Nasibmu Braga
Sabtu, 28 April 2012 15:29 WIB
* Machmud Mubarok, Wartawan Tribun
THEOTILO Braga mungkin tidak menyangka jika namanya menjadi inspirasi nama sebuah jalan di Kota Bandung. Penulis naskah drama itu memang menjadi rujukan sebuah kelompok drama yang didirikan orang-orang Belanda sekitar tahun tahun 1882 di Bandung.
Dari sebuah jalan pedati, Braga menjelma menjadi jalan kosmopolitan, kawasan elite yang menawarkan kesegaran nuansa Eropa di Tatar Priangan. Berjalan-jalan, berbelanja, dan bersenang-senang di Braga merupakan pusaran ria kaum elite Eropa dan pribumi di masa kolonial. Jadilah ngabaraga, berjalan- jalan di tepian sungai, menjadi sebuah parade kemewahan kaum bangsawan dan menak.
Kenangan itu pula yang ingin dikembalikan Pemkot Bandung, beberapa tahun lalu, dengan mengganti aspal Jalan Braga dengan batu andesit. Konon, kabarnya, jalan berandesit itu hanya untuk kaum pedestrian, kaum pejalan kaki.
Namun apa lacur, rencana tak selalu seiring sejalan dengan kenyataan. Yang terjadi, Jalan Braga berantakan dan setiap tahun harus diperbaiki. Jalan yang ditimang-timang bakal kembali menjadi pusat wisata Bandung itu malah menjadi
Setiap tahun, Pemkot harus mengeluarkan dana perawatan khusus untuk Braga, karena memang setiap tahun batu andesitnya hancur dipijak kendaraan yang lewat.
Suara-suara sumbang soal salah perencanaan awal saat penggantian aspal dengan batu andesit pun bermunculan. Soal inefisiensi alias pemborosan juga mengemuka, karena perbaikan Braga tak kunjung selesai.
Walaupun sekarang ini yang memperbaiki bukanlah Pemkot Bandung, melainkan pengembang hotel yang tengah membangun hotel di kawasan Braga, tetap saja menunjukkan bahwa kondisi Braga tak beranjak menjadi lebih bagus.
Perbaikan semacam ini tidak akan pernah selesai dan akan terus berlangsung, apabila batu andesit ini tetap dipaksakan untuk dipakai sebagai pengganti aspal, tanpa ada pengalihan arus lalu lintas.
Kalau memang menginginkan Braga kembali seperti Braga tempo dulu, tempat mejeng, atau rendezvous, hanya ada dua pilihan. Pertama, mengembalikan batu andesit ke aspal. Kedua, tetap menggunakan batu andesit dengan catatan arus kendaraan tidak ada yang melewati Jalan Braga. Jadi jalur nostalgia ini benarbenar hanya untuk pejalan kaki.
Itu semua tergantung kepada political will dari Pemkot Bandung. Kalau tidak disikapi segera, bukan mustahil Jalan Braga akan senasib dengan Gedung Lyceum SMAK Dago. Berkomentar dan memprotes keras setelah semuanya rata dengan tanah. (*)
THEOTILO Braga mungkin tidak menyangka jika namanya menjadi inspirasi nama sebuah jalan di Kota Bandung. Penulis naskah drama itu memang menjadi rujukan sebuah kelompok drama yang didirikan orang-orang Belanda sekitar tahun tahun 1882 di Bandung.
Dari sebuah jalan pedati, Braga menjelma menjadi jalan kosmopolitan, kawasan elite yang menawarkan kesegaran nuansa Eropa di Tatar Priangan. Berjalan-jalan, berbelanja, dan bersenang-senang di Braga merupakan pusaran ria kaum elite Eropa dan pribumi di masa kolonial. Jadilah ngabaraga, berjalan- jalan di tepian sungai, menjadi sebuah parade kemewahan kaum bangsawan dan menak.
Kenangan itu pula yang ingin dikembalikan Pemkot Bandung, beberapa tahun lalu, dengan mengganti aspal Jalan Braga dengan batu andesit. Konon, kabarnya, jalan berandesit itu hanya untuk kaum pedestrian, kaum pejalan kaki.
Namun apa lacur, rencana tak selalu seiring sejalan dengan kenyataan. Yang terjadi, Jalan Braga berantakan dan setiap tahun harus diperbaiki. Jalan yang ditimang-timang bakal kembali menjadi pusat wisata Bandung itu malah menjadi
Setiap tahun, Pemkot harus mengeluarkan dana perawatan khusus untuk Braga, karena memang setiap tahun batu andesitnya hancur dipijak kendaraan yang lewat.
Suara-suara sumbang soal salah perencanaan awal saat penggantian aspal dengan batu andesit pun bermunculan. Soal inefisiensi alias pemborosan juga mengemuka, karena perbaikan Braga tak kunjung selesai.
Walaupun sekarang ini yang memperbaiki bukanlah Pemkot Bandung, melainkan pengembang hotel yang tengah membangun hotel di kawasan Braga, tetap saja menunjukkan bahwa kondisi Braga tak beranjak menjadi lebih bagus.
Perbaikan semacam ini tidak akan pernah selesai dan akan terus berlangsung, apabila batu andesit ini tetap dipaksakan untuk dipakai sebagai pengganti aspal, tanpa ada pengalihan arus lalu lintas.
Kalau memang menginginkan Braga kembali seperti Braga tempo dulu, tempat mejeng, atau rendezvous, hanya ada dua pilihan. Pertama, mengembalikan batu andesit ke aspal. Kedua, tetap menggunakan batu andesit dengan catatan arus kendaraan tidak ada yang melewati Jalan Braga. Jadi jalur nostalgia ini benarbenar hanya untuk pejalan kaki.
Itu semua tergantung kepada political will dari Pemkot Bandung. Kalau tidak disikapi segera, bukan mustahil Jalan Braga akan senasib dengan Gedung Lyceum SMAK Dago. Berkomentar dan memprotes keras setelah semuanya rata dengan tanah. (*)
Penulis : mac
Editor : dar