Jawa dan Luar Jawa
Senin, 16 Juli 2012 18:24 WIB
* Hermawan Aksan, Wartawan Tribun
RUHUT Sitompul belakangan banyak bicara soal Jawa dan luar Jawa. Mulanya ia tampak berniat menyerang Aburizal Bakrie. Menurut Ruhut, faktor Jawa-luar Jawa ibarat persyaratan yang tidak tertulis tapi sangat menentukan presiden terpilih. Peluang Aburizal, kata Ruhut, berat karena berasal dari luar Jawa.
Kata Ruhut, "Bukan aku mengungkit SARA, ya, tapi ada syarat tidak tertulis untuk menjadi presiden adalah saudara kita dari suku Jawa. Kalau bukan dari suku Jawa, aku mohon paling tidak bekerja ekstra keras melobi untuk wakil presiden saja cukup."
Jadi, kata Ruhut, jangan main-main kalau luar Jawa mau jadi presiden. "Saya mohon introspeksi. Memang tak tertutup kemungkinan jika ada calon presiden dari suku luar Jawa. Namun terlalu sulit untuk menang," ujar Ruhut, yang antara lain memuji orang Jawa sebagai low profile.
Ruhut juga mencontohkan kegagalan Alex Noerdin yang berasal dari Sumatra Selatan dalam Pemilukada DKI Jakarta. Suara Alex yang kalah jauh dari lawan-lawannya yang berasal dari suku Jawa, kata Ruhut, adalah fakta dan ini tidak lepas dari faktor kesukuan.
Memang Ruhut tidak secara jelas menyebutkan apakah yang ia maksud "Jawa" itu Pulau Jawa atau suku Jawa. Tapi ditilik dari contohcontoh yang dikemukakan, tampaknya yang dimaksud Ruhut adalah yang kedua.
Apakah kata-kata Ruhut bernada rasialis atau tidak, entahlah. Beberapa hari berlalu dan tampaknya ia tidak mendapat teguran atau sanksi atas pernyataannya. Dan apakah Ruhut benar-benar memuji suku Jawa atau sebaliknya menyimpan kritik pedas, juga agak sulit diterka.
Yang pasti, ungkapan bahwa faktor Jawa dan luar Jawa menentukan peluang menjadi presiden RI sudah lama dipercaya. Daftar presiden RI sudah memberikan bukti. Calon-calon presiden dari luar Jawa selalu kandas. Tidak hanya Ruhut yang orang Batak, Andi Mallarangeng yang Makassar tempo hari pernah bilang sendiri bahwa orang Sulawesi belum saatnya menjadi presiden. Apakah ini cermin inferioritas orang non-Jawa terhadap Jawa atau sekadar mencoba loyal kepada partai?
Pertanyaan yang layak diajukan begini: apakah deretan presiden yang orang Jawa ini telah berhasil mengantarkan negeri ini ke tempat yang layak di peta dunia dan membawakan kemakmuran buat rakyatnya? Oh, bukan berarti saya SARA atau rasialis. Saya sekadar ingin merespons pernyataan Ruhut.
Sebab, menurut saya, yang layak menjadi presiden bukanlah orang Jawa atau non-Jawa, melainkan orang yang amanah, cerdas, berhati nurani, dan bersih dari korupsi.
Oh, ya, pada milangkala Paguyuban Pasundan, Sabtu lalu, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan bilang "Sudah sepantasnya warga etnis Sunda minimal mampu menjadi RI-2." Dengan kata lain, menjadi RI-1 pun sudah sepantasnya.
Pertanyaannya: masa sih tidak ada orang Sunda yang amanah, cerdas, berhati nurani, dan bersih dari korupsi? (*)
RUHUT Sitompul belakangan banyak bicara soal Jawa dan luar Jawa. Mulanya ia tampak berniat menyerang Aburizal Bakrie. Menurut Ruhut, faktor Jawa-luar Jawa ibarat persyaratan yang tidak tertulis tapi sangat menentukan presiden terpilih. Peluang Aburizal, kata Ruhut, berat karena berasal dari luar Jawa.
Kata Ruhut, "Bukan aku mengungkit SARA, ya, tapi ada syarat tidak tertulis untuk menjadi presiden adalah saudara kita dari suku Jawa. Kalau bukan dari suku Jawa, aku mohon paling tidak bekerja ekstra keras melobi untuk wakil presiden saja cukup."
Jadi, kata Ruhut, jangan main-main kalau luar Jawa mau jadi presiden. "Saya mohon introspeksi. Memang tak tertutup kemungkinan jika ada calon presiden dari suku luar Jawa. Namun terlalu sulit untuk menang," ujar Ruhut, yang antara lain memuji orang Jawa sebagai low profile.
Ruhut juga mencontohkan kegagalan Alex Noerdin yang berasal dari Sumatra Selatan dalam Pemilukada DKI Jakarta. Suara Alex yang kalah jauh dari lawan-lawannya yang berasal dari suku Jawa, kata Ruhut, adalah fakta dan ini tidak lepas dari faktor kesukuan.
Memang Ruhut tidak secara jelas menyebutkan apakah yang ia maksud "Jawa" itu Pulau Jawa atau suku Jawa. Tapi ditilik dari contohcontoh yang dikemukakan, tampaknya yang dimaksud Ruhut adalah yang kedua.
Apakah kata-kata Ruhut bernada rasialis atau tidak, entahlah. Beberapa hari berlalu dan tampaknya ia tidak mendapat teguran atau sanksi atas pernyataannya. Dan apakah Ruhut benar-benar memuji suku Jawa atau sebaliknya menyimpan kritik pedas, juga agak sulit diterka.
Yang pasti, ungkapan bahwa faktor Jawa dan luar Jawa menentukan peluang menjadi presiden RI sudah lama dipercaya. Daftar presiden RI sudah memberikan bukti. Calon-calon presiden dari luar Jawa selalu kandas. Tidak hanya Ruhut yang orang Batak, Andi Mallarangeng yang Makassar tempo hari pernah bilang sendiri bahwa orang Sulawesi belum saatnya menjadi presiden. Apakah ini cermin inferioritas orang non-Jawa terhadap Jawa atau sekadar mencoba loyal kepada partai?
Pertanyaan yang layak diajukan begini: apakah deretan presiden yang orang Jawa ini telah berhasil mengantarkan negeri ini ke tempat yang layak di peta dunia dan membawakan kemakmuran buat rakyatnya? Oh, bukan berarti saya SARA atau rasialis. Saya sekadar ingin merespons pernyataan Ruhut.
Sebab, menurut saya, yang layak menjadi presiden bukanlah orang Jawa atau non-Jawa, melainkan orang yang amanah, cerdas, berhati nurani, dan bersih dari korupsi.
Oh, ya, pada milangkala Paguyuban Pasundan, Sabtu lalu, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan bilang "Sudah sepantasnya warga etnis Sunda minimal mampu menjadi RI-2." Dengan kata lain, menjadi RI-1 pun sudah sepantasnya.
Pertanyaannya: masa sih tidak ada orang Sunda yang amanah, cerdas, berhati nurani, dan bersih dari korupsi? (*)
Penulis : her
Editor : dar