Selasa, 9 Juni 2026

Asa Persib

BAGI Persib Bandung, finis di posisi delapan Liga Super Indonesia (LSI) 2011/2012 tentu sangat mengecewakan. Namun itulah sepak bola

Tayang:
Penulis: Giri | Editor: Darajat Arianto
* Sugiri U. A, Wartawan Tribun

BAGI Persib Bandung, finis di posisi delapan Liga Super Indonesia (LSI) 2011/2012 tentu sangat mengecewakan. Namun itulah sepak bola, apapun bisa terjadi dan tim Maung Bandung harus rela berada di papan tengah setelah menyelesaikan 34 laga.

Dari jumlah laga tersebut, tim yang diarsiteki Robby Darwis yang menjadi suksesor Drago Mamic yang dipecat di tengah kompetisi, hanya mampu memenangkan 14 laga. Tak ada setengahnya. Selain itu, sebanyak tujuh laga dilalui dengan hasil seri dan 13 kali mengalami kekalahan.

Di klasemen akhir, tim yang punya julukan lain Pangeran Biru masih kalah dengan tim seprovinsi, Pelita Jaya Karawang. Pelita berhasil finis di posisi enam, di atas Persiba Balikpapan, meski sama-sama mengoleksi poin 51.

Urut-urutan posisi pertama hingga tujuh klasemen akhir LSI setelah menyelesaikan laga pamungkas pada Rabu (11/7) adalah Sriwijaya FC, Persipura, Persiwa, Persela, Persija, Pelita Jaya dan Persiba lalu Persib. Bisa dikatakan, dari deretan tim di atasnya, Persib tak layak berada di posisi delapan.

Lagi-lagi, sepak bola ternyata bukan matematika. Hasil pertandingan tak bisa dijawab dengan rumus- rumus pasti berdasarkan kualitas pemain semata. Diakui atau tidak, komposisi pemain yang dimiliki Persib Bandung bisa dikatakan bertabur bintang. Siapa yang tak tahu dengan Maman Abdurahman, Marcio Souza, Atep, Noh Alam Shah hingga kiper sekaliber Jendri Pitoy.

Tapi kenapa dengan materi sedemikian rupa, Persib kalah dengan skor mencolok 0-3 saat melawan PSAP Sigli di kandang lawan? Padahal Sigli, saat melawan Persib, berada di posisi buncit klasemen sementara. Tentunya secara kasat mata kualitas permainan Persib beberapa jenjang berada di atas PSAP. Itulah bukti catatan-catatan di atas kertas yang tak bisa selalu diimplementasikan di atas lapangan.

Pada akhirnya, Persib mengakhiri musim berada di posisi delapan setelah kalah 0-1 atas tuan rumah, Sriwiaya FC. Dengan hasil secara keseluruhan, kecewa wajar dirasakan karena disamping punya kekuatan maksimal di semua sisi --yang paling penting pendanaan-- Persib ternyata belum bisa berbicara banyak di pentas sepak bola tertinggi di Tanah Air ini.

Bandingkan saja prestasi yang berhasil dicapai Persib dalam lima musim terakhir. Posisi musim ini paling buruk karena turun satu tingkat dibandingkan musim lalu. Posisi tujuh juga diraih pada tahun 2007. Pada musim 2008/09 finis di posisi tiga dan musim 2009/10 berada di posisi empat.

Lalu, apa yang salah dengan Persib? Untuk membangun satu tim yang solid tak bisa hanya dengan pemain-pemain berkualitas baik, apalagi hanya bermodal pemain yang sudah punya nama. Bisa saja pemain bintang tak bisa menunjukkan permainan terbaiknya jika tak mendapat dukungan yang baik dari pemain sektor lainnya. Harus ada saling dukung dalam tim dan pemain harus menjauhkan ego pribadi agar kepentingan tim tetap berada di atas segalanya.

Dalam sebuah tim sepak bola, setiap pemain punya tugas masingmasing meski sekat itu hampir tidak ada. Tak haram pemain bertahan mencetak gol, begitu juga barisan gelandang walaupun ada pemain yang berposisi penyerang dan memiliki spesialis mencetak gol. Sayangnya yang terlihat di beberapa tim, mungkin juga Persib, semua pemain seolah berlomba mencetak gol yang pada akhirnya justru merusak irama permainan.

Pelatih memang punya peranan penting dalam meracik strategi bermain, tapi pemain bukan robot yang bisa digerakkan oleh pelatih dengan menekan tombol-tombol di tangannya. Pemain tetap memiliki peranan penting dalam menentukan hasil pertandingan. Jika dia sudah memiliki rasa, bahwa tim adalah segalanya, maka dia akan mati-matian di lapangan.

Pada akhirnya, prestasi jeblok musim ini harus tetap dipandang dengan positif. Jangan saling menyalahkan. Jika punya target musim depan, manajemen harus bergerak cepat untuk menentukan ornamen-ornamen tim walau kompetisi lanjutan masih abu-abu. Pelatih harus direkrut lebih dulu karena dia yang tahu, seperti apa tim yang akan dibentuknya.

Tentunya, bobotoh sangat mengharapkan Maung Bandung menjadi yang terbaik di kancah sepak bola Indonesia, karena itu yang paling membanggakan. So, masih ada asa, Persib! (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved