Tantangan Bis Surat
Selasa, 10 Juli 2012 14:49 WIB
Adityas A A, Wartawan Tribun
DAHULU orang percaya akan bis surat, tempat mereka yakin suratnya akan tiba dengan selamat tanpa perlu ke kantor pos. Namun kini jarang yang berani mengirim surat dengan perangko lalu memasukkannya ke bis surat. Mungkin bagi mereka mengirim surat melalui bis surat tidak ada jaminan sampai ke tujuan.
Saat ini memang era digital. Surat tertulis atau tercetak telah berganti dengan email, SMS, MMS, atau BlackBerry messenger. Komunikasi jarak jauh melalui telepon bukan saja pesan suara, namun juga bertatap muka langsung jarak jauh di layar kaca. Mengirim surat lewat pos bukan saja dianggap ketinggalan zaman, namun mungkin hal yang aneh bagi anak yang lahir di era digital ini.
Inilah tantangan terbesar bagi PT Pos Indonesia. Bagaimana menjadikan bis surat yang bermanfaat di era digital ini. PT Pos harus mendata ada berapa bis surat di Indonesia ini. Harus juga diperhatikan mana bis surat produktif dan mana yang tidak. Seperti diberitakan harian ini, Minggu (8/7), Kepala Kantor Mail Proccessing Center (MPC) PT Pos Indonesia, Salman mengatakan masih ada bis surat yang tetap produktif yaitu yang berlokasi di sekitar kawasan industri dan kampus-kampus.
Menurut Salman pula, di Bandung terdapat 86 bis surat yang tersebar di berbagai titik. Sebanyak 61 unit di antaranya bis surat kecil, sisanya berukuran besar. Dari 86 bis surat itu 35 di antaranya tidak produktif.
Karena itu rencana PT Pos memindahkan bis surat ke tempattempat produktif patut didukung. Jika bekerja sama dengan hotel-hotel atau objek wisata, maka akan sangat bagus jika di sekitar bis surat disediakan juga penjual perangko dan kartu pos. Dengan demikian seseorang atau rombongan turis dari tempat wisata dapat langsung mengirimkan kartu pos bergambar khas daerah tersebut dengan ditempeli perangko Indonesia yang juga bergambar indah.
Bukan itu saja, ini juga saatnya PT Pos menghidupkan kembali gerakan menulis surat. PT Pos bisa bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional untuk membuat sayembara menulis surat. Hal ini guna mendorong para pelajar menulis surat, lalu menempelkan perangko dan mengirimkannya melalui bis surat.
Harus diakui di era digital ini para pelajar menjadi buruk dalam menuangkan ide atau harapan-harapannya dalam bentuk surat, khususnya surat tertulis kepada seseorang atau instansi. Mereka lebih suka menulis dalam kata-kata pendek seperti SMS atau chatting tanpa aturan tata bahasa.
Bis surat memang tantangan bagi PT Pos di masa depan untuk membuat bisnisnya lebih kreatif. (*)
DAHULU orang percaya akan bis surat, tempat mereka yakin suratnya akan tiba dengan selamat tanpa perlu ke kantor pos. Namun kini jarang yang berani mengirim surat dengan perangko lalu memasukkannya ke bis surat. Mungkin bagi mereka mengirim surat melalui bis surat tidak ada jaminan sampai ke tujuan.
Saat ini memang era digital. Surat tertulis atau tercetak telah berganti dengan email, SMS, MMS, atau BlackBerry messenger. Komunikasi jarak jauh melalui telepon bukan saja pesan suara, namun juga bertatap muka langsung jarak jauh di layar kaca. Mengirim surat lewat pos bukan saja dianggap ketinggalan zaman, namun mungkin hal yang aneh bagi anak yang lahir di era digital ini.
Inilah tantangan terbesar bagi PT Pos Indonesia. Bagaimana menjadikan bis surat yang bermanfaat di era digital ini. PT Pos harus mendata ada berapa bis surat di Indonesia ini. Harus juga diperhatikan mana bis surat produktif dan mana yang tidak. Seperti diberitakan harian ini, Minggu (8/7), Kepala Kantor Mail Proccessing Center (MPC) PT Pos Indonesia, Salman mengatakan masih ada bis surat yang tetap produktif yaitu yang berlokasi di sekitar kawasan industri dan kampus-kampus.
Menurut Salman pula, di Bandung terdapat 86 bis surat yang tersebar di berbagai titik. Sebanyak 61 unit di antaranya bis surat kecil, sisanya berukuran besar. Dari 86 bis surat itu 35 di antaranya tidak produktif.
Karena itu rencana PT Pos memindahkan bis surat ke tempattempat produktif patut didukung. Jika bekerja sama dengan hotel-hotel atau objek wisata, maka akan sangat bagus jika di sekitar bis surat disediakan juga penjual perangko dan kartu pos. Dengan demikian seseorang atau rombongan turis dari tempat wisata dapat langsung mengirimkan kartu pos bergambar khas daerah tersebut dengan ditempeli perangko Indonesia yang juga bergambar indah.
Bukan itu saja, ini juga saatnya PT Pos menghidupkan kembali gerakan menulis surat. PT Pos bisa bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional untuk membuat sayembara menulis surat. Hal ini guna mendorong para pelajar menulis surat, lalu menempelkan perangko dan mengirimkannya melalui bis surat.
Harus diakui di era digital ini para pelajar menjadi buruk dalam menuangkan ide atau harapan-harapannya dalam bentuk surat, khususnya surat tertulis kepada seseorang atau instansi. Mereka lebih suka menulis dalam kata-kata pendek seperti SMS atau chatting tanpa aturan tata bahasa.
Bis surat memang tantangan bagi PT Pos di masa depan untuk membuat bisnisnya lebih kreatif. (*)
Penulis : ary
Editor : dar