Selasa, 9 Juni 2026

Air Garam Keluar dari Kaki Gunung Tampomas

WARGA Sumedang menyebutnya sirah Ci Uyah. Disebut Ci Uyah karena dari bawah pohon kelapa itu keluar mata air dengan rasa asin

Tayang:
Penulis: Deddi Rustandi | Editor: Darajat Arianto
Oleh Deddi Rustandi

WARGA Sumedang menyebutnya sirah Ci Uyah. Disebut Ci Uyah karena dari bawah pohon kelapa di pematang sawah itu keluar mata air dengan rasa asin seperti uyah (garam). Selain memiliki rasa asin, air yang keluar juga terasa hangat.

Bahkan di sawah yang masih ditanami padi berusia beberapa hari ini terlihat gelembung-gelembung air yang keluar. Bukan hanya gelembung, tapi ketika didengarkan seperti air yang sedang mendidih.

"Air seperti ini sudah ada sejak saya lahir bahkan kakek saya juga bercerita sudah ada sejak lama," kata Sadi Suhendi (47), seorang petani yang ditemui saat menggarap sawah di kawasan itu, kemarin.

Air paling besar keluar dari sebuah lubang persis di bawah pohon kelapa. "Warga mengalirkan air itu ke sebuah pancuran karena suka dipakai mandi dan berobat bagi yang memiliki penyakit gatal-gatal," timpal Engkas Kaswati (44), petani yang lainnya.

Lokasi air berasa asin ini ada kaki Gunung Tampomas di Blok Seuseupan, Dusun Cimarga, Desa Karanglayung, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang. "Oleh warga dimanfaatkan untuk mengobati orang yang sakit gatal-gatal saja dan selebihnya dibuang ke saluran selokan," kata Sadi.

Saluran yang terkena air juga menjadi warna oranye dan tercium sedikit bau besi. "Warga di sini menyebutnya tipeureu (menetes). Air yang keluar dari mata air terasa hangat, tapi kalau yang keluar di pematang sawah dalam bentuk gelembung tak terasa hangat. Hanya saja airnya memang terasa asin," kata mereka.

Walaupun musim kemarau, air tetap keluar dan hangat. "Saat kemarau air tetap ada dan panasnya tetap saja hangat," katanya.

Sumber mata air asin ini berjarak 1 km dari jalan raya Conggeang-Buahdua. Masuk ke jalan Desa Karanglayung dan naik pematang sawah yang berjarak 50 meter. Lokasi Ci Uyah ini sekitar 2 km sebelum sumber air panas atau Cipanas, Cileungsing, Conggeang. "Dulu sempat ada yang datang, kulitnya putih, bule bawa peralatan, tapi tak datang lagi," kata Engkas.

Selain mandi untuk obat gatal, warga juga memanfaatkan untuk memberi minum sapi. "Warga yang memiliki sapi, biasanya mengambil dengan ember dan airnya diminumkan ke sapi," katanya.

Engkas bahkan memperlihatkan dan membawa air dengan ember dari mata air Ci Uyah, kemudian meminumkan ke sapi yang ada di kandang tak jauh dari lokasi. Air itu langsung di minum sapi.

Bahkan, kata mereka, ketika masih banyak yang memiliki sapi dan digembalakan di Gunung Tampomas, banyak yang turun ke sumber air Ci Uyah ini untuk minum. "Sapi-sapi itu turun gunung tanpa ada yang mengarahkan untuk minum," katanya.

Dikisahkan, sebelum garam dijual di warung-warung, warga di sana membuat garam dari air Ci Uyah itu. "Air Ci Uyah ini digodok hingga mendidih kemudian dibiarkan dan menjadi kristal. Tapi sekarang tak ada lagi yang membuat garam karena di warung banyak garam dijual," kata Engkas, yang mengaku pernah membuat garam dari air Ci Uyah ini. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved