Palaguna Seperti Rumah Hantu
Tak Perhitungan
PENYEBARAN mal hanya menumpuk di lokasi tertentu. Bahkan, hanya dalam jarak satu kilometer, ditemui beberapa bangunan mal.
Penulis: Agung Yulianto Wibowo | Editor: Januar Pribadi Hamel
Taufiqurahman
Dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB
PENYEBARAN mal hanya menumpuk di lokasi tertentu. Bahkan, hanya dalam jarak satu kilometer, ditemui beberapa bangunan mal. Sebenarnya dalam konsep perumahan, harusnya ada pembangunan mal karena sangat membantu penghuni perumahan agar tidak keluar terlalu jauh.
Selain itu, bisa mengurangi arus lalu lintas yang berdampak pada kemacetan. Konsep selama ini penataan atau grand design-nya tidak jelas. Tidak memperhitungkan konsep pengurangan kemacetan. Apalagi ada yang dibangun tepat di pinggir jalan.
Banyaknya mal dengan jarak tertentu akan membuat beberapa mal mati dengan sendirinya. Hal itu terjadi karena kelebihan suplai dan konsumen tidak cukup untuk men-support. Kalau sudah seperti itu, harus didesain ulang peruntukan lahan bangunan.
Ada sejumlah mal yang mati dan berdiri di atas lahan milik Pemerintah Provinsi Jabar. Lahan itu bisa dialihkan menjadi taman kota karena lahannya dimiliki pemerintah. Konsep itu perlu dilakukan agar di Kota Bandung khususnya ada lahan hijau berbentuk taman.
Taman kota bisa dibuat kalau lahannya dimiliki pemerintah daerah. Biasanya lahan yang dibangun mal itu lahan sewa dalam waktu tertentu. Kalau lahan itu milik perseorangan, pemerintah tidak bisa melakukan apa-apa.
Di Babakan Siliwangi pernah ada ide untuk pembuatan mal atau hotel. Bisa saja, tetapi harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Seperti ada ruang rekreasi berbentuk taman kota atau tempat berolahraga.
Sebenarnya ada aturannya. Kalau bangunan dijadikan sebagai mal, sekian persen harus ada lahan hijau. Sementara ini kita lihat, banyak pembuat mal yang tidak melakukan hal tersebut. Padahal kalau difungsikan, bisa sangat asri dengan tata kota yang baik. Orang tidak hanya berbelanja, tetapi juga bisa berekreasi di luar ruangan. Aturan ini harus ditegakkan. (guy)