Dari Manchester City ke PSSI
SUKSES Manchester City merebut gelar juara Liga Inggris 20112012, adalah juga sukses mematahkan dominasi Manchester United. Namun sukses
Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Darajat Arianto
SUKSES Manchester City merebut gelar juara Liga Inggris 20112012, adalah juga sukses mematahkan dominasi Manchester United. Namun sukses pasukan Roberto Mancini itu tidak otomatis mengakhiri kedigjayaan MU. MU masih sebagai (salah satu) tim besar di Inggris dan Eropa bahkan dunia.
Satu yang pantas dicatat atas sukses The Citizens menjadi kampiun Liga Inggris tahun ini, adalah kenyataan bahwa kekuatan pasukan "Setan Merah" di bawah komando Alex Ferguson bukan sesuatu yang tidak bisa diruntuhkan. MU bukanlah tim untouchable.
Sukses Manchester City memang tidak bisa lepas dari kuasa uang. Dengan modal uang segunung milik Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, The Citizens berhasil mengikat Yaya Toure, Nigel De Jong, David Silva, Mario Balotelli, Edin Dzeko, Carlos Tevez, hingga Samir Nasri, Kolo Toure, dan Gael Clichy yang membuat Arsenal terseok menjalani kompetisi tahun ini.
Di Manchester pula terkumpul pemain-pemain papan atas yang namanya terdaftar di timnas Inggris, mulai dari kiper Joe Hart, Adam Johnson, Wayne Bridge, Micah Richard, dan Gareth Barry.
Namun tentu faktor Mancini juga punya peran besar atas sukses klub klub yang berdiri tahun 1880 ini. Sebagai pelatih, Mancini bukan saja menerapkan strategi bertanding yang pas. Pria asal Italia ini juga dicatat sebagai pemain yang tidak silau dan pantang tunduk kepada pemain bintang. Pemain bintang dan bengal seperti Tevez dan Balotelli tentu merasakan bagaimana tidak enaknya berseteru dengan Mancini.
Selain karena merasa sebagai bintang, Ketika pemain seperti Tevez dan Balotelli berani menentang Mancini juga karena keduanya memandang sebelah mata kemampuan pelatih flamboyan ini.
Pada saat Mancini disebut-sebut menerima tawaran untuk menukangi The Citizens, banyak pihak yang tidak meliriknya. Ferguson yang sukses bersama MU, termasuk dalam daftar mereka yang menganggap enteng Mancini.
Kini Mancini telah membuka mata banyak orang yang meremehkannya. Tahun ini Mancini telah membuat malu Ferguson dan Arsene Wenger yang lagi-lagi tidak kebagian gelar juara. Bukan tidak mungkin Mancini akan mencatat sukses seperti dilakukan Ferguson di MU. Peluang itu sangat terbuka paling tidak Mancini akan bertahan lama di Etihad Stadium.
Kehadiran Mancini bersama Manchester City juga merusak dominasi dan tradisi empat besar di klasemen Liga Inggris. Lihat saja, kini hanya MU dan Arsenal yang masih bertahan di empat besar. Chelsea dan Liverpool yang secara tradisi selalu mendampingi The Reds Devils dan The Gunners di posisi empat besar, kini harus menanggung malu terlempar dari posisi elit yang menyediakan tiket untuk tampil di Liga Champions itu.
Menurut mereka yang melek sepak bola, konon sukses The Citizens merebut tropi dari genggaman MU dan rusaknya tatanan posisi empat besar di klasemen Liga Primer, adalah buah dari sempurnanya sebuah kompetisi.
Saya tiba-tiba jadi teringat pada kompetisi dan pengelolaan sepak bola di tanah air. Kesimpulannya hanya satu: Jauh tanah ka langit!***