Selasa, 9 Juni 2026

Roy 'Satyaki' Suryo

Karnaval tahun ini mengambil tema wayang orang dan menteri dari Partai Demokrat ini tampil mengenakan kostum Setyaki.

Tayang:
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Darajat Arianto
* Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

DI tengah isu perpecahan Partai Demokrat, Menpora Roy Suryo memilih menjadi wayang orang. Boleh jadi ia bertujuan menghindari konflik panas partainya, tapi mungkin juga ia memang sudah lama memiliki agenda ini. Sabtu lalu, Roy ikut tampil dalam karnaval hari jadi ke-268 Kota Solo. Karnaval tahun ini mengambil tema wayang orang dan menteri dari Partai Demokrat ini tampil mengenakan kostum Setyaki.

Mengapa ia memilih Satyaki? Menurut Roy, pertama, tokoh tersebut berkumis seperti dia. Kedua, perawakan Setyaki juga kecil sebagaimana perawakan Roy. "Meskipun berperawakan kecil, Setyaki adalah ksatria sakti pilih tanding. Tak banyak ksatria yang berhasil selamat ketika menghadapi perang saudara Bharatayuda. Salah satu yang selamat adalah Setyaki," ujarnya.

Orang yang senang menafsirkan pertanda bisa saja menduga pernyataan Roy sebagai simbol bahwa Bharatayuda adalah prahara yang melanda Partai Demokrat dan dia ingin menjadi Setyaki yang selamat dari perang saudara partainya.

Dalam pewayangan Jawa, Setyaki (Satyaki/Sencaki) dijuluki Bima Kunthing. Kesaktian Setyaki mirip dengan kesaktian Bima, tapi badannya jauh lebih kecil daripada Bima. Menurut versi Mahabharata, Setyaki adalah putra Satyaka, sedangkan Satyaka adalah putra Sini, seorang tokoh bangsa Wresni. Sini adalah tokoh yang melamar Dewaki sebagai istri Basudewa. Dalam peristiwa itu ia harus bersaing dengan Somadatta, ayah Burisrawa. Dari perkawinan Basudewa dan Dewaki kemudian lahirlah Kresna. Menurut versi pewayangan Jawa, Setyaki adalah putra Satyajit, raja Kerajaan Lesanpura. Satyajit merupakan adik termuda Basudewa dan Kunti. Dengan kata lain, Setyaki adalah adik sepupu Kresna dan para Pandawa.

Meskipun dalam Bharatayuda memihak Pandawa, Setyaki bukanlah ksatria tanpa cela. Ia pernah ditugasi Arjuna untuk menjaga Yudistira dari serangan Drona. Setelah keadaan aman, Yudistira meminta Setyaki pergi membantu Arjuna yang sedang menghadapi Jayadrata. Tapi Setyaki dihadang Burisrawa (yang dalam versi Jawa merupakan anak Salya). Dalam perang tanding, Setyaki jatuh pingsan dan hendak dibinasakan Burisrawa. Arjuna menyelamatkan Setyaki dengan memanah lengan Burisrawa sampai putus. Ketika sadar dari pingsannya, Setyaki mengambil pedang yang masih digenggam potongan lengan Burisrawa dan dengan pedang itulah ia membunuh lawannya yang sudah tak berdaya.

Tiga puluh enam tahun setelah Bharatayuda, bangsa Wresni dan Yadawa mengadakan upacara di tepi pantai Pramanakoti. Meskipun ada larangan membawa minuman keras, tetap saja banyak yang berpesta mabuk-mabukan, termasuk Setyaki. Dalam keadaan mabuk, Setyaki mengejek Kretawarma yang dulu memihak Kurawa sebagai pengecut karena menyerang perkemahan Pandawa pada waktu malam. Sebaliknya, Kretawarma mengejek Setyaki yang membunuh Burisrawa secara licik.

Setyaki, yang sudah sangat mabuk, segera membunuh Kretawarma. Akibatnya, mereka terbagi menjadi dua, sebagian membela Setyaki dan sisanya membela Kretawarma. Mereka semua akhirnya saling bunuh dan semua tumpas.

Kita tentu tak ingin menafsirkan saling bunuh di antara bangsa  Wresni dan Yadawa itu menjadi simbol "saling bunuh" di antara anggota Partai Demokrat. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved