Musim Hemat Air
Kamis, 5 Juli 2012 11:13 WIB
* Januar P Hamel, Wartawan Tribun
MUSIM kemarau mulai terasa. Beberapa daerah di Jawa Barat bahkan telah mengalami kekeringan. Sawah, irigasi, dan sumber air sudah mulai mengering. Tak hanya penduduk di perdesaan, masyarakat di perkotaan pun harus siap-siap menghadapi musim kering kali ini.
Kemarau akan dialami cukup lama. Kemugkinan bisa terjadi sejak Mei hingga Oktober. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan status siaga darurat kekeringan sejak Mei hingga Oktober 2012.
BPPD Jawa Barat mengaku telah menyiapkan perangkat untuk membuat hujan buatan apabila terjadi kekeringan yang berkepanjangan di Provinsi Jawa Barat. BPPD memprediksi Kabupaten Garut dan Kabupaten Karawang adalah wilayah yang rawan kekeringan.
Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) memprediksi sebanyak 4.000 lahan persawahan di Jawa Barat terancam kekeringan. Malah, kata Ketua PPNSI Jabar Bahruzin, jumlah lahan kekeringan bakal bertambah jika musim kemarau terjadi hingga akhir tahun.
Namun, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, tidak lantas gundah Jabar bakal kekurangan stok pangan. Kata Heryawan, stok pangan di Jabar takkan terpengaruh karena stok telah terpenuhi ketika panen raya. "Yang kita lakukan adalah menginstruksikan ke daerah-daerah yang terjadi kekeringan pada saat kemarau ini tidak menanam padi," kata Heryawan seperti dikutip detik.com.
Lalu bagaimana antispasi di perkotaan? PDAM Tirtawening di Kota Bandung sudah siap-siap memotong durasi aliran air ke rumah-rumah selama dua jam. Jadi jika air mengalir tadinya 10 jam dipotong dua jam menjadi delapan jam.
Terkait kebijakan PDAM tersebut, banyak komentar yang masuk ke koran ini. Ada yang setuju, ada juga yang setuju dengan syarat, dan ada yang tidak setuju sama sekali. Menurut yang setuju kebijakan PDAM ini bisa jadi bahan pelajaran untuk hidup berhemat.
Bagi yang setuju dengan syarat, PDAM harus berlaku adil dalam menerapkan kebijakan tersebut. "Jangan hanya dikurangi sama rakyat kecil aja, pejabat malah menikmati air yang cukup. Harus adil gitu lho," tulis Ayu IntanNuraeni dalam page T-book Tribun Jabar di Facebook.
"Ya, mudah-mudahan apa yang dilakukan PDAM keputusan yang terbaik, tapi harus sesuai pembayarannya. Jangan sampai air nggak ada, bayar mahal. Kasihan pelanggan," kata Tetet Rohaeti Riadi.
Bagi yang tidak setuju berharap PDAM tidak memotong durasi pengaliran air. Mereka tidak rela saat kemarau nanti kekurangan air. "Berharap air ledeng tersedia terus sambil kualitasnya sebaik air mineral, bisa diminum langsung dari keran, mustahil gak sih? Masih lamakah itu terjadi? Atau khayalan yang ketinggian?" kata Sisilia Herjanti.
"Mengapa mau dikurangi? Air kan sumber kehidupan, jika dikurangi, gimana masyarakat nanti?" ujar Rony Ibnu'zauzyhasani.
PDAM memang tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak menjelaskan mengapa kebijakan itu diambil. PDAM justru memberi saran pada pelanggannya untuk membuat groundtank untuk menampung air. "Hemat pemakaian air, gunakan hanya untuk kebutuhan-kebutuhan primer," ujar Direktur Utama PDAM Tirtawening, Pian Sopian, kepada Tribun, Sabtu (30/6).
Jadi mulai sekarang pandai-pandailah menghemat air. (*)
MUSIM kemarau mulai terasa. Beberapa daerah di Jawa Barat bahkan telah mengalami kekeringan. Sawah, irigasi, dan sumber air sudah mulai mengering. Tak hanya penduduk di perdesaan, masyarakat di perkotaan pun harus siap-siap menghadapi musim kering kali ini.
Kemarau akan dialami cukup lama. Kemugkinan bisa terjadi sejak Mei hingga Oktober. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan status siaga darurat kekeringan sejak Mei hingga Oktober 2012.
BPPD Jawa Barat mengaku telah menyiapkan perangkat untuk membuat hujan buatan apabila terjadi kekeringan yang berkepanjangan di Provinsi Jawa Barat. BPPD memprediksi Kabupaten Garut dan Kabupaten Karawang adalah wilayah yang rawan kekeringan.
Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) memprediksi sebanyak 4.000 lahan persawahan di Jawa Barat terancam kekeringan. Malah, kata Ketua PPNSI Jabar Bahruzin, jumlah lahan kekeringan bakal bertambah jika musim kemarau terjadi hingga akhir tahun.
Namun, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, tidak lantas gundah Jabar bakal kekurangan stok pangan. Kata Heryawan, stok pangan di Jabar takkan terpengaruh karena stok telah terpenuhi ketika panen raya. "Yang kita lakukan adalah menginstruksikan ke daerah-daerah yang terjadi kekeringan pada saat kemarau ini tidak menanam padi," kata Heryawan seperti dikutip detik.com.
Lalu bagaimana antispasi di perkotaan? PDAM Tirtawening di Kota Bandung sudah siap-siap memotong durasi aliran air ke rumah-rumah selama dua jam. Jadi jika air mengalir tadinya 10 jam dipotong dua jam menjadi delapan jam.
Terkait kebijakan PDAM tersebut, banyak komentar yang masuk ke koran ini. Ada yang setuju, ada juga yang setuju dengan syarat, dan ada yang tidak setuju sama sekali. Menurut yang setuju kebijakan PDAM ini bisa jadi bahan pelajaran untuk hidup berhemat.
Bagi yang setuju dengan syarat, PDAM harus berlaku adil dalam menerapkan kebijakan tersebut. "Jangan hanya dikurangi sama rakyat kecil aja, pejabat malah menikmati air yang cukup. Harus adil gitu lho," tulis Ayu IntanNuraeni dalam page T-book Tribun Jabar di Facebook.
"Ya, mudah-mudahan apa yang dilakukan PDAM keputusan yang terbaik, tapi harus sesuai pembayarannya. Jangan sampai air nggak ada, bayar mahal. Kasihan pelanggan," kata Tetet Rohaeti Riadi.
Bagi yang tidak setuju berharap PDAM tidak memotong durasi pengaliran air. Mereka tidak rela saat kemarau nanti kekurangan air. "Berharap air ledeng tersedia terus sambil kualitasnya sebaik air mineral, bisa diminum langsung dari keran, mustahil gak sih? Masih lamakah itu terjadi? Atau khayalan yang ketinggian?" kata Sisilia Herjanti.
"Mengapa mau dikurangi? Air kan sumber kehidupan, jika dikurangi, gimana masyarakat nanti?" ujar Rony Ibnu'zauzyhasani.
PDAM memang tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak menjelaskan mengapa kebijakan itu diambil. PDAM justru memberi saran pada pelanggannya untuk membuat groundtank untuk menampung air. "Hemat pemakaian air, gunakan hanya untuk kebutuhan-kebutuhan primer," ujar Direktur Utama PDAM Tirtawening, Pian Sopian, kepada Tribun, Sabtu (30/6).
Jadi mulai sekarang pandai-pandailah menghemat air. (*)
Penulis : jan
Editor : dar