Alutsista Kita
Selasa, 26 Juni 2012 18:16 WIB
Share |
* Machmud Mubarok, Wartawan Tribun

MUSIBAH
jatuhnya pesawat Fokker 27 milik TNI AU di Kompleks Rajawali, Halim Perdanakusumah, Jakarta, Kamis (21/6), mengingatkan kembali betapa pentingnya peremajaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) kita. Fokker 27 yang jatuh itu merupakan bagian dari enam unit pesawat Fokker 27 milik TNI AU yang biasa digunaka untuk latihan, pengangkut logistik, dan pasukan.

Fokker 27 diproduksi tahun 1975 dan TNI AU mulai menggunakannya sejak 1976-1977. Jadi usia pesawat itu antara 35-36 tahun, usia yang cukup uzur untuk sebuah pesawat.

Benar bahwa faktor usia pesawat tak jadi jaminan. Lihat saja apa yang terjadi pada pesawat Sukhoi Superjet 100 yang menabrak tebing di puncak Gunung Salak, beberapa waktu lalu. Bukankah itu pesawat yang masih hangat baru keluar dari pabriknya?

Namun tentu saja, menggunakan peralatan yang relatif baru atau muda usia, akan lebih nyaman ketimbang menggunakan peralatan lawas, yang sedikit banyak akan memunculkan perasasan waswas saat menggunakannya.

Sebenarnya kita patut mengacungkan jempol pada teknisi-teknisi tempur di TNI AU yang mampu merawat pesawat-pesawat tua agar bisa layak terbang. Boleh jadi, sangat banyak onderdil pesawat yang sudah sulit didapat di pasaran dan itu membutuhkan kecerdikan tersendiri dari para teknisi agar pesawat tetap bisa mengangkasa.

Tahun lalu, Kementerian Pertahanan sudah menganggarkan dana sebesar Rp 150 triliun yang digunakan untuk tiga hal. Pertama Rp 50 triliun dana on top untuk percepatan Minimum Essential Force (MEF), lalu Rp 55 triliun untuk alutsista, dan terakhir Rp 45 triliun untuk pemeliharaan dan perawatan.

Sebagian besar dana itu dipakai untuk belanja pada tahun ini. Adapun pengadaan alutsista pada 2012, antara lain TNI Angkatan Darat akan membeli `Main Battle Tank, senjata anti artileri berupa roket, multiple launcher rocket system, dan meriam armed dengan fokus meriam kaliber 150 mm.

TNI AD juga berencana membeli senjata artileri pertahanan udara yang difokuskan pada peluru kendali dan helikopter yang difokuskan pada helikopter serbu dan serang, serta Panser yang akan dibuat oleh PT Pindad.

Sedangkan TNI Angkatan Udara akan membeli senjata antipesawat udara, pesawat tempur F16, helikopter Cougar 735 sejenis Super Puma, dan Hercules sebanyak empat unit dari Australia.

Sementara TNI Angkatan Laut membeli Sea Rider, kapal patroli cepat, Kapal Perusak, Hidro Oceanic, Kapal Latih untuk pengganti KRI Dewaruci. Selain itu, ada juga kapal-kapal administrasi, seperti kapal angkutan tank dan minyak, serta kapal selam.
Kita harus mendukung penuh pengadaan dan peremajaan peralatan tempur yang dimiliki TNI. Bagaimanapun, untuk menjaga wilayah laut, udara, dan darat Indonesia, dibutuhkan banyak peralatan, selain SDM yang mumpuni.

Jangan sampai terulang kejadian kapal perang Malaysia enak melenggang di perairan Nunukan, Kalimantan Timur, atau  pesawat-pesawat tempur asing yang terbang tanpa permisi pada tuan rumah. Di darat, di laut, dan di udara, kita harus jaya dan berdaulat. (*)

Penulis : mac
Editor : dar