Pertempuran Surabaya Jadi Film Kartun Dua Dimensi
Jumat, 6 Juli 2012 11:08 WIB
Share |
20120705_guy_Direktur_Amikom_Yogyakarta,_Suyanto.jpg
Agung Yulianto
Direktur Amikom Yogyakarta, Suyanto

Oleh Agung Yulianto Wibowo

BUNG
Tomo berteriak "Allahu Akbar" di hadapan ribuan arek-arek Suroboyo. Ketika ia berteriak, kamera diarahkan mendekati wajah pejuang kemerdekaan itu. Dengan bersemangat, para pejuang itu kemudian berperang menghadapi penjajahan di atas bumi Surabaya. Mereka menghadang mesin perang penjajah.

Suara-suara dentuman senjata saling bersahutan. Seorang prajurit penjajah terkena ledakan, dan tersungkur ke tanah. Badannya penuh luka. Namun, dia selamat. Seorang bocah pribumi menggotong tubuh penjajah itu ke tempat yang lebih aman. "Ini bukan soal perang. Ini tentang kemanusiaan, kehormatan, dan kebebasan."

Kisah itu tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya di Surabaya, pascabom atom di Jepang. Selain itu juga serangan pasukan gabungan sekutu ke Jerman melalui Normandia.

Narasi pendek film kartun dua dimensi ini dipamerkan Prof Dr M Suyanto. Direktur Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Amikom Yogyakarta ini menjadi pembuat naskah cerita dalam film kartun berjudul The Battle of Surabaya ini. Ini film dua dimensi pertama buatan Indonesia, yang juga dipasarkan di dalam negeri.

Dengan dua layar besar, cuplikan film kartun itu ditayangkan di acara talk show Menjadikan Industri Konten Lokal Sebagai Tuan Rumah di Negeri Sendiri, pada Industry Creative Festival (Incefest) 2012 di Hotel Ciumbuleuit, Bandung, Kamis (5/7).

Pria kelahiran 20 Februari 1960 ini mengatakan, saat ini dia dibantu Aryanto Yuniawan sebagai sinematografinya. Selain itu juga tiga kru lainnya. Proses awal ini baru digarap lima orang, dan rencananya mulai diluncurkan serentak di seluruh wilayah di Indonesia pada awal tahun depan.

"Ini baru proses. Kami bikin proses awalnya enam bulan. Rencananya, tahun depan diluncurkan dan kami bekerja sama dengan Kompas Gramedia. Juga akan diedarkan oleh Kompas Gramedia. Ini film pertama dua dimensi kartun di Indonesia. Biayanya sekarang tidak sampai Rp 1 miliar," ujar suami Anisa Aini ini kepada Tribun.

Suyanto mengenal dan menguasai betul proses pembuatan film rasa Hollywood. Film kartun The Battle of Surabaya ini merupakan cerita Indonesia dengan teknologi kiblat film dunia tersebut. Apalagi teknik pengambilan gambar, untuk memainkan perasaan penontonnya. Ada rasa haru, takut, dan senang.

Pengajar mata kuliah Elektronik Bisnis ini mengaku mendapatkan banyak bocoran teknologi film-film Hollywood dari Jepang. Khususnya proses pengambilan gambar, yang bisa mengajak penonton laiknya ikut terlibat dalam sebuah film. "Kuncinya move atau terus bergerak. Kamera tidak akan diam, terutama pada saat momen tertentu," ujarnya.

Para hadirin pun terpana, melihat presentasi tentang beberapa teknik pembuatan film ala Hollywood. Apalagi disandingkan dengan contoh-contoh film, yang memainkan pengambilan gambar untuk menyatukan penonton dan lakon yang ada di film.

"Saya tahu itu dari orang Jepang. Kita harus belajar dari Jepang. Selama ini, banyak anak Indonesia yang mendapat proyek film Hollywood. Tapi namanya tidak pernah dicantumkan. Proyek itu pengerjaannya, ya, di dalam negeri. Jadi, ya, seperti tukang jahit yang tidak dikenal," kata Suryanto. (*)

Penulis : guy
Editor : dar