Drama Musikal Dodo dan Didi Hibur Anak-anak
Jurusan Pendidikan Seni Musik, FPBS UPI menggelar Drama Musikal berjudul Dodo dan Didi di Negeri Mimpi, di Teater Tertutup Dago Tea House semalam
Penulis: Dedy Herdiana | Editor: Machmud Mubarok
Sang putri hanya tampil di akhir cerita, karena diawali dengan tampilnya Dodo yang diperankan Najmi R Prasajo, murid kelas 3 SDN Sukagalih 7, sebagai anak orang kaya. Saat itu Dodo meminta ulang tahunnya dirayakan lebih meriah dari tahun sebelumnya, namun ayahnya tidak memenuhi keinginan Dodo. Maka Dodo pun minggat dan tersesat ke negeri mimpi, yang saat itu sedang kehilangan putrinya karena ditahan oleh raksasa Megabahu.
Di negeri mimpi, Dodo dipaksa harus bangun pagi dan bekerja setiap hari. Lalu Dodo bertemu dengan Didi yang dihormati dan dipatuhi oleh semua mahluk di negeri mimpi. Dodo pun yang tadinya manja dan tidak disiplin berubah menjadi sebaliknya setelah berteman dengan Didi, dan Dodo pun jadi ikut dihormati oleh semua mahluk di negeri itu. Bahkan Dodo dan Didi pun mendapat kepercayaan untuk menjalankan misi menyelematkan putri. Dengan bantuan raja kura-kura, Sri Maharaja Ratu Balakutak, Dodo dan Didi berhasil menyelematkan Putri dari cengkraman Megabahu.
Pertunjukan arahan sutradara Dedi Warsana yang didukung oleh komunitas Sky Jumper Indonesia, Orkestra Bumi Siliwangi, dan Paduan Suara Mahasiswa UPI berlangsung semarak, penuh dengan hiburan untuk anak-anak. Selain itu banyak unsur pendidikannya. Belum lagi dari koreografi, lagu-lagu dan kostumnya yang banyak memberi unsur pendidikan sekaligus menjadi hiburan yang menarik.
"Ceritanya bagus, musiknya juga bagus, tapi sayang ceritanya itu tidak klimaks. Dodo tidka diceritakan lagi saat ketemu dengan orang tuanya," tutur Muhammd Ramdani murid kelas 6 SD Labschool UPI saat ditemui Tribun seusai pertunjukan.
Menurut Eggy Bayu
Pratama, Ketua Pelaksana kegiatan, acara ini merupakan pementasan
tahunan sebagai implementasi dari mata kuliah yang diperoleh di kampus.
Kali ini mahasiswa UPI menyuguhkan pertunjukan untuk anak-anak yang juga
bisa ditonton oleh kalangan remaja dan orang tua.
"Para pemainnya ada 65 orang termasuk 23 anak-anak yang amsih duduk di kelas 2 hingga kelas 6," katanya.
Sementara Wakil Wali Kota Bandung, Ayi Vivananda yang hadir di pertunjukan perdana itu dalam sambutannya mengatakan pertunjukan itu merupakan media alteranatif bagi pembelajaran generasi muda. Karena belajar itu tidak hanya dilakukan di ruang kelas, namun suatu pertunjukan drama musikal yang mendidik ini juga menjadi salah satu media pembelajaran yang baik.
"Ini diharapkan menjadi investasi pendidikan sosial yang tinggi bagi anak-anak sebagai calon pemimpin bangsa di masa datang. Bagi mahasiswanya diharap bisa menjadi seniman yang berhasil," katanya. (ddh)