Kerja Sama
Para pencinta sepak bola yang gandrung dengan Persib pasti merasakan hal serupa. Selain degup jantunya kian kencang, beragam pertanyaan juga
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Darajat Arianto
"AKU enggak pernah nonton bola dag-dig sampe akhir (pertandingan). Soalnya gregetan, umpan bola salah mulu, kayak baru belajar aja," komentar kang Iwan, seorang kawan yang gila nonton bola saat laga Persib lawan Persipura. Pada laga akhir pekan lalu itu, Persib menyudahi dengan hasil mengecewakan, kalah 0-1 dari tim Mutiara Hitam karena Mohammad Nasuha handsball.
Kang Iwan tidak sendirian. Para pencinta sepak bola yang gandrung dengan Persib pasti merasakan hal serupa. Selain degup jantunya kian kencang, beragam pertanyaan juga berkecamuk, memutar-mutar di otak bak asap rokok jauh dari angin. Mengapa pemain seolah hanya melempar bola ke depan dan asal tidak mendekat ke gawang? Umpan dua satu kok gagal mulu? Kok pemain kelas tim nasional sukanya bawa bola sendirian? Main bola itu bukannya tim? Pemain egois kok dibeli? Lha, pemain asli Jabarnya mana? Itu hanya sebagian pertanyaan-pertanyaan pendukung Persib yang terekam. Saya yakin masih banyak pertanyaan lain, termasuk soal manajemen yang sejak awal musim tersandung gosip ketidakharmonisan. Belakangan, Manajer Persib Bandung, Umuh Muchtar menyatakan mundur.
Namun itu baru sepihak dan manajemen belum memberikan tanggapan resmi. Meskipun beritanya tersiar ke mana-mana, tapi bisa saja Umuh masih akan tetap bersama Persib. Apakah Umuh benar akan mundur, itu persoalan internal Persib dan bukan persoalan suporter. Tapi, sedikit atau banyak, keputusan Umuh tetap akan mempengaruhi kinerja tim, termasuk hasil tanding melawan Persiwa Wamena yang akan digelar Sabtu (5/5). Walaupun, pelatih dan pemain mengatakan tak akan berpengaruh dan fokus pada persiapan. Ingin hasil baik atau buruk? Tentu saja ingin hasil baik.
Balik lagi ke soal permainan tim Persib yang bikin jantungan pendukungnya, mereka seolah tak mau belajar dengan pengalaman kekalahan sebelumnya. Pola bermain tetap diulang. Emosi tak bisa diredam. Padahal mereka amat sadar bahwa tim harus main kompak dengan semangat berlipat, bukan menggandakan emosi.
Hampir semua pemain ketika ditanya wartawan mengatakan tim sudah kompak. Tapi, faktanya banyak bola meluncur tanpa arah. Bola banyak jatuh di kaki lawan. Endingnya bisa ditebak, Persib melempem campur emosi.
Kalau saja mereka benar-benar bisa bekerja sama, maka poin sempurna akan diperoleh dengan mudah. Malah tidak harus kehilangan banyak tenaga. Lo kok bisa? Ya bisa lah. Dengan kerja sama, pemain akan terus bertanggungjawab dengan tugasnya masing-masing. Mereka akan bermain efektif. Ah, kalau soal ini kang Robby pasti lebih jago.
"Yah pokonya kalau jadi bek ya jangan lupa pulang kalau ada serangan balik. Kalau dapat bola, umpan saja ke depan, jangan dibawa sendiri. Kalau gak perlu mendorong dan dapat kartu, ngapain dilakukan, gak penting banget," lanjut kang Iwan. Maksud saya demikian. Intinya, kerja sama itu mengesampingkan paradigma kompetisi. Ini sama artinya, kalau semua pemain ingin mencetak gol, maka yang terjadi adalah sebaliknya, kebobolan.
Pada laga besok, saran mantan pemain Persib Bambang Sukowiyono, pantas diperhatikan. Dia mengatakan, Persib wajib waspada dengan gerakan Persiwa. Dan yang penting, Maman Abdurahman dkk mampu mengedepankan kerja sama tim. Sebab, kelemahan Persib gagal meraih kemenangan di empat laga terakhir akibat kurangnya koordinasi antar pemain di setiap lini.
"Masih belum ada rasa saling pengertian antar pemain," ujar Suko ditemui wartawan di Stadion Persib, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Kamis (3/5) sore.
Kalah empat kali berturut-turut sudah cukup menjadikan pendonton jantungan. Jangan sampai, jantung penonton benar-benar copot. Jika ini terjadi, tidak saja penonton yang dirugikan, tapi nama besar Persib juga akan runtuh. (*)