Waspadai Lonjakan Harga Sembako
Distribusi yang terhambat memunculkan masalah lain. Barang-barang yang diangkut terutama komoditas seperti buah dan sayur akan cepat rusak.
DI musim penghujan seperti ini, banyak hal yang mesti diwaspadai masyarakat. Cileuncang hingga banjir sudah sering terjadi. Belum lagi adanya ancaman longsor. Cuaca ekstrim juga membuat mobilitas masyarakat makin sempit. Apalagi jika banjir dan longsor itu memutuskan jalur lalu lintas, maka kondisi warga terasa makin sulit.
Jalur lalu lintas yang terputus membuat distribusi juga terhambat. Distribusi yang terhambat memunculkan masalah lain. Barang-barang yang diangkut terutama komoditas seperti buah dan sayur akan cepat rusak. Ini tentunya akan memunculkan masalah lain terutama harga akan menjadi mahal. Pasalnya komoditas yang dipasarkan di masyarakat sulit diperoleh sementara permintaan meningkat.
Selain itu, cuaca yang buruk juga akan membuat produksi pertanian menurun. Sayur dan buah-buahan sulit dipanen karena rusak atau belum saatnya dipanen sehingga hasilnya tidak maksimal.
Komoditas pertanian ini sekilas mungkin tidak penting. Namun jual beli hasil bumi ini bisa berdampak terhadap inflasi. Dampak inflasi yang tinggi tentunya akan menurunkan tingkat kemakmuran masyarakat.
Dalam beberapa bulan terakhir inflasi di Jabar ternyata didorong oleh komoditas bahan makanan yang tentunya merupakan turunan dari hasil pertanian.
Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar mencatat, inflasi Jabar pada Januari 2013 mencapai 1, 05 persen. Angka ini merupakan inflasi paling tinggi dibandingkan Januari tahun-tahun sebelumnya, bahkan mengalahkan inflasi saat Ramadan 2012 sebesar 1,03 persen.
Kepala BPS Jabar, Gema Purwana mengatakan, kelompok bahan makanan mengalami inflasi paling tinggi yakni 3,51 persen. Posisi kedua disusul kelompok kesehatan (0,45 persen), kemudian kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,25 persen) dan seterusnya.
Beberapa komoditas mengalami kenaikan harga signifikan. Komoditas itu pun punya andil terhadap terjadinya inflasi, seperti daging ayam ras (0,23 persen), cabai merah (0,14 persen), telur ayam ras (0,10 persen), bawang merah (0,07 persen), cabai rawit dan beras masing-masing 0,06 persen, bayam (0,05 persen), ikan kembung (0,03 persen), dan bawang putih (0,02 persen).
Menurut Gema, tingginya inflasi pada Januari 2013 harus menjadi warning inflasi pada bulan-bulan berikutnya di tahun ini. Apalagi di Februari ini akan agenda pemilihan gubernur yang tentunya akan ada kecenderungan peredaran uang di masyarakat yang tinggi yang tentunya akan meningkatkan konsumsi masyarakat.
Harga komoditas yang meningkat itulah yang sepatutnya harus diwaspadai. Pemerintah daerah harus bersiap dengan teknologi penyimpanan hasil pertanian dan bahan makanan yang baik agar harga bisa terkendali.
Ini merupakan pekerjaan rumah yang besar karena seringkali pemerintah tak bisa mengantisipasi kondisi seperti ini sehingga harga-harga melambung yang membuat masyarakat kerepotan.
Sebelum harga meningkat dan digelar operasi pasar, pemerintah sebaiknya bisa mengendalikan harga komoditas terutama sembilan bahan pokok (sembako). Pasalnya, masalah musim hujan merupakan kejadian alam yang tidak bisa dihindari. Sehingga sudah selayaknya mempersiapkan segala sesuatunya termasuk menyediakan kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau. (*)