Rabu, 10 Juni 2026

Blusukan, Kukurusukan, dan Sejenisnya

METODE kampanye bertemu secara personal antara kandidat dengan calon pemilih mungkin sudah berlangsung lama. Tapi istilah blusukan,

Tayang:
Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Darajat Arianto
* Machmud Mubarok, Wartawan Tribun

METODE kampanye bertemu secara personal antara kandidat dengan calon pemilih mungkin sudah berlangsung lama. Tapi istilah blusukan, sepertinya itu hak paten Jokowi-Ahok saat kampanye pemilihan gubernur DKI Jakarta 2012. Kata itu begitu lekat dengan metode kampanye Jokowi-Ahok. Mereka terjun, keluar masuk kampung-kampung kumuh, permukiman padat penduduk, lokasi-lokasi yang jarang tersentuh kampanye model konvensional.

Mereka pula yang membuat pencitraan dengan kemeja kotak-kotak agar mudah dikenali sekaligus berfilosofi. Sebuah gaya, yang kemudian diikuti sejumlah pasangan kandidat kepala daerah, baik tingkat provinsi maupun kota dan kabupaten. Walau hasilnya lebih banyak berbeda, Jokowi-Ahok menang, kandidat yang meniru Jokowi-Ahok kalah.

Gaya kampanye serupa Jokowi-Ahok pula yang kini diadopsi para calon gubernur-wakil gubernur Jabar untuk memikat suara rakyat pada Pemilihan Gubernur Jabar 24 Februari mendatang. Pasarpasar tradisional dan permukiman kumuh menjadi favorit lokasi yang akan dikunjungi lima pasangan cagug- cawagub.

Dulu dikenal istilah kampanye simpatik. Ini untuk membedakan kampanye konvensional yang mengerahkan massa dengan kampanye turun ke bawah (turba), seolah-olah mendekati rakyat. Jika istilah blusukan lebih beken, mungkin itu cuma mengganti sampulnya saja. Dan memang terasa lebih merakyat.

Bagaimana efektivitas kampanye model blusukan, kukurusukan, dan sejenisnya ini terhadap keterpilihan para kandidat? Kalau melihat kasus Jokowi-Ahok, tentu sangat efektif. Kampanye blusukan mampu menjungkalkan ramalan atau prediksi lembaga survei yang sebelumnya mengunggulkan Fauzi Bowo.

Apakah dampak blusukan ini akan sama antara Jakarta dan Jawa Barat? Setiap daerah memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang khas. Tidak bisa jiplakan Jakarta 100 persen sama dengan Jawa Barat. Tentu kita harus menunggu hasil pemungutan suara pekan depan. Dan hasil itu pun belum tentu karena hasil blusukan. Hanya saja, melihat hasil yang diraih Jokowi-Ahok begitu signifikan, tentu para kandidat gubernur-wagub di Jabar pun berharap hal serupa.

Dari sisi finansial, kampanye model ini jelas sangat irit biaya. Tak perlu mengundang artis atau penyanyi, tak perlu juga membuat panggung besar yang menghadirkan ratusan sampai ribuan orang. Sangat efisien. Saking efisiennya, para produseun kaus di sentra kaus Suci Bandung mengeluh, orderan kaus pilgub sepi. Kalau pun ada yang memesan, tidak sebanyak beberapa pemilu sebelumnya.

Kini, keputusan ada di tangan rakyat, para calon pemilih yang terhormat. Adakah calon pemimpin yang sreg, satu visi, sehingga mampu menggerakkan hati dan tangan untuk mencolos gambar pada kertas surat suara?

Adakah dari hasil blusukan itu terlihat calon pemimpin Jawa Barat yang nyaah ka rahayat, berkomitmen untuk mengangkat derajat kaum terpinggirkan, ataukah yang terlihat hanya lipstik, lips service, pencitraan saja?

Kalau bingung dengan pilihan yang ada, masih ada waktu lebih  dari seminggu untuk memutuskan sikap dan pilihan saat di dalam bilik suara nanti. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved