Maestro Dalang Asep Sunandar Tergolek di Borromeus
Abah Asep dirawat di Borromeus sejak Sabtu (12/1) karena sulit makan. Setiap makan selalu terasa pahit sehingga tidak ada makanan yang masuk kalau
Penulis: Dedy Herdiana | Editor: Darajat Arianto
SALURAN infus tampak menempel di punggung telapak tangan kirinya. Kedua lubang hidungnya pun ditempeli alat saluran oksigen. Tubuh yang terlihat selalu berkeringat itu hanya mengenakan kain sarung dan kaus dalam. Baju pasien dari rumah sakit hanya menempel satu lengannya.
Itulah kondisi dalang wayang golek ternama Asep Sunandar Sunarya, yang akrab disapa Abah Asep, yang tengah dirawat di Rumah Sakit Borromeus, Selasa (15/1).
"Udaranya selalu terasa panas. Jadi malas pakai baju, hareudang (gerah) lah," tutur Abah Asep, yang saat itu tengah duduk di atas tempat tidur ruang perawatannya, Ruang Yosef, ditemani istrinya, Nenah Hayati, kepada Tribun kemarin sore.
Menurut Nenah, Abah Asep dirawat di Borromeus sejak Sabtu (12/1) karena sulit makan. Setiap makan selalu terasa pahit sehingga tidak ada makanan yang masuk kalau tinggal di rumah.
Dilihat dari riwayat penyakitnya, kata Nenah, Abah Asep sudah cukup lama menderita penyakit jantung dan baru terdeteksi sekitar enam bulan lalu saat berobat ke RS Bina Waluya di Jakarta. Ketika itu, terdeteksi adanya penggumpalan darah di dalam jantung bagian serambi. Ketika akan dilakukan operasi untuk dipasangi ring bulan, Oktober lalu, dokter menemukan penggumpalan darah lainnya di bagian bilik sehingga operasi pemasangan ring pun batal, dan dokter hanya menyarankan untuk rawat jalan saja.
Akhir Desember lalu, kata Nenah, Abah Asep sakit batuk berat hingga sempat pingsan. Pada 26 Desember, Abah Asep dibawa RS Al Ihsan, Soreang, dan sempat menjalani perawatan selama empat hari karena Abah Asep minta pulang paksa dari RS Al Ihsan.
Setelah di rumah sekitar dua minggu, kata Nenah, kondisi Abah Asep belum membaik, bahkan semakin sulit makan. Akhirnya Sabtu lalu ia dibawa ke RS Borromeus dan dirawat hingga sekarang. Dokter di RS tersebut mendeteksi ada penggumpalan darah lagi di pembuluh darah yang mengarah ke perut. Penggumpalan darah itulah diduga yang menjadi penyebab Abah Asep sakit batuk berat dan hingga kemarin masih sering merasa sulit bernapas.
"Jadi, kalau bernapas itu seperti ada yang mengganjal di dada. Selain itu sekarang, Bapak (Abah Asep) juga suka panas dan keluar keringat dingin," tutur Nenah.
Selama ini, kata Nenah, Abah Asep masih sering mendalang. Dalam seminggu bisa tiga kali jadwal ngadalang. Puncaknya pada bulan Juni dan Juli tahun 2012, selama dua bulan itu hanya istirahat di rumah sehari. Bahkan Desember lalu masih menyempatkan diri berpentas di dalam dan luar kota.
Pementasan terakhirnya di dalam kota adalah saat tampil pada acara penutupan Helar Wayang di Lapangan Gasibu, 22 Desember 2012, sedangkan di luar kota pentas di Depok pada 15 Desember 2012.
"Akhir Januari ini juga agendanya sudah ada, rencana tampil di Garut. Lalu Februari akan tampil di Kuningan, dan Maret akan tampil di Cirebon dan Karawang. Memang seharusnya Bapak itu jangan terlalu banyak tampil. Mungkin kalau seminggu sekali sih masih boleh. Tapi Bapak itu selalu menyanggupi kalau ada tawaran ngadalang. Anehnya, Bapak itu selalu terlihat sakit kalau pulang ke rumah, tapi kalau lagi ngadalang suka terlihat seperti orang sehat saja," ujar Nenah.
Alasan selalu menyanggupi setiap ada tawaran mendalang itu, kata Nenah, karena Abah Asep merasa belum ada generasi penerusnya yang bisa seperti dia sehingga merasa khawatir penggemarnya tidak terpuaskan. Selain itu, Abah Asep merasa khawatir kepada para nayaga (penabuh gamelan) dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya, sedikit pentasnya, serta khawatir tidak bisa membantu saudara-saudaranya.
Di tengah kondisi sakitnya, Abah Asep masih memaksakan diri untuk ikut bicara. Dengan kondisi tubuh berbaring di tempat tidur, Abah Asep mengungkapkan harapannya. Dikatakannya, dalang sekarang harus berpendidikan minimal sarjana. Sebab, seorang dalang harus mampu mengetahui dan memahami perkembangan zaman agar cerita wayang yang dimainkannya tidak pernah ketinggalan zaman dan tetap disukai oleh apresiatornya.
"Dalang itu bercerita tentang negara dan masyarakatnya. Jadi, harus paham juga kondisi negara sekarang yang di dalamnya ada politik, sosial, budaya, dan banyak lagi. Jadi dalang sekarang harus berpendidikan," kata Abah Asep, yang kemudian makin banyak kedatangan tamu, baik teman maupun penggemarnya yang datang menengoknya. (*)