Dari Masjid ke Masjid
Merlin Memupus Lembah Hitam Nyalindung
KEBERADAAN Mesjid Raya Nyalindung atau dikenal dengan sebutan Merlin di bekas lokasi Bar Panyalindungan Kuring sudah memupus kawasan hitam
Penulis: Deddi Rustandi | Editor: Darajat Arianto
Oleh Deddi Rustandi
KEBERADAAN Mesjid Raya Nyalindung atau dikenal dengan sebutan Merlin di bekas lokasi Bar Panyalindungan Kuring sudah memupus kawasan hitam di Sumedang. Mesjid ini berada di pinggir jalan raya Sumedang-Cirebon di Desa Padanaan, Kecamatan Paseh.
Sekarang lokasi ini tetap saja dikunjungi orang yang melintas di jalan raya Sumedang- Cirebon. Bedanya saat ini mereka datang untuk melepas penat sambil beribadah menjalankan salat. Kalau dulu, gampang ditebak karena di sana merupakan lembah hitam, prostitusi.
Kawasan Nyalindung ternyata masih menarik minat pengunjung walaupun yang ditawarkan bukan kenikmatan duniawi. Wahyudin (49) warga Nyalindung, Desa Padanaan, Kecamatan Paseh, mengaku sejak masjid yang megah dibangun kesan Nyalindung sebagai tempat pelacuran sudah pupus.
"Sekarang ini sudah tidak malu lagi kalau menyebut nama Nyalindung. Kalau dulu pasti orang memandang miring karena menjadi lokalisasi pelacuran," katanya, Rabu (15/8).
Masjid Raya Nyalindung yang dibangun April 2003 memang disengaja dibangun di atas lokasi prostitusi paling terkenal di Sumedang. Kawasan yang dikenal dengan sebutan Lebak itu terbakar hebat pada 2002 dan Bupati Sumedang saat itu, Misbach, langsung membangun sarana ibadah karena memang lahan tersebut milik Pemkab.
Selain kawasan Nyalindung yang disulap dengan Merlin. Di gerbang masuk Sumedang dari arah Bandung di Ciromed, Tanjungsari yang terkenal dengan tempat pelacuran juga dibangun masjid. Kawasan prostitusi Ciromed yang diamuk massa dengan cara dibakar pada 1999 itu juga dibangun Mesjid Raya Ciromed atau dikenal Merci yang di bawahnya ada SPBU Ciromed.
"Ini bagian dari upaya memupus kawasan prostitusi yang berada di gerbang masuk dan keluar Sumedang dengan tempat ibadah. Welcome dan goodbye-nya sekarang menjadi kawasan beribadah," kata Bupati Misbach ketika meresmikan mesjid itu tahun 2003.
Bangunan masjid ini sangat megah. Cat berwarna hijau dengan kubah besar di atasnya yang dikelilingi kubah kecil menjadi sangat enak dilihat. Untuk masuk ke Masjid Raya Nyalindung ini harus naik tangga dan suasana sejuk langsung menyambut para tamu Allah yang akan beribadah. Tempat wudu yang bersih dengan air sejuk dan dingin akan membuat segar tubuh.
Setelah beribadah sebelum meneruskan perjalanan, para pengendara atau jemaah juga bisa menyantap makanan karena ada warung-warung makanan yang berjejer di samping kiri masjid dengan arsitektur unik ini.
Sambil menyantap makanan, pandangan mata bisa ditebarkan ke bagian, utara, timur dan selatan. Pemandangan penuh pesona akan memanjakan mata karena selain ada hamparan gunung, juga pematang sawah yang hijau serta aliran Sungai Cipeles yang berkelok-kelok mirip ular.
Para pengunjung ramai saat ketika memasuki waktu salat zuhur, asar, magrib dan isa. "Kalau saat masuk waktu salat banyak yang datang, mobil dan motor langsung berhenti dan penumpang atau pengendaranya langsung ke masjid. Setelah usai salat biasanya tidak langsung pergi tapi istirahat," kata Supriatna salah seorang penunggu warung.
Di saat puasa ini, jumlah pengunjung sedikit meningkat dan betul-betul dijadikan tempat peristirahatan. "Bahkan kalau menjelang berbuka banyak yang mampir dan langsung buka puasa di sini karena tersedia menu makanan di warung-warung," katanya.
Masjid yang berada di kawasan jalan utama Bandung-Sumedang-Cirebon ini sangat strategis. Di tengah penatnya perjalanan panjang dari arah Bandung atau Cirebon dengan kondisi jalan yang berkelok dan turunan atau tanjakan tajam, Masjid Raya Nyalindung menjadi pilihan untuk beristirahat sekaligus beribadah. (*)