Minggu, 21 Desember 2014
Tribun Jabar

Alih Fungsi Lahan Penyebab Banjir di Jabar

Selasa, 20 November 2012 21:18 WIB

Alih Fungsi Lahan Penyebab Banjir di Jabar
Zelphi
MENEMBUS BANJIR - Beberapa murid sekolah terpaksa melanjutkan perjalanan pulangnya dengan berjalan kaki menembus genangan air yang cukup tinggi di jalan Moh.Toha, Kota Bandung, Rabu (4/4). Banyak kendaraan yang berputar arah untuk menghindari terjebak genangan air akibat derasnya curah hujan.
BANDUNG, TRIBUN - Peristiwa Banjir dan longsor yang terjadi di Kabupaten Bandung dan sejumlah daerah di Jawa Barat, bukan disebabkan oleh fenomena alam. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan lingkungan (ekologis) yang sudah sedemikian kritis. Demikian dikatakan Ketua Dewan Nasional Wahana Lingkungan Hidup (Walhi ) Dadang Sudarja melalui pesan elektroniknya pada Tribun, Selasa (20/11) malam.

"Itu semua diakibatkan oleh alih fungsi lahan di daerah hulu Sungai Citarum maupun di anak sungai yang bermuara ke Citarum, seperti sungai Cikapundung, Ciwidey, Cisarea dan sub das lainnya," kata Dadang.

Dadang menambahkan, fenomena banjir tersebut juga  diakibatkan oleh mode tata kelola  pertanian, terutama di daerah hulu yang tidak ramah lingkungan. Kondisi ini, kata dia, menjadi factor pemicu terjadinya banjir dan longsor. "Wilayah hulu seharusnya tetap dipelihara dan dijadikan sebagai daerah konservasi dan kawasan lindung, yang memiliki fungsi sebagai daerah tangkapa dan resapan air," katanya.

Namun, pada kenyataannya, kata Dadang, masyarakat banyak mempergunakan daerah ini sebagai lahan pertanian karena masyarakat tidak memiliki akses terhadap lahan pertanian, karena lahan pertanian yang strategis udah dikuasai oleh perusahaan negara maupun swasta.

"Masyarakat harus diberi akses terhadap lahan pertanian yang menjadi sumber kehidupannya, sehingga tidak melakukan kegiatan pertanian di daerah daerah yang seharus menjadi  Catchment area," ujarnya.

Karenanya, Dadang menekankan, ke depan, sanagt perlu dilakukan rekayasa sosial, rekayasa teknologi, dan penegakkan hukum yang mengedepankan kaidah-kaidah lingkungan dengan segera melakukan rehabilitasi lahan kritis dan rekontruksi pembangunan di daerah - daerah hulu dan sepanjang aliran sungai, membuat bendungan-bendungan kecil di sekitar anak-anak sungai.

"Dan terpenting, membuat model tata kelola pertanian yang ramah lingkungan terutama di daerah hulu Sungai Citarum maupun anak-anak sungainya karena, petani disana memiliki peranan penting dalam menjaga kawasan hulu sungai," katanya. (men)
Penulis: men
Editor: dia
Sumber: Tribun Jabar

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas