Negeri 'Pencuri'
Rabu, 4 Juli 2012 14:56 WIB
* Arief Permadi, Wartawan Tribun
BAGI sebagian orang, mencuri bukanlah semata karena terdesak kebutuhan hidup. Mencuri sudah menjadi habit. Menjadi kebiasaan hingga rasa-rasanya seperti ada yang kurang kalau sehari saja tak melakukannya.
Negara, kota, bahkan lingkungan kita semua tinggal dan beraktivitas, kini juga sudah dipenuhi pencuri. Kadarnya beragam. Mulai dari yang kecil-kecil yang saking kecilnya sudah tak lagi dianggap sebagai pencurian, hingga yang sedangsedang, bahkan yang berat-berat. Mulai dari yang samar-samar hingga yang jelas, terang benderang, nyata-nyata mencuri, mengambil hak orang lain.
Tanpa sadar, kita pun mungkin sudah terbiasa mencuri, sekalipun yang kita curi "sekadar" hak orang lain untuk mendapat suasana yang tenang tanpa deruman suara knalpot yang memekakkan telinga, misalnya. Atau, yang lagi "tren" hak orang mendapatkan udara bersih yang bebas dari asap rokok.
Di sekolah, beberapa guru juga mulai tak merasa bersalah ketika mencuri-curi waktu mengurangi jam mengajarnya dengan alasan "lebih baik sebentar tapi efektif, daripada lama tapi malah membuat murid- murid mengantuk". Di kantor-kantor pemerintahan, malah lebih vulgar lagi, datang kerja terlambat, pulang lebih cepat, atau sengaja berleha-leha padahal masih jam kerja.
Di jalan-jalan protokol, sejumlah pedagang cuek saja memakai lebih dari separuh trotoar, mengambil begitu saja hak pejalan kaki, yang ironisnya justru senang-senang saja karena keberadaan pedagang justru membantu mereka dalam banyak hal, terutama salam siuasi ekonomi yang serba sulit seperti sekarang.
Habit mencuri, akhirnya tanpa sadar menjadi budaya. Menjadi sesuatu yang dimaafkan. Nggak apa- apa, asal jangan kebangetan. Karena itu, tak heran, pencurian dalam skala dan wajahnya yang begitu beragam, akhirnya tumbuh dengan subur di tanah negeri yang sebenarnya sangat makmur ini.
Pencuri-pencuri di negeri ini bahkan masih bisa tersenyum, berlenggak-lenggok begitu senangnya tanpa perasaan salah, apalagi risih atau malu. Di negeri ini, para pencuri bahkan dengan entengnya bisa mencalonkan dirinya untuk jadi pemimpin, atau wakil rakyat. Dan, itu bukan masalah besar, termasuk ketika entah bagaimana prosesnya, mereka menang dan terpilih. Toh, orang kan bisa berubah. Dan, sekali lagi, itu bukan masalah besar.
Karena itu, sampai kapan pun negeri ini mungkin akan tetap menjadi sarang pencuri, lantaran jangan- jangan kita pulalah yang tanpa sadar tak pernah benar-benar menginginkan perubahan.
Setop budaya mencuri mulai dari diri kita sendiri. Hentikan budaya mencuri, mulai dari hal-hal yang paling remeh temeh.(*)
BAGI sebagian orang, mencuri bukanlah semata karena terdesak kebutuhan hidup. Mencuri sudah menjadi habit. Menjadi kebiasaan hingga rasa-rasanya seperti ada yang kurang kalau sehari saja tak melakukannya.
Negara, kota, bahkan lingkungan kita semua tinggal dan beraktivitas, kini juga sudah dipenuhi pencuri. Kadarnya beragam. Mulai dari yang kecil-kecil yang saking kecilnya sudah tak lagi dianggap sebagai pencurian, hingga yang sedangsedang, bahkan yang berat-berat. Mulai dari yang samar-samar hingga yang jelas, terang benderang, nyata-nyata mencuri, mengambil hak orang lain.
Tanpa sadar, kita pun mungkin sudah terbiasa mencuri, sekalipun yang kita curi "sekadar" hak orang lain untuk mendapat suasana yang tenang tanpa deruman suara knalpot yang memekakkan telinga, misalnya. Atau, yang lagi "tren" hak orang mendapatkan udara bersih yang bebas dari asap rokok.
Di sekolah, beberapa guru juga mulai tak merasa bersalah ketika mencuri-curi waktu mengurangi jam mengajarnya dengan alasan "lebih baik sebentar tapi efektif, daripada lama tapi malah membuat murid- murid mengantuk". Di kantor-kantor pemerintahan, malah lebih vulgar lagi, datang kerja terlambat, pulang lebih cepat, atau sengaja berleha-leha padahal masih jam kerja.
Di jalan-jalan protokol, sejumlah pedagang cuek saja memakai lebih dari separuh trotoar, mengambil begitu saja hak pejalan kaki, yang ironisnya justru senang-senang saja karena keberadaan pedagang justru membantu mereka dalam banyak hal, terutama salam siuasi ekonomi yang serba sulit seperti sekarang.
Habit mencuri, akhirnya tanpa sadar menjadi budaya. Menjadi sesuatu yang dimaafkan. Nggak apa- apa, asal jangan kebangetan. Karena itu, tak heran, pencurian dalam skala dan wajahnya yang begitu beragam, akhirnya tumbuh dengan subur di tanah negeri yang sebenarnya sangat makmur ini.
Pencuri-pencuri di negeri ini bahkan masih bisa tersenyum, berlenggak-lenggok begitu senangnya tanpa perasaan salah, apalagi risih atau malu. Di negeri ini, para pencuri bahkan dengan entengnya bisa mencalonkan dirinya untuk jadi pemimpin, atau wakil rakyat. Dan, itu bukan masalah besar, termasuk ketika entah bagaimana prosesnya, mereka menang dan terpilih. Toh, orang kan bisa berubah. Dan, sekali lagi, itu bukan masalah besar.
Karena itu, sampai kapan pun negeri ini mungkin akan tetap menjadi sarang pencuri, lantaran jangan- jangan kita pulalah yang tanpa sadar tak pernah benar-benar menginginkan perubahan.
Setop budaya mencuri mulai dari diri kita sendiri. Hentikan budaya mencuri, mulai dari hal-hal yang paling remeh temeh.(*)
Penulis : pin
Editor : dar