Dahlan Iskan Mengajar Wartawan
Senin, 11 Juni 2012 17:36 WIB

KOMPAS.COM/RODERICK ADRIAN MOZES
Di hadapan pengunjung Kompas Karier Fair 2012, Sabtu (28/4/2012), Dahlan Iskan memaparkan pengalamannya berbisnis. Menteri BUMN ini mengaku pernah gagal beberapa kali berbisnis, sebelum akhirnya sukses menjadi pengusaha.
Di hadapan pengunjung Kompas Karier Fair 2012, Sabtu (28/4/2012), Dahlan Iskan memaparkan pengalamannya berbisnis. Menteri BUMN ini mengaku pernah gagal beberapa kali berbisnis, sebelum akhirnya sukses menjadi pengusaha.
Berita Terkait
- Wartawati Sepuh Itu Tampil Nyentrik
- Dahlan Iskan Rasakan May Day di Bundaran HI
- Dahlan Usul BUMN Kelola Tenaga Alih Daya
- Dahlan Iskan Akhirnya Penuhi Panggilan DPR
- Presiden Instruksikan Dahlan Hadir ke DPR
- Dahlan Kembali 'Check-Up' ke Cina
- Wartawan Tribun Jogja dan Wawasan Semarang Dipukuli
- AJI Desak Polisi Usut Kekerasan Terhadap Jurnalis
- Dahlan : Jabatan Dirut Pertamina Karen Diperpanjang
- Aniaya Wartawan Hingga Keguguran, Kades Didemo
PALEMBANG, TRIBUN - Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan mengajar para wartawan di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (11/6/2012), dalam program pelatihan wartawan tingkat madya angkatan pertama (L-1) Sekolah Jurnalisme Indonesia yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia Sumatera Selatan.
Dahlan yang juga wartawan dan pengusaha media itu menjawab sejumlah pertanyaan mengenai jurnalisme yang ditanyakan para wartawan, mulai dari teknik wawancara, cara penulisan, hingga etika jurnalistik menurut pandangannya. Ia tampil santai dengan kemeja putih dan sepatu kets dengan gaya bahasa akrab.
Dalam pertemuan tersebut, Dahlan menceritakan mempunyai panggilan wartawan juga didorong oleh kemiskinan. "Saya menjadi wartawan karena miskin. Di awal-awal jadi wartawan, menyewa rumah kontrakan kecil dan ke mana-mana naik angkutan umum," katanya.
Menurut Dahlan, pada masa lalu, banyak wartawan dari kalangan masyarakat miskin. Oleh karena itu, umumnya wartawan akan cenderung menyuarakan aspirasi masyarakat kecil.
Namun, kata dia, wartawan harus tetap obyektif dengan memahami kultur-kultur lain, seperti kultur masyarakat kaya atau golongan lain. (*)
Dahlan yang juga wartawan dan pengusaha media itu menjawab sejumlah pertanyaan mengenai jurnalisme yang ditanyakan para wartawan, mulai dari teknik wawancara, cara penulisan, hingga etika jurnalistik menurut pandangannya. Ia tampil santai dengan kemeja putih dan sepatu kets dengan gaya bahasa akrab.
Dalam pertemuan tersebut, Dahlan menceritakan mempunyai panggilan wartawan juga didorong oleh kemiskinan. "Saya menjadi wartawan karena miskin. Di awal-awal jadi wartawan, menyewa rumah kontrakan kecil dan ke mana-mana naik angkutan umum," katanya.
Menurut Dahlan, pada masa lalu, banyak wartawan dari kalangan masyarakat miskin. Oleh karena itu, umumnya wartawan akan cenderung menyuarakan aspirasi masyarakat kecil.
Namun, kata dia, wartawan harus tetap obyektif dengan memahami kultur-kultur lain, seperti kultur masyarakat kaya atau golongan lain. (*)
Editor : dar
Sumber : Kompas
