Sabtu, 5 September 2015

Astrid Butuh Sebulan Menulis Surat Bahasa Sunda

Jumat, 20 Juli 2012 10:46

Astrid Butuh Sebulan Menulis Surat Bahasa Sunda
Zelphi
JUARA - Astrid Monica dari Kabupaten Ciamis, pemenang juara I Lomba Menulis Surat Kepada Gubernur, dalam Kategori Bahasa Sunda menerima piala dari Asisten Administrasi Provinsi Jawa Barat H. Iwa Karniwa di Hotel Savoy Homan, Kota Bandung, Kamis (19/7/2012).

PEREMPUAN berjilbab dan bermata sipit itu mengaku tidak menyangka kebanggaan menjadi juara Lomba Menulis Surat dalam Bahasa Daerah kepada Gubernur Jawa Barat akan hinggap pada dirinya. Bahkan perempuan yang masih duduk di bangku kelas dua SMAN 2 Tasikmalaya ini mengaku masih banyak kata yang kurang sesuai dengan kaidah bahasa Sunda yang benar.

"Menjadi juara ini, nggak nyangka. Karena dalam kata-katanya saya merasa masih banyak yang salah, bahkan saya sempat beberapa kali mengeditnya," tutur Astrid Monica saat ditemui Tribun seusai menerima penghargaan juara I Lomba Menulis Surat dalam Bahasa Daerah kepada Gubernur Jawa Barat untuk kategori Bahasa Sunda di Hotel Savoy Homann, Kamis (19/7).

Gadis kelahiran Ciamis, 22 Juni 1996, ini mengatakan surat itu dibuatnya dalam waktu hampir sebulan. Beberapa kali, putri pertama dari dua bersaudara buah hati pasangan Ling Fung dan Indayati itu melakukan revisi pada suratnya. "Selain itu sempat lama juga dalam mencari ide tentang apa yang akan disampaikan kepada gubernur. Setelah itu sulit juga saat mencari kata-katanya yang tepat dalam bahasa Sunda, sampai saya melakukan beberapa kali revisi," ujarnya.

Menurut Astrid, keberhasilannya menceritakan lunturnya budaya tungkul (menunduk) kepada Gubernur Jawa Barat dalam suratnya berbahasa Sunda yang dilombakannya itu tak lepas dari ajarannya tentang bahasa dan budaya Sunda yang diterimanya sejak kecil dari neneknya, Mimin. Selama ini, ia memang tinggal bersama neneknya di Ciamis, sementara kedua orang tuanya bersama adiknya tinggal di Bandung.

"Saya belajar Sunda sejak kecil dari Nenek. Alhamdulillah ternyata banyak juga manfaatnya," tutur Astrid, yang juga berhasil meraih nilai 90 untuk mata pelajaran Basa Sunda di rapor SMA-nya terakhir.

Ide untuk menceritakan budaya tungkul itu, kata Astrid, dilatari oleh pengalaman pribadi dalam lingkungannya. Menurut dia, budaya tungkul itu merupakan kata kiasan untuk istilah sopan santun. Dalam budaya Sunda, sopan santun merupakan hal yang tidak pernah terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan penggunaan kata dalam bahasa Sunda pun dibedakan antara kalimat yang ditujukan kepada yang lebih muda, sesama, dan lebih tua.

"Tapi sekarang ini saya melihat terutama kalangan generasi muda untuk bersikap sopan menyebutkan punten pun sudah jarang terlihat. Padahal orang Sunda itu kan dulunya dikenal sebagai masyarakat yang sopan dan halus tutur bahasanya," kata Astrid, yang juga pernah menjadi juara menulis carpon se- Kota Tasikmalaya pada tahun 2010.

Halaman12
Penulis: ddh
Editor: dar
KOMENTAR
berita POPULER
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas