Anas Anis
NAMANYA memang hampir sama. Namun, Anas dan Anis bukan kakak adik, apalagi saudara kembar. Kesamaan lain, kedua pria bernama lengkap
Penulis: swo | Editor: Darajat Arianto
NAMANYA memang hampir sama. Namun, Anas dan Anis bukan kakak adik, apalagi saudara kembar. Kesamaan lain, kedua pria bernama lengkap Anas Urbaningrum dan Anis Matta ini sama-sama terjun di panggung politik dan cepat meroket kariernya.
Anas, yang belum genap berusia 44 tahun, lahir 15 Juli 1969, sudah menduduki kursi ketua umum Partai Demokrat, partai pemenang Pemilu 2009. Anis, yang sedikit lebih tua, lahir 28 September 1968, belum lama dinobatkan sebagai Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), partai urutan keempat.
Di usia yang relatif muda untuk seorang politisi di posisi puncak partai, Anas dan Anis sama-sama sedang melakoni ujian berat bertajuk "prahara". Dalam lakon Prahara Demokrat, Anas ibarat sedang berjuang keras menyeimbangkan tubuhnya di atas kursi yang bergoyang kencang.
Selain menghadapi masalah hukum karena disebut-sebut terlibat skandal proyek Hambalang, Anas harus bisa berdiri kuat di tengah guncangan tuntutan mundur oleh sebagian elite partainya. Anas dianggap bertanggung jawab atas hasil survei SMRC yang menempatkan Demokrat di posisi ketiga.
Perkembangan terakhir, Jumat (8/2/2013) malam, Ketua Dewan Pembina yang juga Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengambil langsung seluruh kendali Partai Demokrat. Anas tidak dicopot dari posisi ketua umum, tapi SBY meminta Anas untuk fokus pada kasus dugaan hukum di Komisi Pemberantasan Korupsi.
Tak kalah beratnya lakon Prahara PKS yang dijalani Anis. Amanah sebagai Presiden PKS ia peroleh setelah KPK, Rabu (30/1/2013), menetapkan Luthfi Hasan tersangka kasus dugaan suap impor daging sapi. Sehari kemudian Luthfi mengundurkan diri sebagai Presiden PKS dan digantikan Anis.
Citra partai bersih yang disandang PKS akhirnya ternoda. Di sinilah ujian berat Anis untuk memulihkan citra partai. "Ini bukan sesuatu yang mudah untuk dilalui, tapi kita pasti bisa melewatinya. Kita akan mengubah cobaan ini jadi karunia," tegas Anis saat memberikan pidato politik seusai pengangkatan dirinya sebagai Presiden PKS di Kantor DPP PKS, Ragunan, Jakarta, Jumat (1/2/2013).
Namanya sedang menghadapi ujian, Anas dan Anis pun kini sibuk belajar. Kalau Anas belajar terkait seputar elite politik, dalam hal ini cerita Mahabarata. Cerita legendaris dari India itu memuat perang saudara antara Kurawa dan Pandawa yang penuh intrik politik, salah satunya keterlibatan Sengkuni.
Anas mengakui baru mengetahui sedikit cerita soal Sengkuni. "Kalau saya sudah selesai baca, nanti Anda saya kasih tahu tentang Sengkuni itu siapa," ujarnya kepada wartawan di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (5/2/2013).
Dalam lakon Mahabarata, Sengkuni digambarkan memiliki watak licik, senang menipu, menghasut, memfitnah, dan munafik. Sengkuni dalam perang Baratayuda tewas di tangan Bima. Sementara lawan Sengkuni dalam lakon Mahabarata versi Jawa adalah Semar, seorang punakawan para Pandawa.
Sedang Anis kini belajar yang terkait rakyat kebanyakan, grassroots. Jumat (8/2/2013), Anis ke Yogya untuk ngangsu kawruh (menimba ilmu) dari budayawan Emha Ainun Nadjib. Anis tak sungkan belajar filsafat ludruk pada kiai mbeling itu. Ludruk, menurut Cak Nun, panggilan akrab Emha Ainun Nadjib, dapat mendongkrak suara PKS.
PKS, kata Cak Nun, harus membangun narasi dengan menggunakan alat budaya semacam ludruk. "Intinya, tontonan Anda harus bisa bikin orang ketawa atau nangis, sebab itu sama saja," kata Cak Nun.
Ludruk merupakan suatu drama tradisional dari Jawa Timur yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian di sebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan, dan sebagainya, yang diselingi dengan lawakan dan diiringi gamelan.
Luluskah Anas dan Anis menghadapi ujian politik setelah belajar Mahabarata dan Ludruk? Sembari menunggu hasilnya, gabungan kedua nama mereka, "anasanis", mengingatkan kata assassination. Kata ini sering didampingi character. Ya, character assassination (pembunuhan karakter) inilah yang paling merepotkan bahkan menakutkan bagi para politisi, apalagi yang sedang naik daun. (*)