Selasa, 9 Juni 2026

Pacu Adrenalin Berdekatan dengan Buaya Baron

MENYUSURI jalan sepanjang 2 kilometer dengan pemandangan berupa hutan bakau (mangrove) yang sepi dan berawa di kiri dan kanan jalan terasa

Tayang:
Penulis: Mega Nugraha | Editor: Darajat Arianto
Oleh Mega Nugraha

MENYUSURI jalan sepanjang 2 kilometer dengan pemandangan berupa hutan bakau (mangrove) yang sepi dan berawa di kiri dan kanan jalan terasa mencekam bagi orang yang belum terbiasa. Belum lagi nyamuk-nyamuk di hutan bakau beterbangan mencari mangsa.

Begitulah yang terasa saat kita hendak mengunjungi penangkaran buaya di Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang. Untuk menuju tempat ini dari Subang, kita harus melintasi jalur pantai utara (pantura) sepanjang 15 kilometer dari Kecamatan Pamanukan.

Penangkaran buaya ini dibangun pada 1980-an. Lokasinya diapit hutan bakau dan aliran Sungai Blanakan. "Jumlah keseluruhan ada 600 ekor. Namun yang sudah dewasa ada 450 ekor," kata Sarmin, penjaga penangkaran buaya, kepada Tribun, Sabtu (16/3).

Buaya-buaya ini merupakan buaya air tawar yang awalnya sengaja didatangkan dari Kalimantan. "Ada dua buaya dari Kalimantan. Namanya Baron, dengan berat lima kuintal, berumur 25 tahun, dan Jack, dengan berat tujuh kuintal berumur 20 tahun. Mereka yang pertama ada di sini. Mereka disimpan di kolam utama dengan didampingi tiga betina," katanya.

Keberadaan Baron dan Jack saat ini difungsikan untuk berkembang biak serta wisata. Baron sudah jinak sehingga sering dimanfaatkan untuk atraksi buaya, sedangkan Jack masih ganas. "Kalau ada atraksi buaya, Jack berperan sebagai pembunuh, si Baron berperan melawak," katanya.

Selain untuk wisata, Baron dan Jack juga menjadi pejantan untuk proses berkembang biak. Ratusan buaya yang ada di sana merupakan keturunan Baron dan Jack. "Keturunan Baron dan Jack sudah banyak. Dari usia 1 tahun hingga 15 tahun," kata dia.

Menurut dia, pengembangbiakan buaya ini, selain untuk tujuan wisata, juga memenuhi kebutuhan pasar di Bali dan Thailand. Dari produk kulit satu ekor buaya berukuran besar bisa dihasilkan Rp 2 juta hingga Rp 10 juta, berupa dompet, sepatu, tas, hingga jaket. Pembuatan produk tersebut menggunakan kulit buaya berusia 8-15 tahun.

Sarmin menjelaskan, agar bisa terus memproduksi barang dari kulit buaya, setiap tahun mereka menernakkan buaya. Setahun buaya bertelur 1 kali dengan jumlah 30-35 butir. Namun tidak semua telur tersebut akan menetas. Tergantung cuaca. Jika menggunakan cahaya matahari, proses penetasan bisa mencapai 100 hari. Namun jika menggunakan alat bantu listrik, 40 hari sudah bisa menetas.

"Kalau cuacanya kemarau penuh saat proses penetasan, telur menetas akan banyak. Tapi jika cuacanya kurang mendukung, paling 15 hingga 20 telur yang akan menetas. Dalam proses penetasan, kami juga memanfaatkan energi listrik jika cuaca tidak mendukung," katanya.

Di lokasi ini, pengunjung tidak perlu takut mendekati buaya seperti Baron. Pengunjung bisa masuk ke halaman kolam. Bahkan, jika berani, setiap orang bisa memegangnya. Namun pengunjung harus memacu adrenalin ketika dekat Baron atau melihat buaya lain di setiap kandang.

Pengunjung hanya dikenai biaya masuk kawasan Rp 10 ribu serta biaya masuk kolam si Baron sebesar Rp 8 ribu. Pengunjung bisa melihat Baron dari jarak dekat dengan didampingi Sarmin, sang pawang.

"Buaya itu sebenarnya tidak mengganggu jika manusia tidak mengganggu. Siapa pun yang berani bisa memegang Baron karena sudah jinak. Tapi kalau si Jack, dia masih ganas," katanya.

Di kawasan penangkaran seluas 2 hektare ini, terdapat sekitar 30 kolam. Masing-masing diisi buaya- buaya berusia 1-25 tahun.

"Kebanyakan buaya di sini masih ganas. Ada yang di kolam, ada yang di dalam kandang. Buaya itu sejak lahir umumnya sudah ganas. Di sini setiap kolam diisi oleh buaya yang seumur. Jika dalam satu kandang diisi oleh buaya yang tidak seumur, bisa saling menerkam," ujarnya.

Selain untuk wisata dan bahan dasar pembuatan produk dari kulit buaya, buaya-buaya yang dikembangbiakkan di sana juga dijual kepada masyarakat umum. "Ada juga yang membeli buaya dalam jumlah banyak. Biasanya banyak yang membeli buaya sejak umur 1 tahun. Biasanya untuk diternakkan kembali atau untuk wisata di daerah si pembeli," ujar dia. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved