Sabtu, 25 April 2015

Kampung Sepi Itu Kini Menggeliat

Senin, 17 Juni 2013 18:15

SUHU udara di Desa Pangarengan, Kecamatan Legon Kulon, Kabupaten Subang, Minggu (16/6) jelang siang, menunjukkan 32 derajat celcius. Dengan infrastruktur jalan desa yang rusak berat, berlubang, bergelombang, dan jalan berupa tanah merah dan kerikil, mobil yang melintasinya terkadang tergelincir karena licin.

Butuh sekitar dua jam dari Pamanukan menuju dusun terpencil yang lokasinya berada di tengah puluhan ribu hektare hutan bakau ini, atau butuh lima jam perjalanan dari pusat Subang kota.

Dusun ini hanya dihuni 32 kepala keluarga yang umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Dusun ini berada di tepi daratan di Tanjung Cirewang perairan laut Jawa. Sebagian besar rumah di dusun ini berdinding bilik dan beralaskan tanah. Sejak listrik menerangi dusun ini sekitar tiga tahun lalu, dinamika dusun ini mulai menggeliat.

"Meski terpencil, setidaknya kami bisa menikmati hiburan di televisi atau radio. Dan jika malam, tidak lagi gelap," kata Warsa Ismaya (59), pria yang ditokohkan di dusun tersebut.

Menurut Warsa, sejak dialiri listrik, kehidupan warga di dusun terpencil itu juga diwarnai dengan kehadiran dua tempat karaoke milik warga. Sayangnya, belakangan tempat itu menjadi tempat penampungan perempuan penjaja cinta yang datang dari beberapa daerah di kawasan pantai utara Jawa. Dua tempat itu selalu ramai dengan dentuman musik dangdut khas pantura.

"Tapi jangan salah, itu perempuannya bukan orang sini, tapi orang luar yang datang ke sini. Biasanya 10-15 hari mereka tinggal di sini kemudian pergi lagi. Lelaki hidung belang yang sering bersama perempuan-perempuan itu juga bukan dari sini, melainkan dari daerah luar atau nelayan di laut yang singgah di sini," ujarnya.

Dusun ini juga menyimpan cerita tentang murid sekolah dasar yang terpaksa berjibaku melewati jalanan yang rusak dan berlumpur untuk pergi ke sekolahnya di Kampung Pangarengan, dengan jarak tiga kilometer melintasi hutan bakau.

Halaman12
Penulis: men
Editor: dar
Sumber: Tribun Jabar
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas