Putri Berkostum Wayang Jadi Perhatian
Bandung sedang menggelar even Helar Wayang selama sepekan di Lapangan Gasibu, mulai Minggu (16/12) malam hingga Sabtu (22/12)
Penulis: Dedy Herdiana | Editor: Darajat Arianto
SEMANGAT kalangan muda untuk lebih mengenalkan wayang kepada masyarakat, khususnya generasi muda, datang tidak hanya dari anak muda Bandung yang sedang menggelar even Helar Wayang selama sepekan di Lapangan Gasibu, mulai Minggu (16/12) malam hingga Sabtu (22/12). Kalangan muda dari Solo pun ikut berpartisipasi walaupun even digelar di Bandung.
Aksi anak muda Solo yang berupaya lebih memasyarakatkan wayang itu bahkan mau ambil bagian dalam kegiatan pre-event Helar Wayang yang menggelar Karnaval Wayang di area car free day (CFD) Dago, Jalan Ir H Juanda. Di hadapan masyarakat Bandung yang asyik menikmati suasana pagi di CFD Dago, anak-anak muda Solo yang tergabung dalam Red Batik Solo Community itu menampilkan berbagai kostum wayang wong kontemporer yang menggunakan bahan alami dan mudah didapat di pasar-pasar tradisional. Selain mampu menampilkan kostum yang kaya ragam hias, model yang mengenakannya pun didominasi wanita-wanita muda yang cantik, sesuai dengan sebutan khasnya, putri Solo. Warga di kawasan CFD Dago pun banyak yang meminta berfoto bersama.
"Kami menampilkan 21 karya kostum karnaval yang diilhami dari wayang. Di antara karya yang kami tampilkan itu kebanyakan tokoh wayang seperti Arjuna, Drupadi, dan lain-lain dengan adanya tambahan kreasi," ujar Heru Mataya, koordinator Red Batik Solo Community, saat ditemui wartawan seusai acara karnaval wayang di CFD Dago, Minggu (16/12).
Semua kostum, kata Heru, merupakan hasil kreasi komunitasnya selama tiga bulan. Mulai pencarian tokohnya, merancang desainnya, mengumpulkan bahannya, hingga proses pembuatannya. "Bahannya semua alami dan murah karena semua bisa ditemukan di pasar tradisionl. Kami pun berharap kehadiran kami bisa berbagi kreativitas dengan masyarakat di sini (Bandung)," kata Heru, yang bersama komunitasnya pernah tampil di Jakarta, Bali, Belanda, dan Prancis.
Di belakang barisan anak muda Solo, karnaval wayang itu pun menampilkan dua wayang landung yang tingginya sekitar tiga meter. Selanjutnya, tampil wayang egrang yang diperankan mahasiswa yang wajahnya dirias menyerupai tokoh wayang berjalan sambil memegang egrang hingga tingginya sekitar lima meter. Setelah itu tampil kelompok wayang badawang dari Rancaekek, dan terakhir wayang pantomim dari kalangan mahasiswa. Mereka berjalan mulai depan Rumah Makan Dago Panyawangan hingga Taman Dago, Cikapayang. Selama arak-arakan, banyak warga yang memotret suasana yang jarang terjadi itu.
"Total peserta yang ikut memeriahkan karnaval wayang ini sekitar 60 orang dengan menampilkan berbagai sosok wayang," kata Irwan Jamal, koordinator acara Helar Wayang, saat ditemui wartawan di CFD Dago, kemarin.
Helar Wayang, yang merupakan "festival apresiasi wayang Indonesia" dengan mengambil tema Bandung Wayang Heritage, dilaksanakan selama seminggu. Pelaksanaan selama seminggu itu dilatari konsep perayaan tradisional yang biasa disebut hajat tujuh poe tujuh peuting (syukuran tujuh hari tujuh malam).
Menurut Irwan, selama sepekan itu Lapangan Gasibu akan diramaikan dengan pergelaran seni budaya dan pergelaran wayang setiap malamnya. Ada sekitar 14 dalang dari berbagai kota di Indonesia yang tampil, mulai dalang wayang golek, wayang kulit, hingga wayang sasak dari Lombok. Siang harinya diisi dengan berbagai kreasi seni wayang dan seni lainnya dari barbagai komunitas.
Momen spesial pada Helar Wayang yang digelar selama sepekan itu, kata Irwan, ada pada malam pembukaan dan malam penutupan. Malam pembukaan diawali dengan pergelaran Oratorium yang menampilkan Bhagawat Gita (wayang orang kontemper) dari STSI Bandung-Asubarasi Dance Teater dengan koreografer Rian dan sutradara Irwan Jamal.
Setelah sambutan-sambutan, acara pun langsung pada pemanasan pergelaran wayang dengan menampilkan wayang bobodoran (Pojok Si Cepot) dengan dalang Umar Darusman Sunandar, yang biasa disapa Dalang Riswa, dari Pujaran Giriharja 3. Sekitar pukul 21.30 berlangsung acara utama pergelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Warseno Slenk. Pada malam penutupan, Sabtu (22/12), akan tampil wayang golek semalam suntuk pula dengan dalang Asep Sunandar Sunarya.
"Acara ini kami gelar, selain sebagai peringatan atas wayang yang ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan tak benda, juga untuk lebih mengenalkan kepada anak bangsa generasi muda yang sekarang ini sudah lebih mengenal Power Ranger dan Superman dibanding tokoh-tokoh wayang," kata Irwan. (*)