23 Tahun Dede Hidup di Atas Kasur
Kedua kakinya terlihat tertekuk kaku. Saking kakunya, kedua kakinya itu tak bisa diluruskan agar sejajar dengan tubuhnya yang terbaring.
Penulis: cis | Editor: Darajat Arianto
DEDE (23) terbujur kaku di atas kasur tipis di rumahnya di RT 04/RW 08, Kampung Ciranjang, Desa Ciranjang, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Rabu (12/6). Kedua kakinya terlihat tertekuk kaku. Saking kakunya, kedua kakinya itu tak bisa diluruskan agar sejajar dengan tubuhnya yang terbaring.
Kedua tangannya pun serupa, tertekuk kaku di atas badannya. Hanya kepalanya yang mampu bergerak ke kanan dan ke arah kiri. Ia pun hanya bisa menggumam untuk berkomunikasi dengan orang di sekitarnya.
Butuh pijatan lembut Iyah (48), ibunya, agar kedua kaki dan tangannya lurus sejajar dengan kasur tipisnya yang sudah terlihat kecokelatan dan usang.
Kondisi anak pasangan Abidin (60) dan Iyah ini sudah berlangsung 23 tahun. Selama itu pula Dede melakukan semua aktivitasnya di atas kasur. "Mulai buang air kecil, buang air besar, makan, minum, tidur di atas kasur," kata Iyah ketika ditemui di kediamannya, Rabu (12/6).
Menurut Iyah, anak keduanya itu memang tak bisa duduk seperti orang normal sejak terserang kelumpuhan. Kelumpuhan mulai diketahui Iyah ketika Dede berusia tujuh bulan lantaran Dede mengalami kejang-kejang hampir setiap hari.
"Waktu lahir dia normal, tidak ada kelainan apa-apa. Tapi tiba-tiba ia sering panas tinggi hingga step sampai akhirnya kedua kaki dan tangannya kaku," kata Iyah.
Iyah mengatakan, Dede pernah dibawa ke dokter anak untuk mengetahui penyebab kakunya kedua tangan dan kakinya. Namun Iyah mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pemeriksaan guna mengetahui pasti sakit anaknya tersebut.
"Setelah kami mengetahui bukan polio, kami hanya merawatnya di rumah seperti ini. Sebab, kami tidak memiliki biaya lagi untuk pengobatan," kata Iyah.
Setiap hari, kata Iyah, Dede meminum susu sebagai asupan makanannya. Dalam sehari Dede minum dua gelas susu. Tanpa susu, kata Iyah, anaknya tak akan mau menyantap makanan yang ia sediakan. "Kalau makan sebetulnya normal, mau makan apa saja. Terkadang kalau ada rezeki saya kasih daging ayam. Tapi kalau tidak ada susu, dia memilih puasa," kata Iyah.
Namun keterbatasan biaya membuat Iyah harus berutang untuk membeli susu. Untuk membeli susu, ia harus merogoh kocek sebesar Rp 12 ribu untuk satu kaleng susu. Padahal, Iyah hanya berjualan ketupat di pinggir rel di Stasiun Ciranjang.
Dari pekerjaannya itu ia pun hanya mengantongi Rp 15 ribu per hari, jumlah yang jauh dari cukup untuk menghidupi keluarganya. Apalagi ia masih membiayai sekolah anak ketiganya yang terlahir normal. Wahid (15) kini menempuh pendidikan di kelas tiga SMP. Suaminya pun tak lagi bekerja sebagai buruh serabutan setelah sakit.
Iyah menyebut, kondisi Dede ternyata juga dialami anaknya yang pertama, yakni Asep Suryana (26). Asep dan Dede pun sempat berada di atas satu kasur. Namun anak pertamanya itu meninggal setahun yang lalu.
Selama ini, kata Iyah, anaknya belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Padahal keinginan Iyah untuk kesembuhan anaknya sangatlah besar. "Sampai saat ini anak saya belum pernah menikmati udara di luar. Ia hanya bisa melihat televisi milik tetangga," kata Iyah. (*)