Permintaan Jeroan Sapi Tinggi
Rochadi Tawaf berpendapat, berkaitan dengan isu sapi gila, memang, sebaiknya Jabar mewaspadai peredaran daging sapi asal AS.
Tayang:
Penulis: | Editor: Darajat Arianto
BANDUNG, TRIBUN -
Pengamat Peternakan Universitas Padjajaran (Unpad), Rochadi Tawaf
berpendapat, berkaitan dengan isu sapi gila, memang, sebaiknya Jabar
mewaspadai peredaran daging sapi asal AS. Dia menilai, sapi gila dapat
terdapat pada jeroan sapi.
Akan tetapi, sambungnya, sejauh ini, tingkat kebutuhan dan permintaan jeroan sapi impor pun masih cukup besar. "Biasanya, yang memerlukan jeroan sapi itu adalah mereka yang bergerak dalam industri masyarakat. Umpamanya, produsen bakso dan jenis makanan lainnya," kata Rochadi, Selasa (1/5).
Sebenarnya, pendapat Rochadi, publik di tatar Parahyangan tidak perlu mengkhawatirkan terjadinya kekurangan pasokan. Itu karena, terangnya, sejauh ini, Jabar masih mendapat pasokan daging sapi lokal sebesar 80 persen. "Impornya hanya 20 persen," pungkas Rochadi. (*)
Akan tetapi, sambungnya, sejauh ini, tingkat kebutuhan dan permintaan jeroan sapi impor pun masih cukup besar. "Biasanya, yang memerlukan jeroan sapi itu adalah mereka yang bergerak dalam industri masyarakat. Umpamanya, produsen bakso dan jenis makanan lainnya," kata Rochadi, Selasa (1/5).
Sebenarnya, pendapat Rochadi, publik di tatar Parahyangan tidak perlu mengkhawatirkan terjadinya kekurangan pasokan. Itu karena, terangnya, sejauh ini, Jabar masih mendapat pasokan daging sapi lokal sebesar 80 persen. "Impornya hanya 20 persen," pungkas Rochadi. (*)
KOMENTAR