Dahlan Iskan: Bisnis Itu seperti Naik Sepeda!
Sabtu, 28 April 2012 16:40 WIB
Share |
Dahlan_Iskan_RODERICK_ADRIAN_MOZES_KOMPAS.jpg
KOMPAS.COM/RODERICK ADRIAN MOZES
Di hadapan pengunjung Kompas Karier Fair 2012, Sabtu (28/4/2012), Dahlan Iskan memaparkan pengalamannya berbisnis. Menteri BUMN ini mengaku pernah gagal beberapa kali berbisnis, sebelum akhirnya sukses menjadi pengusaha.

JAKARTA, TRIBUN - Di hari terakhir pelaksanaan Kompas Karier Fair (KKF) 2012, Sabtu (28/4/2012), kehadiran Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan jadi semacam ajang pembelajaran diri pengunjung, khususnya soal motivasi bisnis. Dahlan Iskan mengaku pernah gagal beberapa kali berbisnis, sebelum akhirnya sukses menjadi pengusaha.

"Bisnis itu tidak ada pelajarannya, tidak ada pendidikannya, tidak ada literaturnya. Tidak ada bisnis yang dapat dilakukan setelah mengikuti seminar. Tapi, bisnis itu seperti naik sepeda," kata Dahlan dalam sesi talk show dengan pengunjung KKF 2012 di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu siang tadi.

Dahlan melanjutkan, berbisnis memang layaknya seseorang yang sedang belajar menaiki sepeda.

"Pertama-tama Anda pegang sepeda itu, menuntunnya, lalu menaikinya, dan coba menjalankannya. Setelah itu Anda terjatuh dan bangun lagi, serta akan terus berusaha untuk bisa menjalankan sepeda itu. Ya, seperti itulah bisnis," kata Dahlan.

Filosofi sepeda itu dipegang erat Dahlan dalam menjalankan tiap bisnis yang dilakoninya sehingga menjadi pengusaha dan kemudian dipercaya sebagai seorang menteri.

Dahlan menambahkan, ia pernah mempertahankan seorang pegawainya untuk tetap bekerja sekalipun telah membuat rugi perusahaannya. Karyawan tersebut telah membuat perusahaan yang didirikan Dahlan Iskan merugi hingga Rp 110 miliar.

"Waktu itu saya punya manajer keuangan, ketika saya masih di swasta. Dia itu wanita yang muda dan pintar. Sekolah di Amerika Serikat selama sembilan tahun," tutur Dahlan.

Dahlan memang mengungkapkan kisah dirinya setelah diminta salah seorang peserta pameran membagi pengalamannya saat menghadapi situasi sulit. Ia melanjutkan, suatu saat karyawatinya itu mengajukan konsep untuk membangun bisnis. Dahlan pun lantas mengizinkan uang perusahaannya sebesar Rp 10 miliar dipakai untuk membuka bisnis si karyawati tersebut.

"Kalau kita menaruh uang Rp 10 miliar, pihak Singapura memberikan pinjaman Rp 100 miliar. Kemudian, Rp 110 miliar itu diputar dan kita dapat hasilnya 15 persen setahun," terang Dahlan.

Kemudian, ketika terjadi krisis, uang yang terbilang besar itu pun raib. Karyawati tersebut menghadapi Dahlan dan menangis di depannya. Lantas, Dahlan pun berpikir untuk melihat niatan karyawati tersebut dalam melakukan bisnis derivatif itu. Dahlan mengaku tidak menemukan celah si karyawati ingin berbuat korupsi dengan uang perusahaannya.

"Dia menangis. Tapi, saya punya sikap sepanjang dia buat keputusan itu tidak dilatarbelakangi kepentingan pribadi, seperti korupsi. Maka, saya tidak boleh menindak dia," tegas Dahlan.

Ketika karyawati tersebut bertanya, apakah dia harus keluar dari perusahaan, Dahlan dengan tegas menjawab tidak. Hal itu dikatakannya sekalipun ada sejumlah pihak di dalam perusahaan yang menginginkan karyawati tersebut untuk berhenti dari pekerjaannya.

Dahlan beralasan, karyawati tersebut telah belajar dari kesalahannya. Kejadian buruk tersebut dianggapnya hanya risiko bisnis semata. Ia juga tidak rela jika pegawainya itu bekerja di perusahaan lain.

"Memang, saya rugi Rp 110 miliar. Tapi, manajer itu pernah membuat untung ratusan miliar," pungkas dia. (*)

Editor : dar
Sumber : Kompas