para pejuang kemerdekaan. Kemudian gedung tersebut dijadikan cikal bakal berdirinya PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru) yang sekarang menjadi Unversitas Pendidikan Indonesia (UPI). Bahkan hingga saat ini gedung Isola tetap menjadi ikon UPI.
Namun sayang, sepertinya kini lagu itu sudah jarang dinyanyikan. Mungkin anak-anak zaman sekarang pun sudah tidak tahu lagi, sebab tidak pernah diajarkan oleh gurunya di sekolah. Begitu juga di UPI, selama lima tahun saya menempuh pendidikan di lembaga ini, tidak pernah sekali pun mendengarkan lagu Isola dinyanyikan dalam acara-acara kebesaran UPI oleh grup paduan suaranya, baik dalam prosesi pengukuhan guru besar, wisuda maupun acara dies natalis.
Saya sempat menanyakan kepada teman-teman di kampus, apakah memiliki rekaman lagu itu atau tidak. Tak seorang pun yang memilikinya, baik di grup Kabumi begitu juga teman-teman Jurusan Seni Musik, yang notabene kiblatnya musik di UPI. Padahal seharunya UPI memiliki rekamanya baik untuk dokumentasi pribadi maupun untuk disebarluaskan kepada khalayak ramai, karena isi lagunya mempromosikan UPI.
Sudah beberapa tahun ini UPI mengalami banyak perubahan, baik dalam bentuk fisik maupun nonfisik. UPI menggeliat, pusat kegiatan tak hanya di Isola. Hampir setiap tahun UPI membangun gedung-gedung megah untuk mendukung kegiatan belajar-mengajarnya. Namun sayang, semua desain bangunan barunya ini tidak ada yang mendukung desain bangunan Isola yang merupakan cikal bakal dan ikon UPI.  Memang di UPI terdapat gedung University Center yang didesain sedemikian rupa agar mirip Villa Isola. Namun sayang, terkesan kaku sehingga banyak kalangan menyebutnya sebagai duplikat Isola yang gagal.
Pudarnya Karakter
Lain lagi cerita, suatu saat ketika berjalan bersama teman-teman di lobi salah satu fakultas ada sebuah banner yang isinya cukup menggelitik. Dalam banner itu tertulis "UPI Central Library Opens Until Night!. Lantas salah seorang teman berkata "Rarasaan mah mahasiswa asal luar negri nu kuliah di UPI moal aya kana sapersen-sapersenna acan tina sakabeh jumlah mahasiswa. Tapi naha bet nu kitu-kitu wae ni kudu make bahasa Inggris, enggeus we atuh make bahasa Indonesia 'Perpusatakaan UPI Pusat Buka Sampai Malam."
Saya dan teman yang lainnya tak kuasa menahan tawa. Apa yang ia katakan memang benar, tidak sedikit memang UPI menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Inggris. Contoh lain, di gerbang utama yang merupakan pintu gerbang khusus untuk mobil terpampang tulisan "Gate I" sedangkan di pintu gerbang yang disediakan khusus untuk motor terpampang tulisan "Gate II". Kenapa tidak menggunakan bahasa Indonesia saja, Pintu I atau Pintu II? Atau dalam bahasa Sunda, Lawang 1 dan Lawang II?
Sudah dua bulan ini nama-nama jalan di UPI pun berubah. Kalau dulu, ketika berjalan di UPI akan menemukan jalan dengan nama, "Rincik Bumi", "Buntiris", "Kyai Tapa", "Maha Guru", dan sebagainya, kini nama jalan tersebut hilang, menjadi nama jalan Mohamad Yamin, Garnadi Prawirosudirdjo, dan sebagainya.
Saya pun bertanya-tanya, kenapa para pejabat UPI mengubah nama jalan tersebut. Padahal ketika orang lain berkunjung ke UPI, yang menjadikan mereka berkesan, selain karena Isolanya tapi juga karena nama-nama jalannya. Mereka beranggapan bahwa jalan di UPI itu berkarakter, khas, romantis, sesuai dan sangat mendukung nama gedung Isola atau Bumi Siliwangi.
Ketika membaca berita di isolapos.com tentang perubahan nama jalan di lingkungan UPI saya pun sempat terperangah. Dalam laporan itu, Kepala Biro dan Fasilitas UPI, Purno, menjelaskan kalau pergantian nama jalan di UPI itu karena ketidaktahuan asal-usul nama jalan sebelumnya, "Apakah nama jalan tersebut berasal dari konteks sejarah? Atau legenda? Saya sendiri enggak tahu," begitu kilah Purno.
Saya sangat terkejut, kenapa dengan santainya menjawab tidak tahu? Apakah sebelumnya ia tidak bertanya dulu kepada para sesepuh UPI yang kini sudah pensiun dan pernah menjadi saksi hidup pembuatan nama jalan tersebut, seperti Nu'man Somantri, Elin Sjamsuri, Karna Yudibrata, dan sebagainya.
Kalau dilihat dari sejarahnya, berdasarkan penjelasan Elin Sjamsuri, nama-nama jalan di UPI pertama kali dibuat pada tahun 1958-an. Cikal bakalnya dari pemberian nama Asrama UPI yang diberi nama asrama Dewi Asri dan asrama laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Kedua asrama ini kini sudah tidak ada, bahkan gedung asrama Sangkuriang kini sudah berubah menjadi Masjid Al-Furqon dan yang tersisa hanyalah pohon palemnya yang menjulang tinggi di halaman Al-Furqon.
Setelah memberikan nama kepada kedua asrama tersebut, karena pembangunan di UPI mulai begitu pesat, terutama pembangunan perumahan dosen dan gedung-gedung perkuliahan, maka dibutuhkanlah nama-nama jalan berdasarkan pemikiran para ahli. Nama yang diambil pun dipertimbangkan dengan matang dan harus menyesuaikan dengan ikon UPI yaitu Isola/Bumi siliwangi. Sehingga nama-nama jalan pun dianggap perlu seirama dan sesuai dengan nama ikon UPI itu, yaitu nama-nama tokoh-tokoh mitos, pahlawan, dan nama pohon dalam bahasa Sunda.
Nama-nama jalan itu pun dipilih bukan oleh orang sembarangan. Pertama, oleh RTA Sunarya, Ketua Prodi pertama Jurusan Pendidikan Sejarah UPI, RTA Sunarya, ahli sejarah yang juga sering menjadi sutradara pagelaran gending karesmin. Pagelaran gending karesmen yang paling terkenal yang ia buat dan menjadi legendaries karena kualitasnya jadi bahan perbincangan adalah pagelaran gending Karesmen Lutung Kasarung. Kedua, Barli Sasmitawinata, seorang pelukis realis dan pelopor Jurusan Seni Rupa UPI. Ketiga, Garnadi Prawirosudirdjo yang dikenal sebagai ahli botani yang pernah menjabat sebagai Rektor UPI.
Dari Barli dan RTA Sunarya inilah nama tokoh Guru Minda (tokoh dalam carita pantun Lutung Kasarung), Jayengrana (tokoh wawacan Amir Hamzah), Dewi Asri (tokoh dalam carita pantun Mungdinglaya), Bujangga Manik (Putra Mahkota Raja Padjadjaran), Kyai Tapa (tokoh perjuangan masyarakat Sunda ketika melawan VOC) dan sebagainya dijadikan nama jalan, dan nama itu dianggap sesuai dan selaras dengan Bumi Siliwangi. Begitu juga nama jalan Rincik Bumi, Buntiris, dan Nagasari merupakan nama tumbuhan dalam bahasa Sunda yang disumbangkan oleh Garnadi. Pemikiran Garnadi begitu bagus, ia mengabadikan nama tumbuhan dalam bahasa Sunda sebagai jalan supaya nama itu langgeng. Contohnya adalah nama buntiris. Anak zaman sekarang mungkin tidak akan pernah tahu apa itu buntiris, namun ketika mereka disajikan nama cocor bebek mereka akan tahu. Padahal cocor bebek dan buntiris adalah tumbuhan yang sama.
Jadi sangat disayangkan kalau nama-nama yang antik, berkarakter dan selaras dengan nama Isola itu diubah.  Ketika orang lain saat ini menggali nama-nama arkhaik, antik dan berkarakter untuk dijadikan nama gedung, nama jalan, nama restoran, nama permainan dan sebagainya, seperti Jungleland yang berada di Bogor, nama-nama wahana permainnanya menggunakan bahasa Sunda, seperti wahana Hihiberan dan sebagainya. Untuk penamaan wahana tersebut tidak tanggung-tanggung, mereka mengadakan kerjasama dengan Lembaga Riset LIPI. Bayangkan lembaga bisnis tapi berkarakter lokal, sementara UPI, sebagai lembaga pendidikan, nama-nama lokal yang sudah ada pun dihilangkan. Sangat miris dan aneh.
Kalau nama-nama jalan di UPI menggunakan nama tokoh, apa bedanya dengan jalan-jalan yang lain? Tidak memiliki cirikhas dan tidak mendukung ikon UPI. Bila memang UPI keukeuh ingin mengenang jasa para rektornya, kenapa tidak digunakan sebagai nama gedung di kampus saja? Bukankah gedung-gedung di UPI hingga saat ini belum memiliki nama? Padahal pada saat kepemimpinan Nu'man Somantri tradisi itu sudah mulai diterapkan. Contohnya, pada akhir 1980- an, Nu'man memberi nama teater terbuka UPI dengan nama RTA Sunarya, yang kini sudah dipugar dan dihancurkan. Kemudian Gedung FPIPS yang sekarang menjadi gedung FPEB dengan nama Garnadi.
Memang kita itu harus mengikuti perkembangan global. Tapi ingat yang harus diikuti itu adalah pemikirannya, tapi dalam berkegiatan harus berdasarkan kearifan lokal. Think global action local. Kalau UPI tidak melaksanakannya, buat apa selama ini para akademisi UPI dalam ceramah, kuliah umum, dan seminar-seminar selalu berbicara tentang pendidikan karakter sementara UPI sendiri tidak menerapkannya? ***

Editor: cep
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved