Selasa, 9 Juni 2026

Mobil Pengiriman Uang yang Dirampok Tak Dikawal Polisi

Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Abdul Rachman Baso menegaskan, saat peristiwa yang terjadi sekitar pukul 01.30, Minggu (28/4) itu, G4S tidak

Tayang:
Penulis: Dicky Fadiar Djuhud | Editor: Darajat Arianto
BANDUNG, TRIBUN - Polisi masih menyelidiki kasus perampokan Rp 2,99 Miliar dari mobil jasa pengiriman uang, G4S. Kepala Kepolisian Resor Kota Besar (Kapolrestabes) Bandung, Kombes Pol Abdul Rachman Baso menegaskan, saat peristiwa yang terjadi sekitar pukul 01.30, Minggu (28/4) itu, G4S tidak dikawal oleh petugas dari kepolisian.

Penyelidikan kini masih berlangsung dan dilakukan oleh anggota Reskrim Polrestabes Bandung didukung personel Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrim Um) Polda Jabar. Hingga saat ini, polisi telah memeriksa sedikitnya delapan orang saksi termasuk dua diantaranya adalah korban Dolly Indra (pengemudi G4S) dan Deden (teknisi ATM). Selain itu, pihak  perusahaan G4S di Jakarta dan Bandung, serta satpam jasa pengamanan di perusahaan G4S.

"Pelaku diduga dua orang, yang pertama itu. Pada perkembangannya, nanti kita lihat. Satu orang lagi, kemungkinan keterlibatan dari pengawalnya itu, masih kita selidiki. Pada dasarnya, protap pengirimannya kan sudah ada dan mereka (G4S) punya sendiri. Kita harapkan, ada polisinya yang mengawal itu. Tapi, ini tidak ada. Jadi, dari outsourching internal mereka. Nah, pengawalnya itu kita selidiki karena kan tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang," ujar Rachman didampingi Kasat Reskrim Polrestabes Bandung AKBP Trunoyudo Wisnu Andiko di Mapolrestabes Bandung, Senin (29/4).

Pada saat kejadian, pelaku pertama kali melumpuhkan teknisi bernama Deden dengan alat kejut listrik. Setelah itu, Deden disekap dan diikat mata serta mulutnya dengan menggunakan lakban. Dolly Indra yang bertugas sebagai sopir masih dalam keadaan sadar namun dibawah bayang-bayang ancaman para pelaku.

Dolly dilumpuhkan dengan alat kejut dan kemudi diambil oleh salah seorang pelaku, setelah sebelumnya dibawa berputar-putar di dalam Kota Bandung. Sama halnya, Dolly pun diikat mata dan kedua tangannya oleh lakban.

"Setelah melumpuhkan dua korban, pelaku lantas mencoba membuka tempat penyimpanan uang yang berada dibelakang mobil," kata Kasatreskrim.

Dalam kondisi tersebut, para pelaku melakukan prosedur yang salah. Mengingat mobil sudah dilengkapi dengan sistem interlock pintu. Semua pintu mengunci dengan sendirinya, termasuk pintu keluar yang tidak bisa dibuka.

Karena interlock berfungsi, pelaku yang sudah mengetahui sistem kerja penguncian, akhirnya memilih untuk merusak jendela pintu samping sebagai jalan keluar. Termasuk saat 'membuang' Doly dan Deden di kawasan Saguling dan sekitar rest area di Cianjur.

Polisi menduga aksi perampokan ini sudah direncanakan oleh para pelaku. Seperti halnya telah menyiapkan alat kejut listrik dan lakban untuk mengikat korban. Selain itu, polisi mencari alat bukti guna memperkuat penyelidikan. Alat bukti yang sudah ada antara lain mobil, benda dirusak, jejak sidik jari, dan hasil visum korban.

"Dua korban, mulai berangsur pulih. Mereka mengalami luka akibat disetrum. Tapi, sudah diobati. Ada bekas luka lecet bekas disetrum di bagian leher, kaki, dan bagian badan," ungkap Yudo.

Pelaku hanya sempat mengambil tiga bag berisi uang. Satu bag itu bobotnya memang berat. Satu bag setidaknya perlu diangkut oleh satu orang. Oleh karena itu, diduga pelaku merasa kesulitan. Sejumlah bag tidak dibawa pelaku. Jadi, polisi menduga pelaku bukan menyisakan uang.

Kedua korban disekap di kursi bagian belakang, di bagian tengah mobil dengan posisi disekap dan ditodong. Mata dan mulut kedua korban dilakban. Pelaku juga berkali-kali menyetrum kedua korban hingga pingsan.

Diberitakan sebelumnya, Kawanan rampok membawa kabur uang Rp 2,99 Miliar yang hendak dimasukan ke dalam sejumlah mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Kota Bandung. Tak ada korban jiwa pada peristiwa ini, hanya dua kru jasa pengiriman uang, G4S sempat pingsan setelah dilumpuhkan oleh kawanan rampok menggunakan alat kejut listrik.

Polisi masih melakukan penyelidikan kasus perampokan yang terjadi di kawasan ATM Centre di sebuah pusat perbelanjaan, Jalan Sunda, Bandung sekitar pukul 01.30, Minggu (28/4). Satu pengawal dari jasa pengiriman uang, G4S belum diketahui ada tidaknya keterlibatan dengan kawanan rampok yang berjumlah dua orang tersebut.

Sopir atas nama DI ditemukan di Kampung Mekarsari, Desa Saguling, Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung Barat. Begitupun dengan teknisi pengisian ATM, DN ditemukan di Rest Area Kabupaten Cianjur. Keduanya, ditemukan oleh petugas dalam keadaan pingsan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved