Selasa, 9 Juni 2026

Animator Indonesia Banyak Eksodus ke Luar Negeri

Banyak animator Indonesia diserap menjadi pekerja untuk perusahaan animasi asing.

Tayang:
Penulis: feb | Editor: Kisdiantoro
BANDUNG, TRIBUN - Di Asia, Jepang sudah memiliki trademark sebagai industri animasi terbesar. Namun kini, negara-negara Asia lainnya seperti Korea, Cina, hingga Malaysia, mulai mengembangkan industri animasinya. Sama halnya dengan Indonesia, hanya saja sumber daya manusia Indonesia diserap menjadi pekerja untuk perusahaan animasi asing.

Retno Setyowati Renggana, Direktur Eksekutif Yayasan Inovasi Creative Indonesia (I Creative), mengatakan beberapa film animasi luar negeri seperti "The Adventures of Tintin", "Kung Fu Panda", "Madagascar" dan beberapa fil box office ternama lainnya, ada campur tangan animator Indonesia dalam pembuatannya. 

"Di Indonesia sebenarnya banyak yang berbakat, tapi mereka braindrain, alias eksodus ke negara lain. Sayangnya televisi-televisi kita tidak mau membeli karya dalam negeri. Mereka lebih memilih produk murah dari luar negeri," ujarnya, usai seminar "Creative Industries, Innovation The Smart Economy" di Embassy Room Hotel Savoy Homann, Jalan Asia Afrika Bandung, Jumat (24/5).

Permasalahannya, kembali pada perhatian pemerintah. "Di Korea Selatan, bahka ada lembaga seperti Komite Industri Kreatif Jawa Barat, tapi skala nasional dan lembaga ini khusus di bidang ICT dan animasi. Saya sudah pernah kesana dan mengirim beberapa animator Indonesia untuk ke sana. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga semestinya lebih giat melakukan internship dan membuat sekolah formal untuk pendidikan," ujar Retno.

Muhammad Irfan, Board of Director I Creative, mengatakan kendala pelaku industri animasi Indonesia, yakni membuat proyek tanpa meriset terlebih dulu ke pasar. Hal ini membuat investor tidak yakin karena memperhitungkan pangsa pasar. "Pada tahap tersebut memang haus ada kebijakan dari pemerintah dengan dana kebijakan yang tidak memberatkan. Kalau tidak dimulai seperti itu akan sulit. Sehingga memang harus ada yang namanya investor gila yang tidak melihat market," katanya. (bb)
Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved