Mental Jerman
Selasa, 19 Juni 2012 15:10 WIB
Share |
* Ferri Amiril, Wartawan Tribun

KATA
Jerman pertama kali saya dengar dari mulut seorang ayah yang rupanya sudah sejak zaman baheula menjagokan tim sepak bola ini. Walaupun dilahirkan di kaki Gunung Tampomas, dan daerahnya cukup jauh dari pusat pemerintahan, tapi dia bersekolah di Bandung. Tidak heran dari pengetahuan dan pergaulannya puluhan tahun silam lalu rupanya sudah sangat mengenal tim Jerman ini.

Penasaran dengan tim yang selalu dibanggakannya, saya mencari tahu alasan kenapa dia menjagokan tim tersebut. Sejak kecil secara kebetulan si kulit bundar selalu saya mainkan setiap hari. Tak heran ibu selalu ngomel karena lapangan tempat kami berlatih, selalu berlumpur yang membuat baju kami berubah berwarna cokelat menjelang petang dan permainan berakhir.

Tujuh belas Agustus selalu menjadi tanggal dimana kami harus memperlihatkan hasil latihan kami selama berbulan-bulan. Di tanggal itu selalu diadakan pertandingan antar RW atau antar kampung. Biasanya diadakan pertandingan usia anak-anak dan dewasa.

Kata Jerman kembali terdengar ketika pertandingan antarkampung tersebut digelar. Kalimat nasihat keluar dari mulutnya, "Milikilah mental Jerman." Pendek dan kebingungan yang terpikir saat itu. Pasalnya menonton siaran televisi yang menayangkan permainan sepak bola Jerman masih jarang ditonton anak kecil di kampung. Selain keterbatasan stasiun televisi, anak kecil pasti sudah tertidur karena tayangan selalu larut malam.

Tahun berganti, stasiun televisi swasta bermunculan. Pertandingan sepak bola luar negeri pun dapat dinikmati. Piala Dunia dan Piala Eropa menjadi buah bibir tak hanya di kawasan perkotaan. Sejak itu, permainan Jerman gampang disaksikan.

Dalam setiap pertandingan yang ditonton di ruang keluarga selalu ada celetukan, "Jerman selalu masuk dalam babak perempat final, semi final, final, dan beberapa kali menjadi juara." Dari celetukan itu juga mental Jerman disebut sebagai mental juara. Entah siapa yang memulai mengidentikkan mental Jerman dengan mental juara dalam dunia persepakbolaan. Namun kalimat itu sudah terdengar sangat lama. Tanpa berpikir panjang yang penting bisa menyaksikan Jerman sudah senang saat itu.

Koleksi gambar pemain seperti Jurgen Klinsman, Oliver Bierhof, mulai menghiasi dinding kamar. Kendati belum mengerti dengan mental Jerman, namun kedua pemain itu selalu menginspirasi saat bertanding. Beberapa kali Jerman pernah duluan namun beberapa kali dia juga membalikkan keadaan menjadi kemenangan. Mungkin itu yang menginspirasi orang menyebut mental Jerman mental juara

Di piala Eropa kali ini Jerman kembali memperlihatkan mentalnya. Dua kali bertanding mereka tidak pernah kalah. Kekompakan dan permainan yang diperlihatkan sebenarnya hampir sama dengan tim favorit Eropa lainnya. Namun satu yang tak bisa dilihat adalah mental mereka. Penyerang yang saat ini sudah mengoleksi tiga gol, Mario Gomez, begitu dingin melesatkan bola ke gawang-gawangnya. Rasa percaya diri ini yang mendorong mereka untuk masuk ke babak selanjutnya.  Rekannya sendiri yang selalu menyuplai bola, Schweinteiger, menyebut kalau Gomez saat ini lebih eksis. Ia dipercaya memiliki mental juara yang membawa rasa optimistis tim.

Namun beberapa kali mental mereka yang percaya diri harus dikalahkan oleh fisik mereka yang tergerus saat babak penyisihan berlangsung. Dari beberapa pertandingan mereka selalu memperlihatkan permainan yang sama sehingga akhirnya mudah ditebak oleh lawan. Dalam Piala Dunia dan Eropa beberapa tahun lalu kejadian yang sama terulang, Jerman kelelahan di babak-babak krusial seperti semifinal dan final.

Namun pelatih Joachim Loew rupanya sudah mengantisipasi hal ini dan bisa saja ia berkaca dari Piala Dunia dan Eropa yang lalu. Kali ini dalam dua pertandingan terakhir, ia selalu menggantikan beberapa pemainnya di menit-menit krusial seperti 30 atau 20 menit menjelang permainan berakhir. Tentu hal ini untuk menjaga stamina tim dalam laga berikutnya. Apakah tangan Joachim Loew mampu meramu mental dan fisik Jerman? Perjalanan Euro 2012 masih berlangsung.(*)

Penulis : fam
Editor : dar