Lindungi Anak-anak Sekarang!
Melihat peningkatan angka-angka ini tentu membuat kita miris. Kenyataan ini harus menjadikan kita waspada terhadap lingkungan. Banyak di antara
PERLINDUNGAN terhadap anak di Indonesia dinilai masih minim. Hal itu terlihat dari data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menunjukkan kekerasan terhadap anak terus meningkat. Menurut Ketua Komnas Anak, Arist Merdeka Sirait seperti dikutip dari Tribunnews, sepanjang 2012 KPAI menerima 2.637 kasus laporan pengaduan kekerasan terhadap anak. Sebanyak 62 persen dari angka tersebut merupakan kekerasan seksual terhadap anak.
Jumlah tersebut melonjak 20 persen dari data 2010. Pada 2010 KPAI menerima laporan sebesar 42 persen kekerasan seksual terhadap anak. Jumlah keseluruhan pelaporan pada saat itu sebanyak 2.426 kasus. Sementara pada 2011, KPAI menerima laporan sebanyak 2.509 kasus kekerasan terhadap anak. Dari jumlah kasus tersebut, 58 persennya adalah kejahatan atau kekerasan seksual.
Melihat peningkatan angka-angka ini tentu membuat kita miris. Kenyataan ini harus menjadikan kita waspada terhadap lingkungan. Banyak di antara kasus kekerasan terjadi justru berada di lingkungan terdekat. Ada bermacam-macam kategori dari kekerasan terhadap anak, bisa berupa kekerasan fisik, seksual, psikis, perbuatan asusila/pencabulan, pengeroyokan dan kecelakaan lalu lintas. Termasuk juga penculikan yang berakibat trauma psikis.
KPAI menyebutkan himpitan ekonomi membuat tingkat stres yang tinggi di kota, menjadi salah satu penyebab kekerasan terhadap anak. Selain itu, pelaku juga mungkin mengalami kejadiaan yang sama pada masa kecilnya, lalu sistem itu diteruskan pada anakanak mereka.
Korban terakhir adalah bocah F (5) yang kesakitan di duburnya. Bocah yang tinggal di Ciracas, Jakarta Timur ini mengaku dikerjai dua orang tetangganya yakni EK yang anggota polisi dan S, buruh bangunan. Berita ini semakin menyedihkan lantaran adanya keterlibatan anggota polisi yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat.
Sebelumnya seorang bapak di Jakarta memperkosa anak kandungnya hingga 5 tahun lamanya! Ada lagi bapak yang menodai bocah RI, anaknya sendiri hingga akhirnya meninggal. RI meninggal lantaran terkena virus yang ternyata dari bapaknya yang mengidap penyakit kelamin.
Kenyataan ini menunjukkan ironi negeri yang katanya ramah dan penuh senyum. Padahal, anak-anak adalah aset masa depan dari sebuah keluarga, aset bangsa ini juga. Sayangnya, akibat orang dewasa juga anak-anak menjadi korban kekerasan.
Anak-anak seharusnya bermain dalam keceriaan mereka. Hanya saja, seringkali pelaku memanfaatkan keceriaan anak-anak dengan modus 'bermain'. Disinilah orangtua harus ekstra waspada terhadap siapapun. Orangtua harus benar-benar yakin dengan orang yang menjaga anak-anak. Orangtua juga harus tahu apa yang dikerjakan anak-anak, kemana ia main dan bersama siapa saja dia bermain.
Perlindungan terhadap anak juga bisa dilakukan dengan menyaring berbagai program acara televisi, terutama sinetron yang seringkali memunculkan kebencian dan kedengkian. Jangan sampai anak-anak yang masih polos dicekoki dengan cerita yang penuh dendam. Orangtua harus bisa mencegah tontonan seperti itu, karena hal ini bisa menyerap dalam benak mereka.
Demikian pula dengan pengelola stasiun televisi dan media massa lainnya agar lebih bijak menayangkan acara. Jangan sampai menghadirkan kekerasan dan juga kebencian dalam masyarakat kita. Seperti yang diungkapkan KPAI tadi, himpitan ekonomi menjadi salah satu penyebab kekerasan. Untuk itulah, penyajian acara yang santun dan memberikan teladan akan lebih baik. Tontonan seperti itu bisa memberikan kenyamanan dan ketentraman di masyarakat.
Karena itulah, kita semua mesti menunjukkan sikap arif dan bijaksana. Hal itu bisa dimulai dari keluarga dengan menunjukkan teladan yang baik bagi anak-anak. Agar kelak yang terekam dalam benak anak- anak adalah suasana hati yang penuh kedamaian, kesantunan dan ketenteraman. Segera lindungi anak- anak mulai dari lingkungan terdekat. (*)