Rabu, 10 Juni 2026

Bingkisan Bergambar untuk Emak

EMAK Enok bangkit dari tepian sawah seusai mengirim makan siang untuk suaminya yang sejak pagi membabat rumput di sela tanaman sayuran,

Tayang:
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Darajat Arianto
* Kisdiantoro, Wartawan Tribun

EMAK Enok bangkit dari tepian sawah seusai mengirim makan siang untuk suaminya yang sejak pagi membabat rumput di sela tanaman sayuran, di daerah Ujungberung. Seorang perempuan tua, tetangga Emak Enok, menyusul ke sawah. Ia girang mendapatkan beberapa bingkisan, mungkin berisi pakaian. Di balik plastik pembungkus pakaian itu tertera secarik kertas bergambar pasangan calon gubernur Jabar. Sebuah kalimat mempertegas keduanya adalah pasangan calon gubernur Jabar. Lalu diikuti ajakan untuk memilih pada 24 Februari 2013.

Dia lalu membagikan satu bingkisan kepada Emak Enok.

"Terimakasih, dari siapa?" tanya dia.

"Titipan dari calon gubernur, mak," jawab wanita itu.

Emak sejenak memperhatikan gambar di balik plastik pembungkus. "Bae lah, diterima saja, tapi kalau nyolok mah Emak sudah punya pilihan," sambung Emak.

Saya tidak sengaja melintas saat peristiwa ini terjadi. Boleh juga sikap Emak. Dia memang tinggal di pingggiran Kota Bandung, tapi soal informasi hajat pemilihan Gubernur Jabar ia tak kuper. Ia sering nguping saat tetangganya ngobrol soal tema itu. Lalu, bertanya siapa saja orang-orang yang mencalonkan diri untuk membangun Jabar.

Tidak seperti kelompoknya yang mudah tergiring karena imingiming bingkisan, dia tetap pada pendiriannya untuk memilih calon yang sejak awal memikat hatinya. Apa alasannya? Entahlah. Mungkin karena senyumnya, seperti yang terlihat di baliho-baliho di pinggir jalan. Atau karena memang calon yang ia pilih cukup meyakinan bisa memajukan Jabar.

Seorang kawan tinggal di Tasikamalaya malah digempur dengan kalender bergambar pasangan calon gubernur Jabar, di rumah, di sekolah, dan ruang publik lainnya, di awal tahun. Tapi, dia tetap pada pendiriannya, akan memilih pasangan gubernur yang diyakini bisa menjalankan amanah rakyat. Dia tidak main-main dalam urusan penyerahan hak politik. Sebelum memantapkan pilihan, dia telah berulang-ulang melakukan salat istikharah.

"Tiap malam saya berdoa supaya ...bisa jadi gubernur. Saya tidak terpengaruh meski tinggal di kandang pasangan calon lain," katanya.

Iming-iming serupa mungkin akan makin gencar menjelang pemilihan gubernur. Apalagi sejak kemarin, Kamis (7/2/2013), pasangan calon gubernur Jabar mulai melakukan kampanye terbuka. Janji manis bertebaran. Pasangan melalui tim suksesnya akan menggiring massa datang ke tempat kampanye. Pengalaman tetangga-tetangga saya di Jawa Tengah, mereka kerap menerima amplop untuk menghadiri kampanye. Belum lagi kalau ikut nimbrung dengan para tim sukses, bisa jadi uang rokok bertambah.

Apakah orang-orang yang hadir di lapangan saat pasangan calon gubernur Jabar berteriak lantang meminta dipilih datang dengan sukarela? Membiayai sendiri truk yang mereka tumpangi? Membeli nasi dan air mineral kemasan dari kocek sendiri? Bisa saja mereka memang secara sukarela datang karena terpikat dengan pesona orang yang akan memimpinnya. Tapi, kelompok yang demikian untuk zaman sekarang mungkin tidak banyak. Maka, untuk menggajak kelompok yang lain perlu dengan iming- iming.  Apalagi mereka yang waktunya sangat berharga untuk sepincuk nasi dan lauk. Pakaian dan uang adalah dua hal yang kerap menjadi barter kerelaan untuk meninggalkan aktivitas rutin. Lalu datang berombongan ke lokasi kampanye.

Kalau ada timses atau siapapun yang memberi Anda uang atau yang lainnya, Anda tidak berdosa mengambilnya. Tapi, soal ajakan memilih pasangan tertentu Anda tidak wajib mengikutinya. Kemarin, Bupati Subang, Ojang Sohandi, di sela kegiatan menyerahkan Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) ke KPU, mengingatkan demikian.

"Jangan memilih pemimpin berdasarkan pemberian, baik uang maupun materi lainnya," imbaunya.

Lalu pilih siapa? Pilih lah calon pemimpin yang mampu membuat perubahan di Jabar. Pemimpin yang mencintai rakyat kecil. Pemimpin yang mampu menghentikan kepedihan saat rumah-rumah kita tergenang banjir. Pemimpin yang mampu memanjangkan harapan anak-anak untuk terus bersekolah. Dan yang juga penting, tidak menumpuk harta untuk keluarganya. Memang tidak mudah. Maka, mintalah pertolongan Allah SWT untuk memilihkan pemimpin yang baik, bukan yang berpura-pura baik saat berkampanye, lalu menyakiti rakyat dengan melakukan korupsi saat sudah menjabat. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved