DBD Tak Bisa Diprediksi Akibat Anomali Cuaca
ejak Januari hingga April 2013, terdapat 95 kasus demam berdarah di Kabupaten Garut. Tidak ada korban meninggal akibat penyakit yang kerap
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Darajat Arianto
Tatang mengatakan demam berdarah biasanya mengancam warga pada Januari-Maret dan September-November. Namun, akibat terjadi anomali cuaca, peningkatan kasus demam berdarah tidak dapat diprediksi lagi.
"Demam berdarah kebanyakan menyerang kawasan perkotaan. Nyamuk ini sangat elit, nyamuk ini tidak mau berkembang biak dalam air yang tercemar atau bertanah. Airnya harus benar-benar bersih, seperti air di genangan ban atau rongsokan," kata Tatang di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Kamis (30/5).
Ancaman penyakit lainnya akibat vektor nyamuk di Kabupaten Garut, ujarnya, adalah malaria. Penyakit ini kerap mewabah di kawasan selatan Kabupaten Garut. Nyamuk malaria, ujarnya, biasa berkembang biak di rawa dan laguna di pantai selatan.
"Pada Januari-April 2013, terdapat 56 kasus malaria di Garut. Kami mencegah malaria dengan menyebar ikan di laguna atau rawa. Tapi, masyarakat malah memancingnya tanpa menanamnya kembali. Akhirnya habis," kata Tatang.
Walaupun fogging dinyatakan dapat menyebabkan resistensi nyamuk, fogging tetap dilakukan di Kampung Astanagirang, Desa Sukajaya, Kecamatan Tarogongkidul. Fogging masih dianggap upaya terampuh mencegah wabah demam berdarah.
Camat Tarogongkidul, Otto Iskandar, mengatakan fogging dilaksanakan atas permintaan masyarakat. Warga kemudian bermusyawarah dan melakukan pengasapan untuk membunuh nyamuk di RW 3 dan RW 4.
"Kebetulan minggu lalu ada kejadian enam orang dirawat di rumah sakit karena demam berdarah, sekarang sudah pulih. Ini upaya antisipasi supaya tidak terulang. Apalagi kawasan ini rawan karena merupakan kawasan padat penduduk," ujarnya. (*)