Selasa, 9 Juni 2026

Eksklusif

Guru Honorer Tergiur Honor Nasional

Sedikitnya 31 guru bantu sukarelawan dan honorer di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, melaporkan dugaan penipuan dan penggelapan

Tayang:
Penulis: cis | Editor: Darajat Arianto

* Diduga Jadi Korban Penipuan Oknum Guru PNS

CIANJUR, TRIBUN - Sedikitnya 31 guru bantu sukarelawan (GBS) dan honorer di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, melaporkan dugaan penipuan dan penggelapan uang ke pihak Polsek Ciranjang Jumat (4/6).

Guru-guru itu merasa tertipu setelah memberikan sejumlah uang kepada oknum guru berinisial DS untuk mengikuti program honor nasional (hornas). Kabarnya, hornas merupakan program utama dari pemerintah pusat untuk menyejahterakan guru-guru yang masih berstatus honorer.

Akan tetapi, program yang dijanjikan oknum guru tersebut ternyata tak kunjung terealisasi hingga Juni ini. Akibatnya, ke-31 guru tersebut resah lantaran uang yang telah diserahkan kepada DS sejak Januari lalu jumlahnya tak sedikit.

Sebut saja Dinda (22), seorang GBS di sebuah sekolah swasta ternama di Kabupaten Cianjur, mengaku sudah menyerahkan Rp 5 juta untuk mengikuti program hornas tersebut. "Saya ikut program itu pada pertengahan bulan Januari 2013," kata Dinda ketika ditemui Tribun di kediamannya, Rabu (12/6).

Ketertarikan Dinda mengikuti program yang dijanjikan DS itu bukan tanpa alasan. Ia mencoba mengikuti program hornas seperti yang dijanjikan DS lantaran program GBS tidak lagi diadakan oleh pemerintah. "Programnya seperti apa, tidak tahu. Saya juga baru tahu program hornas itu dari dia (DS, Red)," kata Dinda.

Wanita yang sudah tiga tahun menjadi GBS ini pun mengaku sudah bertemu langsung dengan DS ketika memaparkan program hornas. "Ucapan dia (DS) sangat meyakinkan, apalagi dia mengaku punya hubungan dengan pusat," kata Dinda.

Langkah Dinda itu ternyata juga diikuti sejumlah kawannya di tempatnya mengajar. Rekannya yang masih berstatus honorer itu ikut program hornas setelah mendengar kabar dari mulut ke mulut dan bertemu secara langsung dengan DS.

Menurut Dinda, puluhan guru honorer tersebut dijanjikan DS akan lolos program hornas setelah tiga bulan mendaftarkan diri dan menyerahkan uang. Dikatakannya, DS menjanjikan pada bulan Maret puluhan guru yang ikut program itu akan mendapat semacam surat keputusan (SK) dari Kemendikbud.

"Sejak Januari kami sudah ikut. Tapi karena Maret tidak ada kabar, kami pun mulai curiga dan menanyakan hal tersebut kepada DS. Tapi katanya kurang persyaratan," kata Dinda.

Kejadian itu membuat Dinda merasa kesal. Pasalnya, sebagai GBS yang hanya bergaji Rp 400 ribu sebulan, ia harus kehilangan uang Rp 5 juta. Apalagi uang yang dipakainya untuk mengikuti program tersebut dari orang tuanya. "Ya, sekarang cuma bisa pasrah dan berharap uang itu bisa kembali," kata Dinda.

Lapor Ke Polisi
Ohan Kosasih (51), warga Kampung Cilandak, Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, mengatakan, dua anaknya, seorang keponakan, dan dua saudaranya mengikuti program tersebut melalui DS. Kelima orang itu pun sudah menyetorkan paling sedikit Rp 5 juta kepada DS.

"Paling banyak Rp 10 juta karena segera ingin dapat SK. Lagi pula, dia (DS, Red) mengaku punya kenalan orang Kemendikbud," kata Ohan, yang juga menjadi saksi di Polsek Ciranjang itu.

Diceritakan Ohan, tawaran ikut program hornas didapatnya ketika ditanya DS tentang status kedua anaknya yang menjadi guru honorer. Ia diceritai DS bahwa program hornas merupakan program khusus bagi guru honorer dan GBS yang dibiayai pemerintah.

"Kalau ikut hornas, bisa dapat gaji Rp 2.450.000 per bulan dan statusnya hampir sama dengan PNS, hanya saja tidak ada nomor induk pegawainya. Selain itu, untuk ikut program itu tanggal mulai terhitung (TMT) dimulai dari Januari 2013," kata Ohan.

Melihat kemudahan itu, Ohan pun menggelontorkan uang untuk kedua anaknya. Kedua saudara dan keponakannya pun melakukan hal yang sama. Namun melihat tidak ada kepastian, ia pun meminta DS mengembalikan uang yang telah diserahkan.

"Dia berjanji akan mengembalikan uangnya, tapi tidak ada realisasinya. Akhirnya kami melaporkan ke polisi karena sudah kesal. Untuk selanjutnya kami pasrahkan ke polisi nunggu realisasi," kata Ohan, yang juga seorang guru. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved