Di Desa Ini Tak Ada Penganggur
Kita juga akan sulit mencari tukang atau buruh bangunan di desa yang dibelah Sungai Cihonje dengan air yang jernih ini.
Penulis: Deddi Rustandi | Editor: Darajat Arianto
DI Desa Gunasari, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, kita akan sulit mencari penganggur. Kita juga akan sulit mencari tukang atau buruh bangunan di desa yang dibelah Sungai Cihonje dengan air yang jernih ini.
Desa yang terkenal dengan talas sembir ini terletak di daratan cukup tinggi karena daerahnya merupakan kawasan Pegunungan Kareumbi serta di bawahnya mengalir Sungai Cihonje yang mengairi areal persawahan. Di desa ini tak ada warga yang berkerumum saat siang hari karena tak punya pekerjaan.
Di desa berpenduduk 5.340 jiwa itu, semuanya memiliki pekerjaan. Bahkan orang yang lulus sekolah banyak yang bekerja mengikuti jejak pendahulunya ke luar Sumedang atau menjadi perajin secara turun-temurun.
"Kalau musim tanam atau panen saja, pemilik dan penggarap lahan pertanian harus mencari pegawai ke luar Desa Gunasari," kata Kepala Desa Gunasari, Nono Saefudin (64), saat ditemui ketika sedang melakukan tanam perdana padi bersama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, Minggu (12/5).
Bahkan buruh atau tukang tembok dan kayu membangun rumah saja tidak ada dan harus mencari ke luar desa. Padahal, kata dia, warga di Gunasari itu terkenal jago membuat perabot rumah tangga dari kayu. "Tapi mereka tidak membuat mebel di Gunasari, melainkan bekerja ke Jakarta di perusahaan furnitur," kata Nono, yang sudah dua periode menjadi kepala desa.
Menurut Nono, beberapa warga malah bekerja di perusahaan furnitur di Singapura dan Korea Selatan. "Menjadi pembuat mebeler itu sudah turun-temurun dan banyak yang bekerja di luar. Perajin mebel yang bekerja di luar ini lebih dari 200 orang," kata Nono.
Nono mengatakan, ada beberapa yang bertahan dengan membuat perabot di Kampung Sembir. "Tapi sekarang jumlahnya sedikit," katanya.
Di desa seluas 645 hektare dengan 180 hektare lahan sawah ini banyak yang menjadi perajin. Banyak warga yang menjadi perajin sapu uyun sampai membuat wadah mencetak tahu Sumedang (ancak). "Warga kami juga banyak yang bekerja menjadi penjual dan pedagang tahu Sumedang di Kalimantan dan Sumatra," kata Nono.
Menurut Nono, jumlah pedagang tahu Sumedang di luar Pulau Jawa mencapai lebih dari 600 orang. "Ada pengusaha tahu Sumedang yang sukses di Kalimantan dan Sumatra dan membawa pegawai dari Desa Gunasari," katanya. (*)