A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Kampung Sepi Itu Kini Menggeliat - Tribun Jabar
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 29 Agustus 2014
Tribun Jabar

Kampung Sepi Itu Kini Menggeliat

Senin, 17 Juni 2013 18:15 WIB
Oleh Mega Nugraha

SUHU
udara di Desa Pangarengan, Kecamatan Legon Kulon, Kabupaten Subang, Minggu (16/6) jelang siang, menunjukkan 32 derajat celcius. Dengan infrastruktur jalan desa yang rusak berat, berlubang, bergelombang, dan jalan berupa tanah merah dan kerikil, mobil yang melintasinya terkadang tergelincir karena licin.

Butuh sekitar dua jam dari Pamanukan menuju dusun terpencil yang lokasinya berada di tengah puluhan ribu hektare hutan bakau ini, atau butuh lima jam perjalanan dari pusat Subang kota.

Dusun ini hanya dihuni 32 kepala keluarga yang umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Dusun ini berada di tepi daratan di Tanjung Cirewang perairan laut Jawa. Sebagian besar rumah di dusun ini berdinding bilik dan beralaskan tanah. Sejak listrik menerangi dusun ini sekitar tiga tahun lalu, dinamika dusun ini mulai menggeliat.

"Meski terpencil, setidaknya kami bisa menikmati hiburan di televisi atau radio. Dan jika malam, tidak lagi gelap," kata Warsa Ismaya (59), pria yang ditokohkan di dusun tersebut.

Menurut Warsa, sejak dialiri listrik, kehidupan warga di dusun terpencil itu juga diwarnai dengan kehadiran dua tempat karaoke milik warga. Sayangnya, belakangan tempat itu menjadi tempat penampungan perempuan penjaja cinta yang datang dari beberapa daerah di kawasan pantai utara Jawa. Dua tempat itu selalu ramai dengan dentuman musik dangdut khas pantura.

"Tapi jangan salah, itu perempuannya bukan orang sini, tapi orang luar yang datang ke sini. Biasanya 10-15 hari mereka tinggal di sini kemudian pergi lagi. Lelaki hidung belang yang sering bersama perempuan-perempuan itu juga bukan dari sini, melainkan dari daerah luar atau nelayan di laut yang singgah di sini," ujarnya.

Dusun ini juga menyimpan cerita tentang murid sekolah dasar yang terpaksa berjibaku melewati jalanan yang rusak dan berlumpur untuk pergi ke sekolahnya di Kampung Pangarengan, dengan jarak tiga kilometer melintasi hutan bakau.

"Kami memang mendirikan rumah di lahan hutan bakau milik Perhutani. Uang yang dihasilkan nelayan dari hasil menjual ikan ke pelelangan kurang mencukupi untuk memperbaiki rumah. Menyekolahkan anak kami nilai sudah cukup meskipun anak-anak kami harus berjalan jauh dengan jalan penuh lumpur menuju sekolah mereka di MI Al Khoer. Kalau hujan, jalan satu-satunya ke sekolah mereka penuh lumpur. Air dari rawa-rawa pun melimpas ke jalanan. Kalau sudah seperti itu, mereka tidak berangkat sekolah. Diantar pakai motor juga sulit kalau jalan sudah seperti itu," ujar Rasmita (34).

Lain lagi cerita siswa SMP dan SMA. Mereka umumnya harus bersekolah di sekitar Legon Kulon atau Kecamatan Pamanukan yang jaraknya mencapai 5-6 kilometer dari dusun mereka. "Kalau hujan mereka tidak bisa berangkat ke sekolah. Umumnya mereka memilih membantu orang tua dengan pergi melaut mencari ikan," ujarnya.

Untuk pergi melaut, para nelayan harus melewati aliran Sungai Cirewang yang diapit oleh hutan bakau di kiri dan kanan sungai yang rapat sejauh 1 kilometer. Setibanya di ujung sungai, tibalah di Tanjung Cirewang yang masih termasuk perairan Laut Jawa. Di Tanjung Cirewang ini, terdapat dataran yang menjorok ke laut sepanjang 600 meter dengan lebar 6-10 meter.

Di perairan Tanjung Cirewang dan perairan laut Jawa inilah para nelayan Dusun Cirewang mencari ikan. Rupa-rupa ikan laut bisa nelayan dapatkan di perairan tersebut. Rata-rata, mereka melaut sejak  subuh hingga menjelang sore.

"Setiap hari kami melaut di perairan ini. Paling sedikit satu kuintal ikan bisa terjaring. Ikannya kami jual ke TPI di dusun kami. Hasil penjualannya untuk biaya kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk anak- anak sekolah," ujar Saputra (50), nelayan yang mengantarkan Tribun ke Tanjung Cirewang.

Pemkab Subang telah meresmikan Tanjung Cirewang sebagai tempat wisata alternatif di kawasan pantura Subang. Dengan ombak yang tidak terlalu keras serta kawasan pantai yang tidak terlalu dalam, kata Saputra, pengunjung bisa berenang di sana.

"Pantai ini sekarang mau dijadikan wisata Pantai Cirewang. Tentunya ini menambah harapan agar daerah ini berkembang suatu saat nanti. Tapi mungkin itu masih lama karena jalan menuju ke sini masih rusak parah. Tapi bagaimanapun juga, kami selalu berharap bahwa dusun kami ini bisa maju suatu saat nanti," kata Saputra. (*)
Penulis: men
Editor: dar
Sumber: Tribun Jabar
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
207052 articles 4 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas