Wajah Kita
SEBUAH berita yang saya baca di sebuah koran nasional, belum lama ini, sungguh membuat saya tertegun. Berita itu tentang anak-anak di Kecamatan
Penulis: Arief Permadi | Editor: Darajat Arianto
SEBUAH berita yang saya baca di sebuah koran nasional, belum lama ini, sungguh membuat saya tertegun. Berita itu tentang anak-anak di Kecamatan Badau dan Puring Kencana, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, yang konon lebih fasih menyanyikan lagu kebangsaan Malaysia, Terang Bulan, dibanding lagu kebangsaannya sendiri, Indonesia Raya.
Kondisi yang kabarnya sudah berlangsung lama di dua kecamatan yang berada di daerah perbatasan itu.
Sejak lama, kabarnya, orang-orang tua di Kecamatan Badau dan Puring Kencana memang lebih suka dan bangga jika anak-anaknya bisa sekolah di Serawak, Malaysia. Pertama, tentu saja karena gratis. Kedua karena memang mutunya lebih bagus dari sekolah yang berada di kecamatan mereka.
Menyekolahkan anak di negeri tetangga ini juga bukan masalah rumit bagi warga Badau dan Puring Kencana. Setidak-tidaknya ada dua cara yang bisa mereka lakukan. Pertama, dengan memiliki orang tua angkat yang berkewarganegaraan Malaysia yang sekaligus menjadi wali murid anaknya saat bersekolah di sana. Atau, cara kedua, dengan memiliki akta kelahiran Malaysia.
Itu sebabnya, perempuan-perempuan di Kecamatan Badau dan Puring Kencana, kemudian pun lebih memilih memeriksakan kehamilan dan melakukan persalinan di rumah sakit Malaysia.
Dengan melahirkan anak di rumah sakit yang ada di Malaysia secara otomatis anaknya mendapat akta kelahiran Malaysia. Dengan akta kelahiran Malaysia, anaknya langsung dapat sekolah gratis hingga setidak-tidaknya tingkat SMA di sekolah Malaysia. Jika si anak ternyata berprestasi, orang tuanya akan ditawari agar mengizinkan anaknya menjadi warga Malaysia. Namun, jika si anak tak berprestasi, Malaysia akan mengembalikan anak-anak tersebut kepada orang tuanya. Benarbenar, rasa-rasanya, tidak ada ruginya.
Alasan lain yang membuat para orang tua di kedua kecamatan tersebut lebih memilih anaknya sekolah di Malaysia karena kondisi pendidikan di kecamatan mereka memang memprihatinkan, baik kualitas maupun kuantitasnya. Kondisi ini, kabarnya bahkan diperparah dengan masih adanya oknum tenaga pendidik yang kurang disiplin, malas mengajar, dan kerap membolos dengan berbagai macam alasan. Banyak ruang kelas kosong di saat jam pelajaran akibat mental guru yang sepertinya kurang siap menerima penugasan di wilayah perbatasan.
Namun, bicara tentang wilayah perbatasan, ada logika yang rasa-rasanya keliru yang diterapkan oleh pemerintah kita. Bicara soal daerah perbatasan, sesungguhnya bicara soal daerah terluar, yang tak lain adalah etalase negeri. Karena itu, jika logikanya benar, pembangunan seharusnya dimulai dari sini, bukan seperti sekarang, justru sebaliknya.
Selama ini, wilayah terluar selalu kurang terperhatikan karena pembanguan cenderung dimulai dari dalam. Daerah-daerah yang lebih dekat ke pusat pemerintahan, seringnya jauh lebih maju dibanding bagian negeri terluar. Padahal, etalase, seharusnya mendapat porsi lebih besar.
Itu sebabnya, wajah negeri di mata dunia tak terlalu bersinar karena yang ditampakkan memang kemuraman. Bagi warga Serawak, Kecamatan Badau dan Puring Kencana adalah wajah Indonesia. Seburuh apa Indonesia di mata mereka adalah seburuk yang mereka lihat di Badau dan Puring Kencana. (*)