Selasa, 9 Juni 2026

Cuek atau Respek

MINGGU tanggal 24 Februari hanya tanggal merah dimana hari itu sebagian besar banyak digunakan orang untuk rehat sejenak setelah

Tayang:
Penulis: Ferri Amiril Mukminin | Editor: Darajat Arianto

* Ferri Amiril, Wartawan Tribun

MINGGU tanggal 24 Februari hanya tanggal merah dimana hari itu sebagian besar banyak digunakan orang untuk rehat sejenak setelah seminggu sibuk melakukan rutinitas. Pernyataan itu keluar dari mulut seorang teman, menjelang petang di sudut kota yang hampir berganti malam. Terpikir dengan kalimat yang baru ia katakan, keningnya kembali berkerut sambil berceloteh, bahwa nyoblos calon gubernur tidak ada dalam pikirannya.

Dingin dan datar, sambil mengeluarkan asap dari mulutnya ia duduk santai di sebuah sofa hitam sambil kembali bergumam, "Selama para calon itu berpikir untuk kelompoknya, sama saja ya paling gitu-gitu juga." Menurutnya tidak akan ada perubahan yang besar untuk Jabar. Begitu pula dengan kehidupan di kota dan kabupaten lainnya di Jabar.

Baginya segelas kopi hitam yang sudah dingin yang baru saja ia reguk, terasa lebih baik daripada janji- janji para calon yang belum tentu benar dan bermanfaat bagi rakyat Jabar termasuk dirinya.

Ia reguk habis kopi yang sudah dingin dari cangkir keramik warna hijau yang sudah hampir dua jam berada di atas meja berbentuk lingkaran berukuran sekitar satu meter.

Seperti ingin membuktikan bahwa segelas kopi itu masih lebih baik, ia memperlihatkan bahwa dasar cangkir itu kini tinggal bersisa ampas kopi yang siap untuk dibuang.

Perilaku cuek seorang teman kepada pesta demokrasi Jabar yang akan menentukan siapa yang akan memimpin lima tahun Jabar ke depan ini mungkin tidak hanya dirasakan oleh ia sendiri. Perilaku cuek yang mungkin saja akan menyumbang angka golongan putih alias tidak pergi ke tempat pemungutan suara.

Satu pemikiran yang sah saja dimiliki setiap orang, namun saat ditanya apakah dalam kehidupannya sama sekali tidak bersinggungan dengan pemerintah, ia kembali mengerutkan kening.

Lantas ia kembali berujar terlihat kesal karena kartu tanda penduduk yang ia ajukan sejak dua bulan yang lalu belum juga beres. Sedikit senyum, ia lantas bergumam, benar juga sih ada kepentingan yang menyangkut pemerintah dalam kehidupannya. Contoh kecil membuat KTP dan kartu keluarga.

Sikap cuek yang ia tunjukkan seperti ia ingin koreksi, sambil bertanya ada nggak sih calon yang janjiin bikin KTP gampang?

Satu pertanyaan sederhana yang tiba-tiba saja keluar dari mulutnya. Lantas ia kembali berpikir dan menyebutkan satu persatu calon sambil mengatakan kelebihan dan kekurangannya.

Setelah kembali menghisap dalam-dalam lalu mengeluarkan asap bersama napas panjangnya, ia seperti menimbang-nimbang antara pergi ke TPS atau tidak.

Ia hanya berujar bahwa benar, dalam segi kehidupannya ada yang bersinggungan dengan kebijakan pemerintah. Tidak hanya membuat KTP, harga gula pasir yang ia seduh bersama dengan kopi yang ia reguk juga bersinggungan dengan kebijakan ekonomi yang menentukan harga sembilan bahan pokok. Belum lagi harga bahan bakar gas untuk memanaskan air, serta bahan bakar kendaraan untuk ia pergi beraktivitas. Semua secara langsung maupun tidak langsung bersinggungan dengan kebijakan pemerintah.

Masalah biaya pendidikan anaknya sekolah, masalah perizinan  dan tektek bengeknya, semua bersinggungan dengan pemerintah.

Pilihan cuek yang ia rasakan ia renungkan kembali. Apakah diam yang hanya berakibat ia tidak ikut menentukan nasib Jabar, atau pergi dengan harapan apa yang ia inginkan bisa terwakili melalui pemimpin yang akan duduk di Gedung Sate nanti.

Di luar sana, orang yang mengerti dengan arti ikut menentukan Jabar marah karena namanya tidak tercantum dalam DPT. Mereka lega karena penyelenggara KPU memutuskan akhirnya KTP bisa digunakan asal namanya tercantum di DPS.

Respek dan menyempatkan diri beberapa menit berada di balik bilik suara tentu akan ikut menentukan Jabar ke depan, kendati apa yang kita inginkan belum tentu sepenuhnya bisa tercapai, daripada berdiam diri alias cuek. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved